MEMUTAR nasib dari seorang biasa menjadi seorang berpunya tak semudah membalik tangan. Namun, Huan Zainal Abidin, bapak dua anak asal Agam, Sumatera Barat, telah membuktikan bahwa hal itu bisa dilakukan. Huan sekarang kondang sebagai distributor kaos kaki terbesar di Kota Gudeg. Usahanya telah menghidupkan roda perdagangan di bagian timur Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Padahal, bagian ini sejatinya tak seramai Beringharjo bagian barat. Huan juga menguasai distribusi kaos kaki di pasar Klithikan, Pakuncen. Namun, Huan melakoni perjuangan panjang untuk mencapai kesuksesan itu. Ketika muda, Huan harus meninggalkan Agam lantaran keadaan ekonomi keluarganya tidak memadai. Maklum, orang tuanya hanya pegawai negeri. Sebagai anak laki-laki pertama, Huan merasa ikut bertanggung jawab atas ekonomi keluarganya. Ia pun memutuskan untuk merantau ke Pulau Jawa, tepatnya ke ibukota Jakarta, selepas SMA tahun 1991. Di Jakarta, Huan tinggal bersama saudaranya. Ketika saudaranya pindah ke Jogja, Huan pun ikut pindah. Ketika tiba di Jawa, sebenarnya Huan tak memiliki modal sepeser pun. Untungnya, saudaranya memberikan gaji Rp 1.000 per hari. Syaratnya, Huan membantu di toko batik miliknya. "Dengan gaji segitu, saya bertahan berjualan batik hingga 1,5 tahun," kenangnya. Lepas dari toko saudaranya, Huan pindah bekerja kepada orang lain di gerai kaki lima Jalan Malioboro. Kali ini, gajinya meningkat jadi Rp 5.000 per hari. Dasar dewi fortuna sedang memihaknya, di tahun yang sama, seorang teman kosnya menawarkan untuk menjadi distributor sebuah produk kaos kaki asal Bandung. Huan langsung menyambut tawaran itu. Dengan modal Rp 24.000, ia membeli tiga lusin kaos kaki dan memulai bisnisnya sendiri. Lantaran kondisi kaos kaki itu dalam keadaan kurang bagus, Huan harus memperbaiki dahulu. Ia juga memberi tambahan pembungkus plastik agar terlihat bersih. "Saya pun mulai menjajakannya door to door keliling Jogja," tuturnya. Kaos kaki yang ia beli seharga Rp 6.000 sampai Rp 9.000 per lusin ia jual seharga Rp 12.000 sampai Rp 18.000 per lusin. "Omzet saya waktu itu sampai Rp 17 juta sebulan, dengan margin laba hampir separuh," kata Huan. Dengan modal hasil penjualan keliling itu, Huan pun berani menyunting putri ibu kosnya di tahun 1994. Peruntungan Huan makin moncer saat putra pertamanya, Debbie, lahir di tahun 1995. "Mungkin sudah takdir Tuhan, karena saya sudah punya anak, rezeki saya dilapangkan," ujar Huan sembari tertawa. Pada tahun yang sama dengan kelahiran anaknya, Huan mulai mencari dagangan kaos kaki baru di Tanah Abang dan Jatinegara, Jakarta. Lantaran kualitas produknya lebih bagus, usaha kaos kaki Huan maju pesat. "Tiap malam, istri saya masih membantu saya membungkus kaos kaki impor yang saya beli di Tanah Abang dan di Jatinegara," ujarnya. Setelah usaha kaos kakinya stabil, Huan Zainal Abidin pun mulai berpikir memperluas usahanya. Di tahap awal, dia mencoba memperbesar omzet dengan memperbesar stok barang. Untuk itu, Huan mengajukan pinjaman ke Bank Danamon. Di 2005, ia berhasil mendapat kredit sebesar Rp 60 juta. "Uang itu untuk tambahan modal belanja kaos kaki," ujarnya. Lantaran roda perputaran bisnisnya sehat, dalam dua tahun pinjaman tersebut lunas. Tak berapa lama kemudian, Huan kembali mengajukan pinjaman. Kali ini lelaki asal Minang Kabau ini mendapat kucuran kredit Rp 400 juta. Dengan duit itu, Huan