TNI Tetapkan Status Siaga 1, Ekonom: Terlalu Berlebihan dan Rugikan Investasi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Keputusan Panglima TNI yang menetapkan status Siaga 1 untuk mengantisipasi situasi keamanan dalam negeri di tengah memanasnya konflik Iran yang memicu isu gejolak sosial mendapat sorotan. Kebijakan ini dinilai terlalu reaktif dan justru bisa menjadi bumerang bagi stabilitas ekonomi nasional.

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin menilai, munculnya wacana Siaga 1 ini dipicu oleh kekhawatiran pemerintah terhadap potensi gelombang demonstrasi. Hal ini seiring dengan memburuknya kondisi ekonomi dan ketidakpuasan publik terhadap kebijakan pemerintah.

"Jika benar akan diterapkan status siaga 1, penyebabnya kemungkinan adalah potensi demo akibat kondisi ekonomi yang memburuk, ditambah dengan ketidakpuasan masyarakat terhadap cara-cara pemerintah menangani isu ekonomi dan politik luar negeri," ujarnya kepada Kontan.co.id, Selasa (10/3/2026).


Baca Juga: Penjualan Eceran Diperkirakan Stabil 3 Bulan Mendatang, dan Naik 6 Bulan ke Depan

Ia menambahkan, narasi kritis yang mulai disuarakan oleh berbagai elemen masyarakat, termasuk kelompok mahasiswa, menjadi alasan kuat bagi pemerintah untuk memperketat pengamanan. Namun, Wijayanto menilai langkah ini justru menunjukkan sisi yang kurang positif

Menurutnya, penetapan status keamanan tertinggi tersebut tidak krusial untuk dilakukan saat ini. Alih-alih meredam suasana, langkah militeristik atau keamanan yang ketat dianggap bisa memperkeruh situasi di lapangan.

"Terlalu berlebihan, justru berpotensi memperburuk keadaan. Paling tidak dari sisi persepsi di mata investor dan dunia usaha," tegasnya.

Baca Juga: BI: Momentum Ramadan Kinerja Penjualan Eceran Diperkirakan Naik Pada Februari 2026

Dari sisi makroekonomi, Wijayanto memperingatkan bahwa status Siaga 1 akan berdampak negatif terhadap iklim bisnis di Indonesia. Pasalnya, kepercayaan investor sangat bergantung pada persepsi stabilitas keamanan yang wajar dan kondusif.

"Merugikan. Kita sedang perlu membangun kepercayaan dunia usaha dan investor, status siaga 1 justru berlawanan dengan upaya tersebut," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News