Total Bangun (TOTL) Akui Pelemahan Rupiah Mulai Mengerek Biaya Material Konstruksi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai memberikan tekanan bagi perusahaan, terutama pada biaya material dan komponen proyek yang memiliki keterkaitan dengan mata uang asing. 

Meski demikian, Corporate Secretary TOTL, Anggie S mengatakan sebagian besar kontrak dan pengadaan yang dijalankan perusahaan menggunakan mata uang rupiah. 

Namun, pelemahan kurs tetap memberikan pengaruh tidak langsung terhadap sejumlah material dan komponen tertentu yang digunakan dalam proyek konstruksi.


Baca Juga: Harga Emas Ekspor Turun 3,51% Periode Kedua Juni 2026, Ini Penyebab Utamanya

"Meskipun relatif seluruh kontrak dan pengadaan menggunakan Rupiah, pelemahan kurs secara tidak langsung mulai memberikan dampak terhadap beberapa material dan komponen tertentu," ujar Anggie kepada Kontan, Senin (15/6/2026).

Untuk menjaga profitabilitas di tengah potensi kenaikan biaya material dan logistik, TOTL terus memperkuat langkah efisiensi di berbagai lini usaha. 

Ia menyebutkan, strategi TOTL berfokus pada optimalisasi pengadaan, pengendalian biaya proyek, serta menjaga disiplin pelaksanaan proyek guna mempertahankan kinerja usaha. 

Di sisi lain, perusahaan juga telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi risiko apabila tekanan nilai tukar berlanjut. Salah satunya contingency plan yang disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing proyek.

Meski kondisi pasar masih dibayangi volatilitas kurs dan biaya proyek, TOTL tetap optimistis terhadap prospek bisnis tahun ini. Perseroan masih mempertahankan target perolehan kontrak baru 2026 dan menilai target tersebut masih realistis untuk dicapai.

"Sejauh ini, target perolehan kontrak baru tahun 2026 masih inline dengan target yang telah ditetapkan," kata Anggie.

Optimisme tersebut didukung oleh capaian kontrak baru yang terus bertambah. Hingga Mei 2026, TOTL telah mengantongi kontrak baru sekitar Rp 2,6 triliun. Perolehan tersebut berasal dari sejumlah proyek strategis, terutama proyek data center, hotel, serta berbagai proyek gedung lainnya.

Di tengah ketidakpastian ekonomi dan fluktuasi nilai tukar, TOTL juga menerapkan pendekatan yang lebih selektif dalam membidik proyek baru. 

Baca Juga: Kadin Sebut Pelemahan Rupiah Menggerus Margin Bisnis Konstruksi

Manajemen mengaku semakin prudent dalam mengikuti tender maupun mengambil proyek baru dengan mempertimbangkan berbagai aspek risiko.

Dengan pengendalian biaya yang disiplin dan strategi bisnis yang adaptif, perusahaan berupaya menjaga kinerja operasional sekaligus mengejar target pendapatan dan laba yang telah ditetapkan untuk tahun 2026.

"Perusahaan terus memantau perkembangan kondisi pasar dan menjalankan strategi bisnis secara adaptif sesuai kebutuhan,” tandasnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News