menjajal bisnis grosir pakaian bayi sekaligus membuka toko pakaian bayi. Menurut Huan, bisnis pakaian bayi dekat dengan bisnis kaos kaki. "Biasanya orang tanya pakaian bayi juga tanya kaos kaki. Itulah mengapa saya nekat memasuki bisnis pakaian bayi ini," terangnya. Insting bisnis Huan memang mantap. Ia sukses di bisnis grosir pakaian bayi. Saat ini, ia bisa membukukan omzet Rp 50 juta per bulan dari penjualan pakaian bayi. Rahasia sukses Huan, antara lain adalah karena dia fokus menjajakan pakaian untuk bayi yang baru lahir sampai usia satu tahun. "Grosir semacam ini belum banyak dilirik pemain lain. Saat ini boleh dibilang, saya yang terbesar untuk segmen pakaian bayi usia setahun ke bawah," ujarnya sumringah. Huan menuturkan, omzet di bisnis grosir pakaian bayi biasanya melesat saat Lebaran. Dalam periode itu, omzet Huan melonjak sampai Rp 70 juta sebulan. Sukses di bisnis kaos kaki dan pakaian bayi tidak membuat Huan berpuas diri. Setelah semua pinjamannya ke bank lunas, di awal tahun 2009, Huan kembali mengajukan kredit. Kali ini ia mendapat pinjaman Rp 1,2 miliar. Pria asal Agam, Sumatera Barat ini menggunakan kredit yang cukup besar tersebut untuk masuk ke bisnis pakaian dalam, terutama pakaian dalam wanita hasil impor dari China. "Saya pilih yang buatan China lantaran bahannya halus dan aman untuk kulit," jelas Huan. Lagi-lagi keputusan Huan masuk ke bisnis ini tepat. Kini, dalam sebulan, dia bisa mengantongi omzet Rp 125 juta dari penjualan pakaian dalam impor. Oh ya, selain untuk membiayai bisnis pakaianj dalam, Huan juga memanfaatkan kredit sebesar Rp 1,2 miliar tersebut untuk membangun gudang penyimpanan stok barang. Ia juga membeli kios baru di Pasar Klithikan, Yogyakarta. "Yang mengelola adik terkecil saya," katanya. Lantaran selalu tepat waktu membayar angsuran, Bank Danamon menganugerahi Huan penghargaan sebagai pedagang pasar lokal yang berhasil pada 2007 silam. "Penghargaan ini memicu semangat saya untuk bekerja lebih keras demi masa depan anak saya," ujarnya. Meski demikian, ada juga pengalaman pahit yang sempat dialaminya. Tertipu rekan bisnis memang pengalaman paling menyakitkan. Ia tertipu sampai Rp 70 juta. "Gara-gara terlalu percaya sama teman," ujarnya. Waktu itu, seorang rekan bisnis mengambil ambil kaos kaki dari Huan. Seperti pedagang lain, ia menerapkan sistem pembayaran di belakang. Tapi, ketika jatuh tempo, sang teman menghilang. "Saya memaafkannya, tapi tak melupakan kejadiannya," tutur Huan. Kejadian ini mengubah cara dagang Huan. Kepada semua pembelinya, perantau asal Sumatera Barat ini meminta pembayaran di muka alias tunai. "Sejak tertipu saya susah percaya," katanya. Selain mengubah cara pembayaran, pengalaman tertipu juga membuat Huan lebih waspada. Ia menjadi lebih cepat tanggap ketika bisnisnya akan mengalami situasi sangat sulit. Contohnya ketika menghadapi krisis ekonomi. Begitu muncul gejala resesi ekonomi global pada pertengahan 2008 lalu, Huan sudah siap siaga. Ia menyiapkan cara dagang di luar kebiasaannya selama ini. Ketika pedagang lain hanya mengandalkan penjualan di pasar, Huan memilih keluar dari toko. Ia membeli sebuah mobil Carry keluaran tahun 2000 untuk berdagang keliling. Dengan tak berdiam diri di pasar, ia yakin, saat krisis menghebat, usahanya tak akan ikut tergulung. Huan berdagang keliling ditemani sopir dan satu tenaga pemasar. Sasarannya adalah