JAKARTA. Penyerapan lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) alias Sukuk Negara yang tinggi pekan lalu, ternyata, tidak serta-merta meningkatkan likuiditas perdagangan di pasar sekunder. Investor butuh pemanis agar mau bertransaksi di pasar sekunder sukuk, yang instrumennya masih minim ketimbang Surat Utang Negara (SUN). Pekan lalu, Departemen Keuangan berhasil melelang sukuk IFR 0003 dan IFR 0004, sehingga meraup dana sekitar Rp 1,08 triliun dari dua instrumen ini. Jumlah itu meleset cukup jauh dari target indikatif awal Rp 1,5 triliun. Sayangnya lagi, nilai ini belum mampu menggerakkan pasar sekunder sukuk jadi lebih likuid. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, sepanjang pekan lalu, hanya pada hari Kamis (12/11) ada dua transaksi atas sukuk IFR 0004. Nilainya Rp 50 miliar.Ini jauh lebih kecil ketimbang transaksi SUN yang bisa mencapai Rp 3 triliun. Bahkan, pada Jumat (13/11) lalu, tidak ada transaksi sama sekali di pasar sekunder sukuk.
Tipe Investor Beda, Pasar Sekunder Sukuk Sepi
JAKARTA. Penyerapan lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) alias Sukuk Negara yang tinggi pekan lalu, ternyata, tidak serta-merta meningkatkan likuiditas perdagangan di pasar sekunder. Investor butuh pemanis agar mau bertransaksi di pasar sekunder sukuk, yang instrumennya masih minim ketimbang Surat Utang Negara (SUN). Pekan lalu, Departemen Keuangan berhasil melelang sukuk IFR 0003 dan IFR 0004, sehingga meraup dana sekitar Rp 1,08 triliun dari dua instrumen ini. Jumlah itu meleset cukup jauh dari target indikatif awal Rp 1,5 triliun. Sayangnya lagi, nilai ini belum mampu menggerakkan pasar sekunder sukuk jadi lebih likuid. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, sepanjang pekan lalu, hanya pada hari Kamis (12/11) ada dua transaksi atas sukuk IFR 0004. Nilainya Rp 50 miliar.Ini jauh lebih kecil ketimbang transaksi SUN yang bisa mencapai Rp 3 triliun. Bahkan, pada Jumat (13/11) lalu, tidak ada transaksi sama sekali di pasar sekunder sukuk.