Toshiba akan lepas unit bisnis cip memori



TOKYO. Toshiba Corp mulai mempersiapkan diri menjual sebagian kecil saham di perusahaan cip miliknya. Sumber Reuters mengatakan, langkah ini dilakukan untuk menutup pendanaan setelah tertimpa skandal akuntansi sejak tahun lalu.

Sumber mengatakan, perusahaan asal Jepang ini telah menyebarkan formulir perjanjian penjualan yang belum bisa diungkapkan detailnya ke fund dan perusahaan ekuitas swasta. Salah satunya Silver Lake. Toshiba yang tengah menghadapi skandal akuntansi bisnis nuklir di Amerika Serikat (AS) menganggap hal ini bisa sedikit membantunya.

Toshiba akan memisahkan divisi cip paling lambat pada akhir tahun keuangan fiskal Jepang, yakni Maret 2017. Dana tersebut kelak dipakai untuk cadangan jika harus menghapus ekuitas pemegang saham yang telah menyusut menjadi US$ 3 miliar setelah skandal. "Toshiba putus asa menghindari jatuhnya nilai aset bersih," ujar salah satu sumber.


Sempat beredar kabar, Toshiba berniat menjual 20%-30% saham anak usahanya itu. Tapi, Toshiba belum mengonfirmasi kabar ini. Namun menurut sumber, Toshiba  masih bertekad menjadi pemilik saham mayoritas.

Sumber dari industri seperti dikutip Reuters memaparkan, bisnis cip milik Toshiba senilai ¥ 1 triliun atau setara dengan US$ 8,7 miliar. Tapi ada juga perkiraan, valuasi bisnis cip Toshiba ¥ 2 triliun.

Seorang juru bicara Toshiba mengatakan, perusahaan ini akan memisahkan diri dari bisnis cip memori dan menjual saham. Tapi juru bicara tersebut tidak mau mengomentarinya secara spesifik. Silver Lake pun menolak berkomentar mengenai kemungkinan pihaknya membeli aset Toshiba.

Calon investor

Selain Silver Lake, sumber menyebutkan, calon pembeli lain adalah mitra bisnis Toshiba, yakni West Digital Corp. Toshiba juga dikabarkan sedang mendekati pemerintah Jepang melalui Development Bank of Japan (DBJ) untuk ikut berinvestasi di bisnis cip.

Tapi menurut eksekutif senior Toshiba, Western Digital tidak mungkin ikut menyuntik modal. Sebab ada banyak proses yang harus dilewati Western Digital untuk bisa ikut berinvestasi, termasuk pratinjau antitrust. Pihak Western Digital sendiri enggan berkomentar mengenai hal ini.

Sumber dari bidang keuangan menambahkan, investor mesti melihat apa keuntungan yang bida didapat bila mereka tak mendapat saham mayoritas lewat penjualan ini. "Mungkin mereka ingin kontrol mayoritas atau setidaknya 33,4% untuk ikut memberi suara dalam rapat dewan," ujar dia.

Sementara pemerintah Jepang sebelumnya menyatakan, tidak memiliki anggaran untuk menyelamatkan perusahaan ini. Tapi untuk investasi seperti dari DBJ memang masih mungkin. Menteri Perdagangan Jepang Hiroshige Seko mengatakan, sedang memantau perkembangan bisnis cip milik Toshiba, NAND. Sebab bisnis tersebut sangat penting bagi pertumbuhan Jepang.  

Editor: Dupla Kartini