pasar-pasar di daerah sekitar Yogyakarta. Misal Gombong, Kudus, Magelang, Wonosobo, dan Semarang. Ketika cara tersebut sudah mulai berjalan lancar, Huan kembali mengurus bisnis utamanya sebagai pedagang grosir. "Saya sudah percaya dengan sopirnya. Makanya saya berani lepas," ujarnya. Sekali angkut, satu mobil bisa membawa sekitar 700 lusin kaos kaki. "Supirnya saya target dan pembayarannya sistem bagi hasil. Tiga hari sekali boleh pulang sekaligus setor," ujar Huan yang saat ini mempekerjakan sekitar 10 karyawan ini. Hasilnya diluar perkiraan Huan. Kendati sistem mobil keliling ini baru berjalan sebulan, omzetnya sudah mencapai Rp 25 juta. "Bersihnya, setelah dipotong biaya bensin dan sebagainya, saya bisa dapat Rp 400.000 sehari," ujar bapak dua anak ini sumringah. Selain berdagang dengan mobil keliling, Huan juga menghalau krisis dengan menjual produk ke toko-toko swalayan di Jogja dan di luar Jogja. "Ada lebih dari 10 swalayan besar yang bekerjasama dengan saya," ujarnya. Meski jumlah pasokannya tak banyak, namun langkah tersebut mampu membuat Huan melewati krisis dengan santai. "Dengan menyetor ke swalayan-swalayan tersebut, omzet saya di tahun krisis ini stabil," katanya. Saat ini Huan mengelola bisnis yang beromzet lebih dari Rp 1,5 miliar perbulan. Selain terus merancang strategi pemasaran, ia juga rajin mengontrol bisnisnya di pasar Klithikan, Pakuncen, yang dikelola sang adik. Sebagai pebisnis, Huan tentu saja belum merasa puas. Di puncak karirnya sekarang, Huan tetap punya mimpi. "Saya ingin memproduksi kaos kaki, pakaian bayi atau pakaian dalam dengan merek sendiri," ujarnya.Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tinggalkan Sumatera, Jadi Raja Kaos Kaki di Jogja
MEMUTAR nasib dari seorang biasa menjadi seorang berpunya tak semudah membalik tangan. Namun, Huan Zainal Abidin, bapak dua anak asal Agam, Sumatera Barat, telah membuktikan bahwa hal itu bisa dilakukan. Huan sekarang kondang sebagai distributor kaos kaki terbesar di Kota Gudeg. Usahanya telah menghidupkan roda perdagangan di bagian timur Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Padahal, bagian ini sejatinya tak seramai Beringharjo bagian barat. Huan juga menguasai distribusi kaos kaki di pasar Klithikan, Pakuncen. Namun, Huan melakoni perjuangan panjang untuk mencapai kesuksesan itu. Ketika muda, Huan harus meninggalkan Agam lantaran keadaan ekonomi keluarganya tidak memadai. Maklum, orang tuanya hanya pegawai negeri. Sebagai anak laki-laki pertama, Huan merasa ikut bertanggung jawab atas ekonomi keluarganya. Ia pun memutuskan untuk merantau ke Pulau Jawa, tepatnya ke ibukota Jakarta, selepas SMA tahun 1991. Di Jakarta, Huan tinggal bersama saudaranya. Ketika saudaranya pindah ke Jogja, Huan pun ikut pindah. Ketika tiba di Jawa, sebenarnya Huan tak memiliki modal sepeser pun. Untungnya, saudaranya memberikan gaji Rp 1.000 per hari. Syaratnya, Huan membantu di toko batik miliknya. "Dengan gaji segitu, saya bertahan berjualan batik hingga 1,5 tahun," kenangnya. Lepas dari toko saudaranya, Huan pindah bekerja kepada orang lain di gerai kaki lima Jalan Malioboro. Kali ini, gajinya meningkat jadi Rp 5.000 per hari. Dasar dewi fortuna sedang memihaknya, di tahun yang sama, seorang teman kosnya menawarkan untuk menjadi distributor sebuah produk kaos kaki asal Bandung. Huan langsung menyambut tawaran itu. Dengan modal Rp 24.000, ia