KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aktivitas belanja konsumen di platform digital tidak lagi hanya bertumpu pada pencarian produk. Konsumen kini semakin banyak menemukan barang melalui konten video, siaran langsung, serta rekomendasi kreator dan afiliasi. Perubahan pola tersebut menjadi salah satu faktor yang turut mewarnai pertumbuhan transaksi di ekosistem Tokopedia dan TikTok Shop. Executive Director Tokopedia dan TikTok Shop Indonesia Stephanie Susilo menyampaikan, nilai transaksi bruto atau gross merchandise value (GMV) gabungan kedua platform tumbuh 37% secara tahunan (year on year/YoY) pada semester I-2026. Jumlah pesanan pada periode yang sama meningkat 75% YoY dibandingkan semester I-2025. Menurut Stephanie, pertumbuhan tersebut mencerminkan aktivitas belanja konsumen yang berlanjut, didukung pilihan produk yang semakin beragam serta berbagai cara untuk menemukan dan membeli barang. Baca Juga: PTPN IV PalmCo dan Kemendag Jalin Kerjasama Raih Pasar Ekspor melalui InaExport “Konsumen kini tidak lagi hanya datang ke platform untuk mencari produk yang sudah mereka tentukan sebelumnya. Mereka semakin banyak menemukan produk baru melalui konten video, LIVE Shopping, serta rekomendasi dari kreator dan afiliasi,” ujar Stephanie dalam jawaban tertulis kepada KONTAN, Senin (28/9). Pola tersebut dikenal sebagai Discovery Commerce, yakni pendekatan yang menghubungkan proses penemuan produk hingga pembelian. Melalui konten dan rekomendasi, konsumen dapat menemukan produk yang sesuai dengan minat maupun kebutuhan mereka, sementara penjual berpeluang memperkenalkan produk kepada calon pelanggan baru. Studi TikTok Shop pada 2025 menunjukkan, sebanyak 72% pelaku usaha yang disurvei berhasil menjangkau pelanggan baru melalui TikTok Shop. Selain itu, 67% responden menyatakan berhasil meluncurkan produk baru dan 52% memperkuat diferensiasi usaha melalui Discovery Commerce. Dari sisi kategori, Tokopedia dan TikTok Shop mencatat pertumbuhan positif pada sejumlah produk selama semester I-2026. Kategori otomotif dan busana perempuan masing-masing tumbuh 54% YoY. Selanjutnya, busana muslim meningkat 37%, kecantikan dan perawatan diri 33%, serta elektronik 19%. Memasuki semester II-2026, kedua platform menyiapkan sejumlah momentum belanja, antara lain Flash Sale, kampanye Double Date, 11.11, dan 12.12. Berbagai program tersebut menjadi kesempatan bagi konsumen untuk menemukan produk dan penawaran yang relevan, sekaligus membantu penjual meningkatkan visibilitas serta menjangkau lebih banyak pelanggan. Baca Juga: Dana Pengembangan Jalan Tol Kini Dikelola Balai Khusus, Ini Penjelasan PU Stephanie mengatakan, momentum belanja tersebut tidak hanya diarahkan untuk mendorong transaksi, tetapi juga untuk menciptakan pengalaman berbelanja yang relevan bagi konsumen dan membuka peluang pengembangan usaha bagi penjual. “Bagi kami, berbagai momen belanja ini bukan hanya tentang mendorong transaksi, tetapi juga menciptakan pengalaman belanja yang relevan bagi konsumen serta memberikan peluang bagi penjual dan UMKM untuk mengembangkan bisnis mereka,” kata Stephanie. Peran marketplace terhadap pelaku usaha juga tercermin dalam survei TikTok Shop pada 2025. Hasil survei menunjukkan, bagi lebih dari separuh pelaku usaha yang disurvei, lebih dari 40% pendapatan mereka didukung oleh Tokopedia dan TikTok Shop. Sebanyak 46% responden memulai bisnis pertama mereka melalui TikTok Shop, sementara 99% menilai TikTok Shop sebagai saluran pendapatan yang sangat penting. Dukungan terhadap produk lokal turut dilakukan melalui kampanye #BeliLokal. Pada semester I-2026, penjualan produk lokal melalui kampanye tersebut tumbuh 51% menjadi hampir 700 juta produk. Jumlah penjual yang berpartisipasi juga meningkat 50% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Selain memperluas jangkauan pasar, program #BeliLokal mencakup kegiatan edukasi digital dan penguatan kesiapan usaha, termasuk pendampingan pemenuhan legalitas seperti Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi halal, serta pemahaman mengenai kekayaan intelektual (HKI). Lebih dari 4.800 UMKM, kreator, dan afiliasi telah mengikuti program edukasi tersebut. Mayoritas peserta berasal dari luar Jabodetabek dan sekitar separuh pelatihan diselenggarakan di luar Pulau Jawa. Selain itu, lebih dari 2.500 penjual telah mendapatkan edukasi mengenai legalitas usaha.
