KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tokenisasi real-world asset (RWA) dinilai berpotensi membuka akses aset keuangan Indonesia kepada investor global sekaligus menarik likuiditas dari pasar internasional. Namun, kemudahan transaksi aset secara digital belum otomatis menjamin investor dapat mencairkan investasinya dengan mudah. Chief Executive Officer (CEO) PT IDRX Indo Inovasi, Nathanael Christian menilai tokenisasi aset keuangan dapat menjadi pintu masuk bagi likuiditas global ke Indonesia. Aset seperti obligasi dan
money-market fund menjadi salah satu instrumen yang potensial untuk ditawarkan kepada investor lintas negara melalui teknologi blockchain. “Dengan adanya teknologi blockchain kita bisa menawarkan aset-aset ini kepada investor global dan membawa likuiditas global ke dalam negeri sebagai
capital inflow,” ujar Nathanael.
Baca Juga: Bitcoin Masih Tertekan, Investor Disarankan Tak Reaktif Hadapi Volatilitas Nathanael menyebut keberadaan stablecoin rupiah juga penting untuk mendukung ekosistem tersebut. Menurutnya, transaksi tokenisasi yang menggunakan
smart contract membutuhkan token berbasis blockchain. Tanpa stablecoin rupiah, penggunaan USDT dan USDC berpotensi mendorong
dollarization di ekosistem aset digital Indonesia. Pandangan mengenai kepercayaan terhadap aset dasar turut disampaikan oleh Expansion Lead Tether, Eddy Christian Ng dalam Indonesia Blockchain Week (IBW) 2026, Kamis (13/8/2026). “Jika kita menggabungkan berbagai sumber likuiditas, menggunakan stablecoin sebagai instrumen atau token untuk aset yang ditokenisasi, dan memiliki akses pasar yang benar-benar 24/7, saya pikir hal itu membuka banyak peluang,” kata Eddy. Menurutnya, peluang tersebut perlu didukung kedalaman likuiditas serta kepastian mengenai aset dasar dan mekanisme
redemption. Investor perlu memastikan aset yang mendasari tokenisasi benar-benar tersedia dan dapat ditebus ketika dibutuhkan. Persoalan likuiditas juga menjadi perhatian Finance Manager Pinetree, Chan Pai Boon. Menurut dia, akses pasar sepanjang waktu tidak otomatis membuat RWA mudah dicairkan karena likuiditas juga bergantung pada mekanisme
redemption dan pihak yang terlibat dalam transaksi. “24/7 tidak otomatis berarti likuiditasnya juga 24/7. Bagaimana mekanisme
redemption bekerja merupakan hal yang sangat penting,” ujar Chan.
Baca Juga: Transaksi Kripto Melesat, Bitcoin Diproyeksi Capai US$ 85.000 di Akhir 2026 Hal tersebut sejalan dengan pandangan Business Development Director GSR, Terri Tan yang menilai aset yang ditokenisasi tidak serta-merta memiliki likuiditas yang sama dengan aset dasarnya. “Tokenized Treasury atau tokenized RWA jelas tidak selikuid aset dasar yang sebenarnya,” ujar Terri.
Karena itu, Terri mengatakan investor perlu memperhatikan risiko
counterparty, struktur penerbit, serta kemungkinan pembatasan
subscription dan
redemption. Penilaian terhadap produk RWA, menurut dia, juga perlu mencakup
due diligence terhadap penerbit, bukan hanya aset yang menjadi
underlying. Dengan demikian, peluang tokenisasi RWA tidak hanya bergantung pada kemampuan teknologi mengubah aset nyata menjadi token digital. Kejelasan aset dasar, kedalaman likuiditas, tata kelola, serta mekanisme
redemption menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan investor. Bagi Indonesia, kombinasi tokenisasi dan stablecoin berpotensi membuka akses aset keuangan domestik kepada investor global sekaligus membawa likuiditas masuk ke dalam negeri. Namun, kemampuan menyediakan likuiditas dan kepastian pencairan akan menjadi salah satu tantangan penting dalam pengembangan pasar RWA. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News