Totalindo Eka Persada akan masuk lagi ke proyek infrastruktur



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Totalindo Eka Persada Tbk (TOPS) mulai menggalakkan kembali bisnis jasa konstruksi di bidang infrastruktur. Tahun ini, perusahaan menargetkan sektor tersebut bisa menyumbang porsi 10% terhadap target kontrak baru yang dipatok sebesar Rp 4 triliun.

Andre Chandra Biantoro, Direktur PT Totalindo Eka Persada Tbk mengatakan, saat ini perusahaan memang lebih fokus mengincar proyek-proyek gedung. Tetapi sebelumnya perusahaan juga sudah pernah mengerjakan proyek-proyek infrastruktur jembatan sebegai subkontraktor.

Oleh karena itu, perusahaan akan kembali menghidupkan sektor infrastruktur ini sebagai strategi untuk diversifikasi jasa konstruksi yang mereka garap. "Selain sebagai diversifikasi, kami melihat proyek infrastruktur sedang gencar dibangun saat ini dan kami melihat ada peluang untuk masuk sebagai subkontraktor," kata Andre di Jakarta, Senin (4/6).


Proyek-proyek infrastruktur yang diincar perusahaan diantaranya adalah enam ruas jalan tol dalam kota Jakarta dan jalan tol di Makassar. Keduanya dibidik sebagai subkontraktor.

"Jalan tol dalam kota Jakarta yang pertama dibidik adalah Sunter-Pulo Gebang. Ini saat ini digarap main kontraktor Jaya Konstruksi. Kita bidik pekerjaan peerhead," kata Andrea.

Saat ini, total pipeline kontrak baru yang ditangani perusahaan mencapai Rp 3 triliun. Selain sektor infrastruktur itu, TOPS juga sedang memiliki proyek dari Kementerian PUPR, Ciputra Group, dan dua proyek di sektor energi.

Sementara beberapa proyek pemerintah yang sedang menunggu pengumuman adalah pasar atas, Rusun Polri, dan Proyek UIN Jember dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dari total pipeline tersebut, komposisi proyek pemerintah yang diincar adalah sekitar Rp 1 triliun-Rp 1,5 triliun.

Sepanjang Januari-Mei 2018, TOPS telah mengantongi kontrak baru Rp 2,07 triliun. Capaian tersebut sekitar 51,69% dari total target perusahaan tahun ini yaitu Rp 4 triliun. Kontrak baru tersebut didapat dari proyek pemerintah yaitu sebesar Rp 1,38 triliun. Sedangkan proyek swasta menyumbang Rp 693 miliar.

Proyek pemerintah tersebut adalah proyek Transit Oriented Development (TOD) Lebak Bulus Rp 900 miliar, proyek Rumah DP Rp 0 Kelapa Village Rp 320 miliar, Ged Twin Tower Asrama Jawa Barat dan Rusunawa DIY. "TOD Lebak Bulus dan DP Rp 0 kita kategorikan proyek pemerintah karena kita joint venture dengan PD Pembangunan Sarana Jaya yang merupakan BUMD DKI Jakarta," kata Andre.

Sedangkan proyek swasta yang sudah didapatkan selama Januari-Mei 2018 baru berasal dari Antasari Height. Tahun ini, perusahaan kontraktor ini mengincar 70% dari target tahun ini berasal dari proyek pemerintah dan 30% dari proyek swasta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News