Tokopedia dan TikTok Shop Catat GMV Tumbuh 37% pada Semester I-2026
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aktivitas belanja konsumen di platform digital tidak lagi hanya bertumpu pada pencarian produk. Konsumen kini semakin banyak menemukan barang melalui konten video, siaran langsung, serta rekomendasi kreator dan afiliasi. Perubahan pola tersebut menjadi salah satu faktor yang turut mewarnai pertumbuhan transaksi di ekosistem Tokopedia dan TikTok Shop. Executive Director Tokopedia dan TikTok Shop Indonesia Stephanie Susilo menyampaikan, nilai transaksi bruto atau gross merchandise value (GMV) gabungan kedua platform tumbuh 37% secara tahunan (year on year/YoY) pada semester I-2026. Jumlah pesanan pada periode yang sama meningkat 75% YoY dibandingkan semester I-2025. Menurut Stephanie, pertumbuhan tersebut mencerminkan aktivitas belanja konsumen yang berlanjut, didukung pilihan produk yang semakin beragam serta berbagai cara untuk menemukan dan membeli barang. Baca Juga: PTPN IV PalmCo dan Kemendag Jalin Kerjasama Raih Pasar Ekspor melalui InaExport “Konsumen kini tidak lagi hanya datang ke platform untuk mencari produk yang sudah mereka tentukan sebelumnya. Mereka semakin banyak menemukan produk baru melalui konten video, LIVE Shopping, serta rekomendasi dari kreator dan afiliasi,” ujar Stephanie dalam jawaban tertulis kepada KONTAN, Senin (28/9). Pola tersebut dikenal sebagai Discovery Commerce, yakni pendekatan yang menghubungkan proses penemuan produk hingga pembelian. Melalui konten dan rekomendasi, konsumen dapat menemukan produk yang sesuai dengan minat maupun kebutuhan mereka, sementara penjual berpeluang memperkenalkan produk kepada calon pelanggan baru. Studi TikTok Shop pada 2025 menunjukkan, sebanyak 72% pelaku usaha yang disurvei berhasil menjangkau pelanggan baru melalui TikTok Shop. Selain itu, 67% responden menyatakan berhasil meluncurkan produk baru dan 52% memperkuat diferensiasi usaha melalui Discovery Commerce. Dari sisi kategori, Tokopedia dan TikTok Shop mencatat pertumbuhan positif pada sejumlah produk selama semester I-2026. Kategori otomotif dan busana perempuan masing-masing tumbuh 54% YoY. Selanjutnya, busana muslim meningkat 37%, kecantikan dan perawatan diri 33%, serta elektronik 19%. Memasuki semester II-2026, kedua platform menyiapkan sejumlah momentum belanja, antara lain Flash Sale, kampanye Double Date, 11.11, dan 12.12. Berbagai program tersebut menjadi kesempatan bagi konsumen untuk menemukan produk dan penawaran yang relevan, sekaligus membantu penjual meningkatkan visibilitas serta menjangkau lebih banyak pelanggan. Baca Juga: Dana Pengembangan Jalan Tol Kini Dikelola Balai Khusus, Ini Penjelasan PU Stephanie mengatakan, momentum belanja tersebut tidak hanya diarahkan untuk mendorong transaksi, tetapi juga untuk menciptakan pengalaman berbelanja yang relevan bagi konsumen dan membuka peluang pengembangan usaha bagi penjual. “Bagi kami, berbagai momen belanja ini bukan hanya tentang mendorong transaksi, tetapi juga menciptakan pengalaman belanja yang relevan bagi konsumen serta memberikan peluang bagi penjual dan UMKM untuk mengembangkan bisnis mereka,” kata Stephanie. Peran marketplace terhadap pelaku usaha juga tercermin dalam survei TikTok Shop pada 2025. Hasil survei menunjukkan, bagi lebih dari separuh pelaku usaha yang disurvei, lebih dari 40% pendapatan mereka didukung oleh Tokopedia dan TikTok Shop. Sebanyak 46% responden memulai bisnis pertama mereka melalui TikTok Shop, sementara 99% menilai TikTok Shop sebagai saluran pendapatan yang sangat penting. Dukungan terhadap produk lokal turut dilakukan melalui kampanye #BeliLokal. Pada semester I-2026, penjualan produk lokal melalui kampanye tersebut tumbuh 51% menjadi hampir 700 juta produk. Jumlah penjual yang berpartisipasi juga meningkat 50% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Selain memperluas jangkauan pasar, program #BeliLokal mencakup kegiatan edukasi digital dan penguatan kesiapan usaha, termasuk pendampingan pemenuhan legalitas seperti Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi halal, serta pemahaman mengenai kekayaan intelektual (HKI). Lebih dari 4.800 UMKM, kreator, dan afiliasi telah mengikuti program edukasi tersebut. Mayoritas peserta berasal dari luar Jabodetabek dan sekitar separuh pelatihan diselenggarakan di luar Pulau Jawa. Selain itu, lebih dari 2.500 penjual telah mendapatkan edukasi mengenai legalitas usaha.