TotalEnergies Jual 9,1% Saham Papua LNG kepada Mitra, ExxonMobil Ambil Alih Operator



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perusahaan energi asal Prancis, TotalEnergies, akan menjual 9,1% kepemilikannya di proyek Papua LNG kepada para mitra dan menyerahkan posisi operator proyek tersebut kepada ExxonMobil.

TotalEnergies saat ini merupakan salah satu pemegang saham Papua LNG bersama ExxonMobil, Santos, Kumul Petroleum/MRDC, dan ENEOS Xplora. Setelah divestasi, TotalEnergies akan tetap mempertahankan 20% kepemilikan di proyek tersebut.

Saham yang dijual akan ditawarkan kepada para mitra berdasarkan proporsi kepemilikan mereka saat ini. TotalEnergies tidak mengungkapkan nilai transaksi secara keseluruhan.


Baca Juga: Tutup Blank Spot, Industri Telekomunikasi Buka Akses & Dampak Ekonomi Sampai Pelosok

Perusahaan Australia, Santos, mengatakan telah membeli tambahan 3,3% saham Papua LNG senilai 189 juta dolar AS. Dengan transaksi tersebut, kepemilikan Santos di proyek ini meningkat menjadi 21%.

Penambahan saham itu juga diperkirakan meningkatkan produksi LNG Santos sekitar 19%, menjadi sekitar 1,2 juta ton per tahun (Mtpa).

Transaksi ini masih bergantung pada keputusan investasi final atau Final Investment Decision (FID) untuk Papua LNG. Keputusan tersebut diperkirakan akan diambil pada kuartal IV 2026.

TotalEnergies mengatakan berbagai hambatan kontraktual dan komersial yang sebelumnya menghambat keputusan investasi kini telah diselesaikan.

Papua LNG merupakan salah satu proyek TotalEnergies untuk meningkatkan pasokan LNG dengan biaya produksi yang kompetitif. Proyek ini akan memproduksi sekitar 5,6 juta ton LNG per tahun dari lapangan gas Elk dan Antelope di Provinsi Gulf, Papua Nugini. Sebagian besar LNG tersebut ditujukan untuk pasar Asia.

Setelah pengalihan operator, ExxonMobil akan menjalankan Papua LNG. Perusahaan tersebut sebelumnya juga telah menjadi operator fasilitas PNG LNG yang berada di sekitar proyek Papua LNG.

Baca Juga: Aturan EPR Segera Terbit, Harga Produk Berpotensi Naik

ExxonMobil menilai pengelolaan kedua proyek di bawah satu operator akan membantu menyelaraskan kegiatan operasional, meningkatkan efisiensi pelaksanaan proyek, serta mendukung pengembangan sumber daya LNG Papua Nugini.

TotalEnergies juga menyatakan telah menyelesaikan proses tender untuk pekerjaan rekayasa, pengadaan, dan konstruksi proyek. Kontrak-kontrak tersebut kini menunggu persetujuan dari para mitra.

Perusahaan mengatakan langkah tender ulang dan optimalisasi desain proyek sejak 2024 telah menghasilkan penghematan biaya hampir 4 miliar dolar AS. Penghematan tersebut membuat kebutuhan belanja modal Papua LNG turun menjadi sekitar 14 miliar dolar AS.

Selain itu, para pihak telah menyelesaikan perubahan perjanjian gas dengan pemerintah Papua Nugini. Mereka juga membentuk perusahaan patungan pemasaran LNG bersama Kumul Petroleum untuk menjual 2,4 juta ton per tahun dari total produksi Papua LNG sebesar 5,6 juta ton per tahun.

Meski menjual sebagian sahamnya, porsi LNG yang menjadi hak TotalEnergies tidak berubah. Perusahaan tetap akan memiliki akses terhadap sekitar 1,5 juta ton LNG per tahun untuk memenuhi kebutuhan portofolionya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News