Townhouse Premium Jadi Alternatif Rumah Tapak di Sydney



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah keterbatasan lahan dan tekanan pasokan hunian di Sydney, Australia, rumah tapak tetap diminati berkat ruang yang luas, privasi, dan kenyamanan bagi keluarga. Namun, pertumbuhan populasi dan meningkatnya biaya konstruksi membuat hunian jenis ini semakin sulit dijangkau.

Laporan State of the Housing System 2025 dari NHSAC memproyeksikan pembangunan 938.000 rumah hingga 2029, masih di bawah target pemerintah sebesar 1,2 juta unit. Kesenjangan ini memperkuat tekanan terhadap harga dan keterjangkauan hunian.

Sebagai alternatif, townhouse generasi baru hadir dengan konsep missing middle housing, yang menjembatani rumah tapak dan apartemen bertingkat tinggi. Dengan memadukan efisiensi lahan, ruang, dan privasi, townhouse menawarkan pengalaman landed living yang lebih relevan bagi pasar metropolitan Sydney.


CEO Capital Value International Group (CVIG) Chandra Leonardi menilai, keterbatasan lahan mengubah definisi hunian premium di Sydney. Kemewahan kini tak lagi semata diukur dari luas tanah, tetapi juga ruang, privasi, lokasi, kualitas bangunan, dan potensi nilai jangka panjang.

“Pembeli tidak hanya melihat luas tanah, tetapi juga kualitas ruang, privasi, aksesibilitas, efisiensi bangunan, dan bagaimana kualitas aset tersebut dapat bertahan dalam jangka panjang,” ujar Chandra dalam keterangannya, Rabu (14/10/2026).

Baca Juga: Sentimen Konsumen Australia Anjlok, Suku Bunga Tinggi Tekan Keuangan Keluarga

Menurutnya, perubahan ini membuka peluang bagi townhouse untuk mengisi celah antara rumah tapak konvensional dan apartemen. Dengan desain yang tepat, townhouse dapat menawarkan efisiensi lahan tanpa mengorbankan kenyamanan dan privasi.

“Masa depan landed living bukan semata soal memiliki lahan luas, melainkan mempertahankan kualitas hidup melalui ruang yang memadai, privasi, akses yang baik, dan lingkungan nyaman. Di sinilah townhouse dan hunian suburban premium berperan semakin penting,” kata Chandra.

Menurut Chandra, konsep luxury living di Sydney mulai bergeser dari ukuran hunian menuju kualitas pengalaman tinggal, seiring keterbatasan lahan dan perubahan preferensi konsumen yang semakin mempertimbangkan ruang, privasi, lokasi, kualitas konstruksi, efisiensi energi, biaya operasional, serta potensi nilai properti jangka panjang.

Ia bilang, kondisi ini mendorong townhouse dan hunian suburban premium sebagai alternatif rumah tapak yang menawarkan kenyamanan, aksesibilitas, dan lingkungan berkualitas dengan pemanfaatan lahan yang lebih efisien.

Baca Juga: Glencore Debut di Bursa Australia, Bidik Investor di Tengah Tren Tembaga

Perspektif tersebut menjadi dasar pengembangan Highgrove, proyek luxury townhouse besutan CVIG di Roselands, New South Wales (NSW). Proyek ini mengusung konsep landed living dalam format hunian yang lebih efisien lahan, sekaligus menjawab keterbatasan lahan di metropolitan Sydney.

Chandra menjelaskan, Highgrove dirancang untuk mengubah persepsi townhouse sebagai hunian kompromistis dengan ruang dan privasi terbatas. Melalui proporsi bangunan yang lapang, double garage, privasi tinggi, posisi elevated, dan lingkungan yang tenang, proyek ini berupaya mempertahankan pengalaman tinggal layaknya rumah tapak.

Dirancang oleh M.A.R.S Architecture & Interior Design Australia dengan konsep Contemporary Modern, Highgrove menawarkan strata area sekitar 240–340 m² per unit untuk mendukung kebutuhan keluarga modern. Berlokasi di area cul-de-sac dengan lalu lintas relatif rendah, proyek ini juga menawarkan posisi di kawasan berbukit dengan perspektif terbuka ke arah cakrawala Sydney.

Keberadaan double garage pada setiap unit turut memperkuat kepraktisan dan kemandirian hunian, yang selama ini menjadi daya tarik utama rumah tapak. Kombinasi ruang, privasi, akses kendaraan, dan lingkungan yang tenang mempertegas posisi townhouse sebagai kategori hunian dengan nilai tersendiri, bukan sekadar alternatif akibat keterbatasan lahan.

Selain luas bangunan, Highgrove juga mengedepankan efisiensi energi dan kenyamanan jangka panjang. Proyek ini mengadopsi standar Energy Efficiency Rating (EER) 7-Star melalui desain pasif, pencahayaan alami, skylight, lampu hemat energi, serta sistem pemanas berefisiensi tinggi.

Dari sisi pengelolaan air, Highgrove dilengkapi On-Site Detention (OSD) Tank di bawah area driveway untuk membantu mengendalikan limpasan air hujan di lingkungan proyek.

“Keberlanjutan dan perlindungan pascapembelian kini menjadi bagian penting dalam pertimbangan kepemilikan properti, terutama karena berkaitan dengan efisiensi biaya operasional dan potensi nilai aset dalam jangka panjang,” pungkas Chandra.