Tingkat Pengangguran Australia Naik ke 4,5%, Tertinggi Hampir 5 Tahun



KONTAN.CO.ID - Tingkat pengangguran Australia meningkat ke level tertinggi sejak akhir 2021 pada Juli 2026.

Kondisi ini terjadi setelah jumlah tenaga kerja secara tak terduga menurun, sehingga mengurangi tekanan bagi Reserve Bank of Australia (RBA) untuk kembali menaikkan suku bunga.

Baca Juga: Citi, HSBC, dan Standard Chartered Adopsi AI Ant International untuk Valas


Mengutip Reuters pada Kamis (20/8/2026), data Australian Bureau of Statistics (ABS) menunjukkan jumlah tenaga kerja bersih turun 15.800 orang pada Juli dibandingkan Juni.

Padahal, ekonom memperkirakan jumlah pekerja bertambah sekitar 15.000 orang.

Pada Juni, jumlah tenaga kerja sebelumnya melonjak 80.300 orang berdasarkan data yang telah direvisi.

Meski demikian, jumlah pekerja penuh waktu masih meningkat 16.300 orang pada Juli.

Tingkat pengangguran Australia naik menjadi 4,5% dari 4,4% pada bulan sebelumnya. Angka tersebut juga lebih tinggi dari perkiraan ekonom yang memperkirakan tingkat pengangguran bertahan di 4,4%.

Sementara itu, tingkat partisipasi angkatan kerja turun menjadi 66,9%. Jumlah jam kerja juga berkurang 0,6%, sedangkan tingkat setengah menganggur atau underemployment bertahan di 6,4%.

Baca Juga: GLOBAL MARKETS - Obligasi Stabil Setelah AS Redam Gejolak Pasar & Saham Asia Menguat

Tekanan Kenaikan Suku Bunga Berkurang

Data ketenagakerjaan yang melemah membuat tekanan terhadap RBA untuk menaikkan suku bunga kembali berkurang.

RBA menilai kondisi pasar tenaga kerja telah sedikit melonggar. Pertimbangan tersebut menjadi salah satu alasan bank sentral mempertahankan suku bunga di 4,35% pada pekan lalu setelah melakukan tiga kali kenaikan suku bunga sepanjang tahun ini.

Data terpisah yang dirilis pada Rabu menunjukkan pertumbuhan upah Australia tetap moderat untuk kuartal kelima berturut-turut.

Meski demikian, para pembuat kebijakan RBA masih membuka kemungkinan pengetatan lebih lanjut apabila risiko inflasi kembali meningkat.

Sejumlah risiko yang menjadi perhatian antara lain konflik di Timur Tengah, lonjakan investasi global di sektor kecerdasan buatan (AI), serta produktivitas yang lemah dan membatasi potensi pertumbuhan ekonomi Australia.

Wakil Gubernur RBA Andrew Hauser mengatakan, bank sentral masih membutuhkan bukti perlambatan lebih lanjut di pasar tenaga kerja.

RBA sebelumnya memperkirakan tingkat pengangguran akan meningkat menjadi 4,5% pada akhir 2026, sebelum mencapai puncak sekitar 4,8% pada 2028.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Stabil Kamis (20/8), Brent ke US$91,87 dan WTI ke US$85,81

Dolar Australia Tertekan

Pasar keuangan masih terbelah mengenai kemungkinan RBA melakukan kenaikan suku bunga keempat tahun ini.

Perkembangan inflasi selanjutnya akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah kebijakan moneter.

Setelah data ketenagakerjaan dirilis, dolar Australia melemah 0,2% menjadi US$0,7111.

Dengan pasar tenaga kerja yang mulai kehilangan momentum, ruang bagi RBA untuk mempertahankan suku bunga tanpa kenaikan tambahan menjadi lebih besar, meski keputusan akhir tetap bergantung pada perkembangan inflasi dan kondisi ekonomi secara keseluruhan.

Baca Juga: AIA Group Catat Kenaikan 10% Nilai Bisnis Baru pada Semester I 2026