Tmade Merangkai Cuan dari Suvenir Pernikahan



Berawal dari produk gelang berbahan kulit sintetis, Tmade menjadi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menawarkan beragam produk suvenir untuk pernikahan hingga kebutuhan korporasi. Sejak 2020, bisnis yang dirintis Khantia Ridwan Dirgantara ini beradaptasi mengikuti perubahan permintaan pasar.

KETIKA banyak usaha merunduk akibat pandemi Covid-19, Dirga, panggilan Khantia Ridwan Dirgantara, malah membuka pesanan untuk suvenir pernikahan. Awal merintis usaha, Tmade yang berbasis di Bandung, Jawa Barat, mengandalkan gelang berbahan limbah kulit yang bisa dikustomisasi dengan nama pelanggan.

Namun, seiring waktu berjalan, produk tersebut tak lagi menjadi andalan. Dirga mulai mengembangkan suvenir berbahan kulit sintetis atau faux leather, yang menjadi basis utama produksi hingga saat ini. Ia memilih tidak terpaku pada satu jenis produk.


Sejumlah produk menjadi andalan Tmade. Antara lain card case, card wallet, dan pocket mirror. Salah satu yang cukup diminati adalah varian Vinaya, bahkan jadi inspirasi sejumlah pelaku usaha suvenir pernikahan lainnya dalam mengembangkan produk serupa. Bagi Dirga, ini menjadi kebanggaan tersendiri buatnya.

Selain produk berbahan kulit sintetis, Tmade juga menyediakan berbagai suvenir lainnya dari distributor. Jadi, pelanggan bisa sekalian memesan tumbler, pulpen, hingga buku.

Perluasan pasar ke segmen korporasi terbuka ketika mengikuti pameran wedding di Jakarta. Pengunjung korporasi rupanya tertarik dengan produk Tmade. Kini, Tmade melayani segmen business to consumer (B2C) melalui suvernir wedding dan business to business (B2B) untuk kebutuhan perusahaan.

Dirga bilang, permintaan dari kedua segmen ini seimbang. Pesanan dari perusahaan biasanya tidak terikat kontrak jangka panjang, berubah-ubah mengikuti situasi bisnis.

"Efisiensi di kalangan perusahaan saat ini juga berdampak pada kami," ungkap Dirga.

Tantangan lain datang dari kanal penjualan e-commerce yang selama ini menjadi salah satu andalan Tmade lantaran beban biaya di marketplace semakin besar, mulai dari biaya administrasi, pajak digital, hingga komisi dan biaya program afiliasi. Akumulasi biaya bisa menggerus sampai 70%80% dari nilai produk, di luar biaya produksi.

Dia pun membuat strategi penjualan. Produk unggulan tidak sering masuk program promosi. Ia juga menerapkan subsidi silang antarproduk untuk menjaga daya saing harga. Sedang upaya mengalihkan penjualan melalui website sendiri belum memberi hasil signifikan.

Kini, kapasitas produksi Tmade mencapai 500700 unit per bulan. Namun, akibat tekanan usaha yang terasa sejak 2025, Tmade lebih banyak mengandalkan efisiensi biaya produksi untuk menjaga kelangsungan usaha, 10 pekerja tim inti, dan mitra perajin.

Selain itu, Tmade memanfaatkan momentum. Misalnya, pesanan korporasi biasanya ramai pada kuartal IV hingga I, sedangkan permintaan suvenir pernikahan cenderung meningkat di bulan Syawal. Tmade juga memanfaatkan Ramadan dan Lebaran dengan menghadirkan produk hampers serta amplop angpao kustom.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News