TOWR Keluar dari LQ45, Ini Katalis dan Risiko yang Perlu Dicermati



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek saham PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) menjadi sorotan setelah resmi terdepak dari indeks LQ45. Meski perubahan indeks berpotensi memicu tekanan jual dalam jangka pendek, analis berpandangan fundamental perseroan masih cukup solid sehingga peluang pertumbuhan kinerja tetap terbuka. 

Untuk diketahui, Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi mengeluarkan PT Sarana Menara Nusantara (TOWR) dari LQ45 mulai 3 Agustus 2026. 

Evaluasi ini dilakukan untuk menyesuaikan konstituen indeks berdasarkan likuiditas, kapitalisasi, dan fundamental, sehingga TOWR tidak lagi memenuhi kriteria tersebut. Saham TOWR telah mengalami penurunan harga sebesar 29,9% sejak awal tahun (YtD) menjadi Rp 410 per saham.


Baca Juga: Rupiah Diproyeksi Tembus Rp 18.100 per Dolar pada Rabu (5/8), Ini Penggeraknya

Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, mengatakan keluarnya TOWR dari indeks LQ45 bisa menambah tekanan jual karena investor institusi perlu menyesuaikan portofolionya.

“Hal ini juga dapat membuat perdagangan saham TOWR menjadi lebih sepi dan pergerakan harganya lebih bergejolak,” ujar Harry kepada Kontan, Selasa (4/8/2026).

Menurut Harry, jika pertumbuhan bisnis menara yang mulai melambat, margin yang tertekan, serta belum adanya katalis yang kuat, harga saham TOWR masih berpotensi berada dalam tekanan pada jangka pendek.

Kendati demikian, emiten kenamaan Grup Djarum itu masih melanjutkan tren pertumbuhan positif pada semester I-2026. TOWR mencatat pendapatan Rp 7,20 triliun. Torehan itu tumbuh 12,69% secara tahunan dari Rp 6,39 triliun pada semester I 2025.

Seiring naiknya pendapatan, beban pokok pendapatan juga tertekan meningkat 27,09% YoY menjadi Rp 2,58 triliun dari Rp 2,03 triliun. Meski beban meningkat, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga tumbuh 12,12% menjadi Rp 1,85 triliun dari Rp 1,65 triliun pada semester I-2025. 

Sementara itu, Analis KB Valbury Sekuritas, Steven Gunawan, mencermati monetisasi bisnis fiber TOWR terus meningkatkan kualitas laba perseroan. Saat ini, bisnis non-menara telah menjadi mesin pertumbuhan utama, sementara bisnis menara tetap menunjukkan ketahanan berkat permintaan penyewaan yang stabil.

“Risiko utama yang perlu dicermati adalah potensi suku bunga yang bertahan tinggi lebih lama (higher for longer), yang dapat meningkatkan biaya pendanaan sekaligus menekan valuasi sektor secara keseluruhan,” ujar Steven.

Sepanjang 2026, Steven pun memperkirakan pendapatan bisnis non-menara tumbuh 12% YoY menjadi Rp 5,2 triliun. Pendapatan FTTT diproyeksikan meningkat 17,5% YoY menjadi Rp3,5 triliun, sehingga kontribusinya terhadap total pendapatan naik menjadi 24,8%, dibandingkan 22,1% pada 2025.

Di sisi lain, pendapatan bisnis penyewaan menara diperkirakan tetap solid di Rp 8,8 triliun, atau naik 0,5% YoY, didukung tambahan permintaan penyewaan menara setelah merger EXCL. Kondisi tersebut diperkirakan menjaga rasio tenancy TOWR di level 1,68 kali, sedikit lebih tinggi dibandingkan 1,67 kali pada 2025.

Dari sisi makro, Harry menilai TOWR masih menghadapi sejumlah risiko, mulai dari suku bunga dan yield obligasi yang masih tinggi, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga kondisi likuiditas yang ketat. Faktor-faktor tersebut dapat meningkatkan biaya utang maupun refinancing perseroan.

Sementara dari sisi industri, konsolidasi operator telekomunikasi dinilai berpotensi mengurangi jumlah menara yang tumpang tindih sehingga dapat menekan tarif sewa. 

Selain itu, kebutuhan belanja modal yang besar untuk pengembangan bisnis serat optik (fiber) juga menjadi tantangan mengingat margin bisnis tersebut lebih rendah dibandingkan bisnis menara.

TOWR diproyeksikan masih membukukan pertumbuhan kinerja pada 2026. Equity Analyst Phillip Sekuritas, Edo Ardiansyah, membidik pendapatan perseroan diperkirakan meningkat sekitar 3,0% secara tahunan menjadi Rp 13,731 triliun, dari realisasi Rp 13,328 triliun pada 2025. 

Sejalan dengan itu, laba bersih diproyeksikan tumbuh lebih tinggi, yakni sekitar 10,0% YoY menjadi Rp 4,046 triliun, dibandingkan Rp 3,678 triliun pada tahun sebelumnya.

Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen dan katalis di atas, Edo memberikan rekomendasi untuk buy saham TOWR dengan target harga Rp 580 per saham. 

Kemudian Steven mempertahankan rekomendasi buy terhadap saham TOWR dengan target harga Rp 500 per saham.

Ada pun Harry masih mempertahankan rekomendasi neutral untuk saham TOWR dengan target harga Rp 635 per saham.

“Harga sahamnya mulai terlihat menarik, tetapi investor masih perlu menunggu perbaikan margin, penurunan biaya utang, pertumbuhan bisnis fiber, dan kepastian dampak konsolidasi industri telekomunikasi,” pungkas Harry.

Baca Juga: Charoen Pokphand (CPIN) Raup Kenaikan Laba dan Penjualan pada Semester I-2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News