Tiphone banjir order dari Telkom



JAKARTA. Aksi jual-beli saham PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk kepada PT PINS Indonesia, anak perusahaan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) September lalu,  mulai membuahkan kerjasama strategis. Aksi korporasi yang mendudukkan PINS sebagai pemegang 25% saham itu, membikin Tiphone Mobile kebagian proyek Telkom.

Perusahaan berkode TELE di Bursa Efek Indonesia itu akan terlibat dalam proses migrasi pelanggan Flexi (semula di bawah Telkom) ke Telkomsel (dikelola PT Telekomunikasi Selular alias Telkomsel). Tiphone Mobile akan menyediakan telepon selular (ponsel) dan kartu telepon alias SIM card.

Pada tahap awal, perusahaan itu akan menyediakan ponsel merek Tiphone, IMO dan Samsung. Namun, Tiphone Mobile mensinyalkan peluang memanfaatkan merek ponsel lain. Dengan catatan, hitungan bisnis cocok dengan kalkulator perusahaan itu.


Asal tahu saja, proses migrasi tersebut memiliki total biaya konsiderasi senilai Rp 2,828 triliun. "Ini proyek sinergi pertama kami dimana kami akan melakukan migrasi sekitar enam juta pelanggan Flexi ke Telkomsel," terang Direktur Utama Tiphone Mobile Indonesia Tan Lie Pin, Kamis (23/10) tanpa meyebutkan persis bagian proyek perusahaannya.

Saat ini, Tiphone Mobile sudah menyelesaikan tugasnya dalam bagian proses migrasi pelanggan di Kediri, Jawa Timur dan Serang, Banten. Berikutnya, akan menyusul tujuh kota. Jika jaringan yang disediakan Telkomsel tak ada kendala, perusahaan itu memprediksi proyek itu bisa selesai dalam waktu enam bulan ke depan.

Selain, kecipratan proyek proses migrasi pelanggan Felxi ke Telkomsel, Tiphone Mobile bakal bekerjasama dengan Telkom di proyek lain. Sayang, perusahaan itu belum mau blakblakan.

Yang pasti, perusahaan itu optimistis, sinergi bisnis dengan Telkom bakal mendukung pencapaian target pendapatannya. "Tahun ini targetnya Rp 14 triliun sedangkan tahun depan bisa Rp 18 triliun," harap Komisaris Utama Tiphone Mobile Indonesia Hengky Setiawan.

Selain akan semakin sering berbisnis dengan Telkom, Tiphone Mobile juga berinisiatif lebih fokus menggarap bisnis distribusi voucher keluaran Telkom. Maklum, kini di jajaran direksi dan komisaris perusahaan itu, bertengger perwakilan Telkom dan Telkomsel. Dus, Tiphone Mobile rela melepas mayoritas kepemilikan saham di PT Excel Utama, perusahaan distributor voucher isi ulang XL. Padahal Excel Utama mampu berkontribusi Rp 1 trilliun.  

Nah, demi menggantikan potensi pendapatan yang hilang itu, Tiphone Mobile akan mengakuisisi dua hingga tiga perusahaan distributor voucher lain. Satu nama yang sudah pasti adalah PT Simpatindo Multimedia dengan jadwal akuisisi November 2014. "Total dana akuisisi Rp 500 miliar," kata Tan Lie Pin.

Bayar utang

Sementara itu rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) Tiphone Mobile, Kamis (23/10) menyetujui usulan dua opsi pencarian dana. Opsi itu, pertama, Tiphone Mobile berencana menerbitkan obligasi maksimum Rp 2 triliun. Kedua, perusahaan ini akan mencari fasilitas kredit sindikasi sebesar Rp 2,5 triliun. 

Belum bisa dipastikan opsi mana yang dipilih. Yang pasti, Tiphone mengincar kredit berbunga murah. Denominasi kredit bisa berupa rupiah atau mata uang asing. 

Perusahaan itu akan menggunakan dana utang tersebut untuk refinancing utang agar beban bunga hutang berkurang. "Kami sedang melakukan beauty contest tapi belum tahu kapan diterbitkannya. Kami lihat situasi dulu," ujar Tan Lie Pin. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anastasia Lilin Yuliantina