KONTAN.CO.ID-JAKARTA. PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) memperoleh komitmen investasi hingga S$555 juta dari HPS Investment Partners untuk mengembangkan bisnis pengelolaan limbah. Langkah ini dinilai dapat memperkuat pendanaan ekspansi sekaligus mendukung transformasi TOBA menuju sektor infrastruktur berkelanjutan. Meski begitu, analis menilai dampaknya terhadap kinerja keuangan dan harga saham masih bergantung pada realisasi pendanaan, ekspansi bisnis, serta kemampuan perusahaan mencetak keuntungan. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai masuknya HPS menjadi katalis positif bagi prospek bisnis pengelolaan limbah TOBA. Dukungan investor institusi global ini memberi ruang bagi perusahaan untuk memperkuat kapasitas operasional, meningkatkan efisiensi, dan memperluas bisnis lewat akuisisi. Menurutnya, investasi tersebut juga berpotensi mengurangi ketergantungan TOBA pada bisnis batu bara, karena porsi bisnis non batubara dalam portofolio kian besar.
Baca Juga: Unilever (UNVR) Catat Kenaikan Kinerja per Kuartal III-2026, Ini Rekomendasi Sahamnya “Komitmen tersebut juga mencerminkan kepercayaan investor institusi global terhadap potensi pertumbuhan industri pengelolaan limbah di Asia,” ujarnya. Meski demikian, Nafan menilai keberhasilan investasi tetap ditentukan oleh kemampuan TOBA mengalokasikan modal secara produktif, mengintegrasikan bisnis hasil akuisisi, dan menghasilkan pertumbuhan arus kas yang berkelanjutan. Dari sisi kinerja keuangan, bisnis pengelolaan limbah berpotensi menjadi salah satu sumber pertumbuhan pendapatan dan laba TOBA pada 2026–2027. Potensi ini ditopang oleh platform pengelolaan limbah perusahaan, yakni Cora Environment di Singapura, Asia Medical Enviro Services, dan PT Arah Environmental Indonesia. Pertumbuhan volume limbah yang dikelola, naiknya utilisasi fasilitas, efisiensi biaya operasional, dan kontribusi akuisisi dapat mendorong pendapatan dan profitabilitas. Namun, besarnya kontribusi bisnis ini belum bisa dipastikan hanya dari nilai komitmen investasi. Investor perlu memantau pendapatan, EBITDA, margin laba, dan arus kas segmen pengelolaan limbah untuk menilai seberapa efektif transformasi bisnis TOBA.
Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, juga menilai masuknya HPS dapat memperkuat pendanaan dan mempercepat ekspansi bisnis limbah TOBA. Namun, ia mengingatkan bahwa dampaknya terhadap kinerja keuangan tetap bergantung pada realisasi investasi dan pengembangan usaha. “Bisnis limbah berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru pada 2026–2027, tetapi kontribusi pendapatan dan laba masih bergantung pada realisasi ekspansi dan margin usaha,” ujarnya. Menurut Elandry, peluang ekspansi bisnis limbah di Indonesia dan Asia masih terbuka, baik lewat pertumbuhan organik maupun akuisisi. Meski begitu, investor perlu melihat kemampuan perusahaan menjalankan ekspansi dan menjaga profitabilitas agar pertumbuhan bisnis benar-benar memberi nilai tambah. Selain prospek usaha, struktur investasinya juga patut diperhatikan. Pendanaan melalui penerbitan saham preferen di tingkat SBTH Asia Holdings Pte. Ltd. berpotensi membatasi dilusi kepemilikan pemegang saham TOBA di tingkat induk, tetapi belum tentu menghilangkan dilusi manfaat ekonomi dari bisnis pengelolaan limbah. Nafan menjelaskan, dampaknya terhadap manfaat ekonomi yang diterima TOBA akan bergantung pada persyaratan final transaksi, termasuk hak preferensi, mekanisme imbal hasil, ketentuan penebusan, dan pembagian keuntungan. Karena itu, investor perlu mencermati detail hak ekonomi HPS dan porsi keuntungan yang tetap dinikmati TOBA dari bisnis tersebut. Adapun katalis saham TOBA datang dari realisasi investasi, ekspansi bisnis pengelolaan limbah, dan meningkatnya kontribusi bisnis nonbatu bara terhadap kinerja perusahaan. Di sisi lain, risiko eksekusi ekspansi, integrasi akuisisi, kebutuhan belanja modal, serta struktur pembagian manfaat ekonomi masih perlu diwaspadai.
Untuk rekomendasi saham, kedua analis cenderung menyarankan sikap
wait and see. Nafan menilai pengumuman investasi ini menjadi katalis fundamental positif untuk jangka menengah hingga panjang, tetapi belum otomatis menjamin kenaikan harga saham dalam waktu dekat. Sementara itu, Elandry belum menyarankan pembelian agresif hanya berdasarkan pengumuman investasi. Investor disarankan menunggu kejelasan transaksi dan bukti kontribusi bisnis pengelolaan limbah terhadap laba, lalu mempertimbangkan pembelian bertahap setelah valuasi dan prospek fundamental terkonfirmasi.
Baca Juga: Dicecar BEI, Bayan (BYAN) Tak Bisa Jelaskan Harga Pengalihan Rp 2.588 ke Jhonlin Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News