Timur Tengah Panas, Pemerintah Tegaskan Belum Ada Perubahan Penyelenggaraan Haji



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketegangan geopolitik yang masih menyelimuti kawasan Timur Tengah dipastikan tidak mengganggu rencana penyelenggaraan ibadah haji tahun 1447 H/2026 M. Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada perubahan jadwal keberangkatan jemaah ke tanah suci.

Kepala Biro Humas Kemenhaj, Hasan Afandi menyatakan, pemerintah tetap berpegang pada rencana awal dengan mempertimbangkan aktivitas ibadah umrah yang terpantau masih berjalan normal. 

"Hingga saat ini belum ada perubahan jadwal penyelenggaraan haji. Kami berkaca pada pelaksanaan umrah yang masih terus berjalan hingga saat ini," ujarnya kepada KONTAN, Rabu (25/3/2026).


Baca Juga: Puncak Arus Balik Mudik 2026 Diperkirakan Mulai Hari Ini Hingga Akhir Pekan

Hasan berharap kondisi perjalanan dari dan menuju Arab Saudi tetap kondusif bagi para jemaah. Meski demikian, pemerintah terus memperkuat pengawasan dan komunikasi dengan pihak-pihak terkait guna memastikan keamanan seluruh jemaah Indonesia di tengah situasi regional yang dinamis.

"Semoga kondisi perjalanan pergi dan pulang ke Arab Saudi serta di Arab Saudi lebih kondusif. Namun, kami tetap melakukan koordinasi intensif dengan Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Perhubungan agar pelaksanaan haji berlangsung aman dan sesuai jadwal," terangnya.

Mengenai skema transportasi udara, Hasan menjelaskan, penerbangan jemaah haji reguler relatif aman karena menggunakan sistem penerbangan langsung (direct flight). Saat ini, kendala operasional justru membayangi penerbangan yang harus melakukan transit di negara-negara Timur Tengah lainnya.

"Penerbangan jemaah haji reguler menggunakan penerbangan direct. Dengan kondisi saat ini, Insya Allah tetap sesuai jadwal. Yang sedang kami perhatikan saat ini, untuk dimitigasi, adalah keberangkatan jemaah haji khusus yang menggunakan penerbangan transit," jelasnya.

Sebagai informasi, total kuota jemaah haji Indonesia tahun 2026 mencapai 221.000 jemaah. Secara terperinci, kuota tersebut terdiri dari 203.320 jemaah haji reguler yang akan diberangkatkan melalui 16 embarkasi, serta 17.680 jemaah untuk kategori haji khusus.

Saat ini, pemerintah telah menyiapkan tiga skenario mitigasi untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan yang terjadi di lapangan ihwal konflik Timur Tengah terhadap penyelenggaraan ibadah haji 2026.

Skenario pertama, Arab Saudi tetap membuka layanan dan Indonesia tetap memberangkatkan jemaah dengan mitigasi jalur udara yang lebih jauh. Risiko dari skenario ini adalah pembengkakan biaya penerbangan yang akan menambah beban anggaran haji.

Skenario kedua, Arab Saudi membuka layanan namun Indonesia memutuskan membatalkan keberangkatan. Skenario ketiga, Arab Saudi menutup total layanan sehingga Indonesia terpaksa membatalkan keberangkatan jemaah, yang berfokus pada penyelamatan anggaran dan prioritas antrean tahun depan.

Baca Juga: Prabowo Akui Penerimaan Negara Mulai Meningkat Usai Bersihkan Internal Pajak

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News