Tingginya harga telur dipengaruhi produksi jagung



YOGYAKARTA. Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (Disperindagkop UMKM) memprediksikan tingginya harga telur ayam di daerah itu disebabkan menurunnya produksi jagung sebagai bahan pakan ternak.

"Harga telur ayam kenaikannya dipengaruhi persoalan pakan dengan bahan baku jagung," kata Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian Perdagangan, Koperasi dan UMKM DIY Eko Witoyo di Yogyakarta, Minggu (7/2).

Ia mengatakan berdasarkan hasil pemantauan pada 5 Februari 2016 harga telur ayam broiler di beberapa pasar induk di Yogyakarta masih berkisar Rp21.833 per kilogram atau mengalami penurunan dari Januari 2016 yang sebelumnya masih berkisar Rp22.847 per kg.


Meski demikian, kata Eko, rata-rata harga tersebut masih tergolong tinggi dibandingkan kondisi normal selama 2015 yang masih mencapai Rp18.000 per kg.

Kebutuhan masyarakat DIY terhadap telur ayam mencapai 51 ton per hari, 30 persen di antaranya dipasok dari daerah lain seperti Jawa Tengah.

Sementara itu, untuk harga jagung pipilan kering sebagai bahan pakan ternak ayam di pasaran saat ini mencapai Rp5.833 per kg, bahkan pernah mencapai Rp7.000 per kg. Harga itu naik dari kondisi normal yang biasanya berkisar Rp4.000 per kg.

"Petani jagung di Bantul banyak yang tidak panen, sehingga kini banyak mengambil dari luar," kata dia.

Oleh sebab itu, menurut dia, saat ini Disperindagkop DIY masih menunggu Bulog DIY menjalankan fungsi barunya sebagai stabilisator 11 komoditas utama termasuk jagung.

"Kami berharap Bulog nanti dapat menormalkan kembali harga jagung," kata dia.

Selain persoalan pakan, menurut dia, tingginya harga telur juga kemungkinan dipengaruhi anomali atau penyimpangan cuaca.

Kondisi cuaca yang tidak menentu, menurut dia, mempengaruhi produktivitas ayam petelur.

"Kondisi cuaca panas lalu hujan secara tidak menentu memicu ayam ternak sulit bertelur," kata dia.

Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog) Divisi Regional DIY Sugit Tedjo Mulyono mengatakan siap menjalankan fungsi sebagai stabilisator 11 komoditas strategis yaitu beras, jagung, kedelai, daging sapi, daging ayam, gula, telur, cabai, bawang, terigu dan minyak goreng.

Meski demikian, menurut dia, hingga saat ini untuk Bulog DIY belum ditunjuk oleh Bulog pusat guna menjalankan fungsi tersebut.

"Meski untuk DIY belum ada tugas khusus, tapi kami sudah mempelajari kebutuhan infrastrukturnya dengan baik," kata dia.

Untuk saat ini, kata Sugit program pemenuhan 11 komoditas itu telah dijalankan oleh Bulog di tiga provinsi yang paling membutuhkan pasokan komoditas tersebut yaitu Jawa Timur, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.

"Tiga provinsi itu dipilih karena benar-benar sedang mengalami lonjakan harga komoditas," kata dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Dikky Setiawan