Tingkatkan Pasokan Listrik, Jepang Berencana Bangun Kembali Pembangkit Nuklir Tua



KONTAN.CO.ID - TOKYO. Jepang berencana membangun kembali sekitar dua hingga lima reaktor nuklir yang sudah tua pada tahun 2040-an dan sebanyak 11 hingga 14 pada tahun 2050-an mendatang. Ini dilakukan untuk mengamankan pasokan listrik yang stabil, lapor lembaga penyiaran publik NHK, mengutip draf kebijakan yang akan dipresentasikan pada hari ini (5/6/2026).

Usulan tersebut, yang akan diuraikan oleh Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri pada pertemuan tentang kebijakan nuklir, mencerminkan pergeseran menuju ketergantungan yang lebih besar pada energi atom untuk membantu memenuhi peningkatan permintaan listrik dan mengurangi impor bahan bakar yang mahal.

Sebelumnya, Jepang menutup 54 reaktor nuklir yang beroperasi setelah bencana nuklir Fukushima 2011, karena kekhawatiran publik tentang standar keselamatan industri tersebut. 


Baca Juga: F1 Perpanjang Kontrak GP Las Vegas: Keuntungan Besar Menanti Hingga 2037!

Dari 33 unit yang masih beroperasi, 15 telah dihidupkan kembali.

Tahun lalu, Tokyo merevisi kebijakan energi dasarnya untuk memaksimalkan penggunaan tenaga nuklir. Namun, banyak reaktor mendekati atau melampaui masa operasional 60 tahunnya, menimbulkan kekhawatiran tentang penurunan kapasitas nuklir di masa depan bahkan jika pengaktifan kembali pembangkit yang tidak beroperasi terus berlanjut.

Dengan menetapkan target penggantian yang konkret, pemerintah bertujuan untuk meningkatkan prediktabilitas bagi perusahaan utilitas, kata NHK.

Langkah-langkah ini juga dilakukan karena permintaan listrik diperkirakan akan meningkat tajam, didorong oleh pusat data untuk AI.

Di bawah rencana energi saat ini, Jepang bertujuan untuk meningkatkan pangsa tenaga nuklir dalam bauran listriknya menjadi sekitar 20% pada tahun fiskal 2040, naik dari 9,4% pada tahun fiskal 2024.

Rancangan kebijakan tersebut dijadwalkan untuk dibahas pada hari Jumat sebelum diadopsi secara resmi pada pertemuan tingkat menteri akhir musim panas ini, kata NHK.