membeli tiga lusin kaos kaki dan memulai bisnisnya sendiri. Lantaran kondisi kaos kaki itu dalam keadaan kurang bagus, Huan harus memperbaiki dahulu. Ia juga memberi tambahan pembungkus plastik agar terlihat bersih. "Saya pun mulai menjajakannya door to door keliling Jogja," tuturnya. Kaos kaki yang ia beli seharga Rp 6.000 sampai Rp 9.000 per lusin ia jual seharga Rp 12.000 sampai Rp 18.000 per lusin. "Omzet saya waktu itu sampai Rp 17 juta sebulan, dengan margin laba hampir separuh," kata Huan. Dengan modal hasil penjualan keliling itu, Huan pun berani menyunting putri ibu kosnya di tahun 1994. Peruntungan Huan makin moncer saat putra pertamanya, Debbie, lahir di tahun 1995. "Mungkin sudah takdir Tuhan, karena saya sudah punya anak, rezeki saya dilapangkan," ujar Huan sembari tertawa. Pada tahun yang sama dengan kelahiran anaknya, Huan mulai mencari dagangan kaos kaki baru di Tanah Abang dan Jatinegara, Jakarta. Lantaran kualitas produknya lebih bagus, usaha kaos kaki Huan maju pesat. "Tiap malam, istri saya masih membantu saya membungkus kaos kaki impor yang saya beli di Tanah Abang dan di Jatinegara," ujarnya. Setelah usaha kaos kakinya stabil, Huan Zainal Abidin pun mulai berpikir memperluas usahanya. Di tahap awal, dia mencoba memperbesar omzet dengan memperbesar stok barang. Untuk itu, Huan mengajukan pinjaman ke Bank Danamon. Di 2005, ia berhasil mendapat kredit sebesar Rp 60 juta. "Uang itu untuk tambahan modal belanja kaos kaki," ujarnya. Lantaran roda perputaran bisnisnya sehat, dalam dua tahun pinjaman tersebut lunas. Tak berapa lama kemudian, Huan kembali mengajukan pinjaman. Kali ini lelaki asal Minang Kabau ini mendapat kucuran kredit Rp 400 juta. Dengan duit itu, Huan menjajal bisnis grosir pakaian bayi sekaligus membuka toko pakaian bayi. Menurut Huan, bisnis pakaian bayi dekat dengan bisnis kaos kaki. "Biasanya orang tanya pakaian bayi juga tanya kaos kaki. Itulah mengapa saya nekat memasuki bisnis pakaian bayi ini," terangnya. Insting bisnis Huan memang mantap. Ia sukses di bisnis grosir pakaian bayi. Saat ini, ia bisa membukukan omzet Rp 50 juta per bulan dari penjualan pakaian bayi. Rahasia sukses Huan, antara lain adalah karena dia fokus menjajakan pakaian untuk bayi yang baru lahir sampai usia satu tahun. "Grosir semacam ini belum banyak dilirik pemain lain. Saat ini boleh dibilang, saya yang terbesar untuk segmen pakaian bayi usia setahun ke bawah," ujarnya sumringah. Huan menuturkan, omzet di bisnis grosir pakaian bayi biasanya melesat saat Lebaran. Dalam periode itu, omzet Huan melonjak sampai Rp 70 juta sebulan. Sukses di bisnis kaos kaki dan pakaian bayi tidak membuat Huan berpuas diri. Setelah semua pinjamannya ke bank lunas, di awal tahun 2009, Huan kembali mengajukan kredit. Kali ini ia mendapat pinjaman Rp 1,2 miliar. Pria asal Agam, Sumatera Barat ini menggunakan kredit yang cukup besar tersebut untuk masuk ke bisnis pakaian dalam, terutama pakaian dalam wanita hasil impor dari China. "Saya pilih yang buatan China lantaran bahannya halus dan aman untuk kulit," jelas Huan. Lagi-lagi keputusan Huan masuk ke bisnis ini tepat. Kini, dalam sebulan, dia bisa mengantongi omzet Rp 125 juta dari penjualan pakaian dalam impor. Oh ya, selain untuk membiayai bisnis pakaianj dalam, Huan juga memanfaatkan kredit sebesar Rp 1,2 miliar tersebut untuk membangun gudang penyimpanan stok barang. Ia juga