KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lonjakan kebutuhan pusat data (data center) mulai menjadi salah satu motor utama pertumbuhan perusahaan konstruksi, PT Total Bangun Persada Tbk (
TOTL). Perusahaan konstruksi tersebut membukukan pipeline proyek mencapai Rp 17,2 triliun hingga semester I 2026, melonjak 93% dibandingkan posisi Rp 11 triliun pada akhir 2025. Analis Indo Premier Sekuritas Aurelia Barus dalam riset Rabu (9/9/2026) menilai besarnya pipeline, terutama yang berasal dari proyek data center, semakin memperkuat posisi TOTL sebagai salah satu emiten yang berpotensi menikmati derasnya investasi di sektor tersebut. “Permintaan dari data center tetap menjadi salah satu mesin utama pertumbuhan,” tulis Aurelia dalam risetnya.
Baca Juga: Tokocrypto Menilai Pasar Kripto Indonesia Masih Underrated, Ini Alasannya Dari total pipeline Rp 17,2 triliun per semester I 2026, sekitar 34% atau setara Rp 5,8 triliun berasal dari proyek data center. Kontribusi tersebut menjadi yang terbesar dibandingkan sektor lainnya, disusul hospitality sebesar 28% dan industrial 18%. Aurelia mengungkapkan, berdasarkan pembahasan terbaru dengan manajemen, pipeline data center TOTL senilai Rp5,8 triliun terdiri atas lima proyek. Kapasitas proyek bervariasi, baik di bawah maupun di atas 100 megawatt (MW), dengan pemilik proyek yang berasal dari kombinasi perusahaan lokal dan asing. “Hal ini semakin memperkuat posisi TOTL sebagai salah satu penerima manfaat utama dari booming data center,” jelasnya. Tidak hanya pipeline yang tumbuh agresif, kinerja operasional dan keuangan TOTL sepanjang enam bulan pertama 2026 juga tercatat berada di atas ekspektasi target tahunan. Kontrak baru yang berhasil diperoleh mencapai Rp 2,8 triliun, tumbuh 12% secara tahunan dan telah mencapai 70% dari target 2026. Sementara itu, pendapatan mencapai Rp 2,1 triliun atau tumbuh 23% secara tahunan, setara 53% dari target setahun penuh. Dari sisi profitabilitas,
gross profit margin (GPM) setelah memperhitungkan joint operation (JO) mencapai 22,65%. Laba bersih bahkan melesat 54% secara tahunan menjadi Rp 270 miliar, atau telah mencapai 68% dari target laba bersih 2026 sebesar Rp 400 miliar. Meski demikian, margin laba kotor sebelum joint operation turun menjadi 17,7% dari 19,3% pada 2025. Pelemahan tersebut terutama mencerminkan kenaikan biaya material di tengah pelemahan nilai tukar rupiah. Namun, tekanan tersebut berhasil dikompensasi oleh kontribusi proyek JO. GPM setelah JO meningkat menjadi 22,7% dari 20,2% pada tahun sebelumnya, didorong pertumbuhan laba JO sebesar 24% secara tahunan pada semester I 2026.
Baca Juga: IHSG Masih Berpeluang Menguat Bisa Tembus 7.200 hingga Akhir 2026 Dengan kinerja semester I yang solid, manajemen TOTL masih mempertahankan target 2026 secara konservatif. Perusahaan ini menargetkan kontrak baru Rp 4 triliun pada 2026, turun 43% secara tahunan. Target pendapatan dipatok Rp 3,9 triliun atau relatif flat secara tahunan, sementara laba bersih ditargetkan Rp 400 miliar, juga relatif tidak berubah dari tahun sebelumnya. Untuk semester II 2026, manajemen memperkirakan pendapatan dan margin secara umum akan berada pada level yang tidak jauh berbeda dari semester I. Kenaikan biaya diperkirakan masih dapat diimbangi oleh besarnya proyek JO yang telah berjalan dan akan memberikan kontribusi pada periode berikutnya. Aurelia menilai kondisi tersebut membuka peluang bagi realisasi laba TOTL sepanjang 2026 untuk melampaui panduan internal perusahaan. “Hal ini berpotensi mendorong laba tahun 2026 berada di atas guidance,” tulisnya. Selain itu, hingga semester I 2026, TOTL masih memiliki backlog kontrak non-JO sekitar Rp 6,6 triliun. Besarnya carryover tersebut dinilai cukup untuk menopang pendapatan perusahaan hingga 2027. Di tengah prospek pertumbuhan bisnis, TOTL juga masih mempertahankan neraca yang kuat. Perusahaan ini tidak memiliki utang dan menggenggam kas sekitar Rp 865 miliar. Untuk 2026, kebutuhan belanja modal (capex) perusahaan juga relatif rendah, dengan panduan sekitar Rp 25 miliar. Kondisi tersebut memberikan ruang yang cukup besar bagi perusahaan untuk mempertahankan pembagian dividen. Secara historis, TOTL memiliki rasio pembayaran dividen yang tinggi, yakni sekitar 73%-96%. Kebijakan tersebut menghasilkan dividend yield di kisaran 2%-7%.
Baca Juga: Tren Penjualan SR025 Positif pada Pekan Terakhir Penawaran Meski prospek fundamentalnya positif, valuasi saham TOTL juga menjadi perhatian. Berdasarkan konsensus Bloomberg, saham tersebut saat ini diperdagangkan pada valuasi 11,1 kali price-to-earnings (P/E) 12 bulan ke depan. Level tersebut berada sekitar satu standar deviasi di atas rata-rata jangka panjangnya. Berdasarkan data Bloomberg, ada lima analis yang mengkaver saham TOTL. Kelima analis menyarankan buy dengan target harga rata-rata di Rp 1.691,25 per saham. Sementara Aurelia tidak memberi rating atas saham TOTL.
Saham TOTL ditutup naik 2,01% di level Rp 1.525 per saham pada Rabu (9/9/2026). Saham tersebut naik 7,02% dalam lima hari. Dengan pipeline yang semakin gemuk, dominasi proyek data center, serta neraca tanpa utang, TOTL kini memiliki kombinasi katalis pertumbuhan dan kemampuan membagikan dividen yang menjadi daya tarik bagi investor. Tantangannya adalah memastikan pertumbuhan proyek baru tetap mampu mengimbangi tekanan biaya material dan valuasi saham yang sudah relatif premium. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News