KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatat, premi lini asuransi
engineering atau rekayasa terkontraksi 14,1% secara tahunan atau
Year on Year (YoY), menjadi sebesar Rp 2,37 triliun pada semester I-2026. PT Asuransi Asei Indonesia menilai ada sejumlah upaya yang bisa diterapkan industri asuransi umum untuk meningkatkan kinerja lini asuransi
engineering ke depannya. Direktur Utama Asuransi Asei Dody Dalimunthe menerangkan salah satu upayanya, yaitu mengubah pendekatan dari
project-driven menjadi
risk-driven. Dalam konteks itu, dia bilang industri jangan hanya menunggu proyek besar, kemudian bersaing melalui harga.
"Perusahaan asuransi perlu masuk lebih awal ke dalam
project ecosystem bersama pemilik proyek, kontraktor, konsultan, bank, dan broker. Dengan demikian, memahami risiko sejak tahap
design, financing, construction sampai
commissioning," ujarnya kepada Kontan, Selasa (22/9/2026).
Baca Juga: MK Putuskan Syarat Klaim Wajib Ada di Polis Asuransi, Ini Efeknya ke Industri Selain itu, Dody menyampaikan perusahaan asuransi juga perlu memperluas sumber bisnis, agar ketergantungan pada proyek pemerintah perlu dikurangi dengan memperbesar penetrasi pada proyek swasta dan sektor-sektor baru, seperti
manufacturing,
data center, renewable energy, kawasan industri,
logistics infrastructure, serta
downstreaming. Dody bilang perusahaan asuransi juga perlu memperkuat kualitas
underwriting, sehingga pertumbuhan
engineering tidak boleh hanya mengejar volume premi. Dia menerangkan proyek
engineering sebenarnya mempunyai karakter risiko yang kompleks dan
severity yang tinggi. Oleh karena itu,
pricing harus berbasis risiko, didukung
engineering survey, risk assessment, kualitas kontraktor, desain proyek,
construction methodology, pengalaman kontraktor, hingga kualitas
reinsurance arrangement. Lebih lanjut, Dody menyampaikan bahwa asuransi
engineering bukan sekadar produk untuk mengasuransikan pembangunan fisik, melainkan menjadi bagian dari ekosistem pembiayaan dan investasi. Dia bilang makin besar investasi dan kompleks proyeknya, tentu makin penting juga mekanisme transfer risikonya.
Baca Juga: BEI Soroti Kinerja Saham BTPS, BTPN Syariah Buka Suara "Oleh karena itu, tantangan saat ini bukan hanya upaya meningkatkan premi, melainkan industri perlu menemukan kembali sumber pertumbuhan baru dan menjadi bagian dari rantai nilai proyek sejak awal," katanya.
Dengan pendekatan tersebut, Dody menyebut pertumbuhan akan lebih sehat karena ditopang oleh kualitas risiko, diversifikasi portofolio, dan sektor-sektor ekonomi yang memang sedang berkembang. Sebagai informasi, data AAUI mencatat, nilai klaim lini asuransi
engineering mencapai Rp 1,59 triliun pada semester I-2026, atau meningkat 78,5% secara YoY. Adapun lini asuransi
engineering berkontribusi sebesar 4,1% terhadap total premi industri asuransi umum. Secara total, asuransi umum mencatatkan premi sebesar Rp 58,19 triliun. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News