membeli kios baru di Pasar Klithikan, Yogyakarta. "Yang mengelola adik terkecil saya," katanya. Lantaran selalu tepat waktu membayar angsuran, Bank Danamon menganugerahi Huan penghargaan sebagai pedagang pasar lokal yang berhasil pada 2007 silam. "Penghargaan ini memicu semangat saya untuk bekerja lebih keras demi masa depan anak saya," ujarnya. Meski demikian, ada juga pengalaman pahit yang sempat dialaminya. Tertipu rekan bisnis memang pengalaman paling menyakitkan. Ia tertipu sampai Rp 70 juta. "Gara-gara terlalu percaya sama teman," ujarnya. Waktu itu, seorang rekan bisnis mengambil ambil kaos kaki dari Huan. Seperti pedagang lain, ia menerapkan sistem pembayaran di belakang. Tapi, ketika jatuh tempo, sang teman menghilang. "Saya memaafkannya, tapi tak melupakan kejadiannya," tutur Huan. Kejadian ini mengubah cara dagang Huan. Kepada semua pembelinya, perantau asal Sumatera Barat ini meminta pembayaran di muka alias tunai. "Sejak tertipu saya susah percaya," katanya. Selain mengubah cara pembayaran, pengalaman tertipu juga membuat Huan lebih waspada. Ia menjadi lebih cepat tanggap ketika bisnisnya akan mengalami situasi sangat sulit. Contohnya ketika menghadapi krisis ekonomi. Begitu muncul gejala resesi ekonomi global pada pertengahan 2008 lalu, Huan sudah siap siaga. Ia menyiapkan cara dagang di luar kebiasaannya selama ini. Ketika pedagang lain hanya mengandalkan penjualan di pasar, Huan memilih keluar dari toko. Ia membeli sebuah mobil Carry keluaran tahun 2000 untuk berdagang keliling. Dengan tak berdiam diri di pasar, ia yakin, saat krisis menghebat, usahanya tak akan ikut tergulung. Huan berdagang keliling ditemani sopir dan satu tenaga pemasar. Sasarannya adalah pasar-pasar di daerah sekitar Yogyakarta. Misal Gombong, Kudus, Magelang, Wonosobo, dan Semarang. Ketika cara tersebut sudah mulai berjalan lancar, Huan kembali mengurus bisnis utamanya sebagai pedagang grosir. "Saya sudah percaya dengan sopirnya. Makanya saya berani lepas," ujarnya. Sekali angkut, satu mobil bisa membawa sekitar 700 lusin kaos kaki. "Supirnya saya target dan pembayarannya sistem bagi hasil. Tiga hari sekali boleh pulang sekaligus setor," ujar Huan yang saat ini mempekerjakan sekitar 10 karyawan ini. Hasilnya diluar perkiraan Huan. Kendati sistem mobil keliling ini baru berjalan sebulan, omzetnya sudah mencapai Rp 25 juta. "Bersihnya, setelah dipotong biaya bensin dan sebagainya, saya bisa dapat Rp 400.000 sehari," ujar bapak dua anak ini sumringah. Selain berdagang dengan mobil keliling, Huan juga menghalau krisis dengan menjual produk ke toko-toko swalayan di Jogja dan di luar Jogja. "Ada lebih dari 10 swalayan besar yang bekerjasama dengan saya," ujarnya. Meski jumlah pasokannya tak banyak, namun langkah tersebut mampu membuat Huan melewati krisis dengan santai. "Dengan menyetor ke swalayan-swalayan tersebut, omzet saya di tahun krisis ini stabil," katanya. Saat ini Huan mengelola bisnis yang beromzet lebih dari Rp 1,5 miliar perbulan. Selain terus merancang strategi pemasaran, ia juga rajin mengontrol bisnisnya di pasar Klithikan, Pakuncen, yang dikelola sang adik. Sebagai pebisnis, Huan tentu saja belum merasa puas. Di puncak karirnya sekarang, Huan tetap punya mimpi. "Saya ingin memproduksi kaos kaki, pakaian bayi atau pakaian dalam dengan merek sendiri," ujarnya.Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News