Tolak Ajakan Bersatu dari China, Taiwan: Tolong Hargai Demokrasi Kami



KONTAN.CO.ID - TAIPEI. China pada hari Minggu (5/3) kembali mengajak Taiwan untuk bersatu di bawah bendera yang sama. Taiwan tentu menolak ajakan tersebut dan meminta China menghormati demokrasi.

Berbicara pada pembukaan pertemuan tahunan parlemen, Perdana Menteri China Li Keqiang menekankan negara masih bertahan pada prinsip "satu China" dengan Taiwan sebagai salah satu dari wilayahnya.

Pada momen tersebut, Li berjanji akan melakukan proses penyatuan kembali atau reunifikasi secara damai dengan Taiwan. Li juga menyuarakan kembali sikap China yang menentang kemerdekaan Taiwan.


"Pemerintah harus menerapkan kebijakan partai kita untuk menyelesaikan masalah Taiwan dan mengambil langkah tegas untuk menentang kemerdekaan Taiwan dan mempromosikan reunifikasi," kata Li, seperti dikutip Reuters.

Rencana China untuk mengupayakan reunifikasi damai tersebut jelas jauh dari ketakutan Taiwan pada potensi invasi seperti yang terjadi di Ukraina.

Dalam pernyataan terpisah terkait urusan pertahanan, Li mengatakan angkatan bersenjata China harus meningkatkan kesiapan tempur, meski tidak menyebut Taiwan dalam konteks itu.

Baca Juga: China akan Naikkan Belanja Pertahanan 7,2% Tahun Ini, Lebih Tinggi dari Target PDB

Taiwan Bertahan dengan Demokrasi

Sebagian besar masyarakat Taiwan sampai saat ini tidak menunjukkan minat untuk hidup di bawah pemerintah China yang otokratis.

Mainland Affairs Council, pembuat kebijakan Taiwan yang berkaitan dengan China, merespons pernyataan Li dengan mengatakan Beijing harus menghadapi kenyataan bahwa kedua negara memang tidak saling tunduk dan tidak bisa bersatu.

Dewan tersebut juga meminta China untuk menghormati demokrasi yang kini dianut oleh Taiwan.

"China harus menghormati komitmen rakyat Taiwan terhadap konsep inti yang berpegang teguh pada kedaulatan, demokrasi, dan kebebasan Taiwan," kata dewan tersebut dalam pernyataannya.

Baca Juga: Anggota G20 Kompak Mengutuk Perang di Ukraina, Kecuali Rusia dan China

Dewan itu berharap China dapat menangani urusan lintas selat secara pragmatis dengan cara yang rasional, setara, dan saling menghormati sehingga kondisi keamanan yang sehat bisa tercipta.

Presiden Taiwan Tsai Ing-wen sebenarnya telah berulang kali menawarkan pembicaraan dengan China, namun Beijing menolaknya karena mereka percaya bahwa Tsai adalah seorang separatis.

Awal tahun 2024 mendatang Taiwan akan mengadakan pemilihan presiden dan parlemen. Menjelang momen tersebut, upaya China untuk mempromosikan reunifikasi diprediksi akan semakin gencar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News