Toyota dan Honda Terancam Tanggung Beban Tarif Trump kepada Kanada



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menaikkan tarif impor mobil dari Kanada menjadi 50% berpotensi memberikan tekanan besar terhadap industri otomotif Jepang.

Toyota Motor dan Honda Motor menjadi dua produsen yang paling rentan terdampak karena sebagian besar produksi mobil Kanada berasal dari kedua perusahaan tersebut.

Trump menargetkan penerapan tarif baru tersebut mulai 1 Januari 2027. Jika kebijakan itu benar-benar diberlakukan, Toyota dan Honda berpotensi menutup sejumlah lini produksi di Kanada, menurut analis.


Kendati kesepakatan masih mungkin dicapai untuk mencegah tarif tersebut berlaku, waktunya dinilai sangat tidak menguntungkan bagi produsen mobil Jepang. Pasalnya, Toyota dan Honda saat ini juga menghadapi tekanan persaingan dari kendaraan listrik (EV) China berbiaya rendah di sejumlah pasar seperti Asia Tenggara, Eropa, dan Amerika Latin.

Amerika Serikat tetap menjadi pasar terbesar bagi Toyota dan Honda. Yang menjadi keuntungan penting bagi kedua produsen Jepang tersebut, kendaraan dari pesaing China seperti BYD belum diperbolehkan masuk ke pasar AS.

Baca Juga: Konsumsi Makin Kuat, Penjualan Ritel Jepang Tumbuh 4% di Juli 2026

Menurut analis Barclays, mobil yang diproduksi di Kanada menyumbang hampir seperempat penjualan Honda di AS dan 17% penjualan Toyota pada tahun lalu. Persentase tersebut merupakan yang tertinggi di antara produsen otomotif besar.

Dengan demikian, Toyota dan Honda berpotensi menghadapi dampak terbesar dari rencana Trump untuk menggandakan tarif impor mobil dari Kanada, dari saat ini sebesar 25% menjadi 50%.

"Jika Anda benar-benar ingin menghancurkan industri otomotif Kanada, Anda bisa melakukannya dengan tarif ini," kata Julie Boote, analis otomotif di Pelham Smithers Associates, London.

Menurut Boote, kedua perusahaan kemungkinan harus menutup sejumlah lini perakitan mereka di Kanada.

Toyota dan Honda tidak memberikan komentar terkait rencana tersebut.

Industri otomotif Kanada terancam

Industri otomotif Kanada memproduksi sekitar 1,2 juta kendaraan per tahun dan secara tidak langsung menopang sekitar 427.000 lapangan pekerjaan.

Toyota mengekspor sejumlah kendaraan produksi Kanada ke AS, termasuk RAV4. Sementara itu, Honda mengekspor CR-V. Kedua model tersebut merupakan SUV dengan penjualan terbesar di pasar AS.

Rencana tarif baru tersebut menjadi contoh terbaru dari kebijakan perdagangan Trump yang membuat industri otomotif global harus bergerak cepat untuk menyesuaikan diri.

Selama bertahun-tahun, produsen mobil dan pemasok dari AS, Eropa, Jepang, serta Korea Selatan membangun rantai produksi di seluruh Amerika Utara. Strategi tersebut memanfaatkan perdagangan lintas batas dan, khususnya di Meksiko, biaya tenaga kerja yang lebih rendah.

Baca Juga: Hubungan AS-Taiwan Disebut Makin Kuat, Investasi Chip Capai US$265 miliar

Namun, struktur biaya tersebut kini berubah drastis.

Kebijakan tarif AS bahkan telah membebani Toyota sekitar 1,4 triliun yen atau setara US$8,8 miliar pada tahun finansial terakhir.

Toyota perkuat produksi di AS

Toyota kini semakin memperkuat basis produksinya di Amerika Serikat. Produsen mobil terbesar di dunia tersebut pada tahun lalu menyatakan berencana menginvestasikan hingga US$10 miliar selama lima tahun untuk memperluas operasionalnya di AS.

Investasi tersebut mencakup pembangunan pabrik kendaraan baru senilai US$3,6 miliar di Texas. Toyota berencana memindahkan produksi pikap Tacoma ke fasilitas tersebut dari pabriknya di Baja California, Meksiko.

Langkah tersebut menunjukkan bagaimana kebijakan tarif AS mendorong produsen otomotif untuk menyesuaikan kembali lokasi produksi dan rantai pasok mereka.

Sementara itu, Honda menghadapi tekanan yang lebih besar karena masih berupaya membalikkan kinerja bisnis mobilnya yang mengalami kerugian.

Seorang eksekutif senior Honda baru-baru ini mengatakan kepada wartawan bahwa perusahaan kemungkinan tidak akan membangun pabrik perakitan kedelapan di Amerika Utara apabila pembicaraan perdagangan bebas USMCA antara AS, Kanada, dan Meksiko tidak diperpanjang.

USMCA merupakan versi revisi dari pakta perdagangan bebas NAFTA 1994 dan telah berlaku selama enam tahun. Pada 1 Juli, Trump memilih untuk tidak memperpanjang USMCA dan menjadikannya sebagai kesepakatan yang akan menjalani peninjauan tahunan, meskipun pembicaraan masih terus berlangsung.

Tahun lalu, produsen mobil Korea Selatan Hyundai juga menyatakan ketidakpastian mengenai USMCA telah menunda keputusan investasinya.

Baca Juga: Banjir dan Puing Hambat Evakuasi, Korban Tewas Bencana Himalaya Hampir 800 Orang

Toyota dan Honda hadapi perubahan besar

Apabila tarif 50% mulai berlaku, Toyota dan Honda kemungkinan akan berupaya mengalihkan kendaraan yang diproduksi di Kanada ke pasar lain. Pada saat yang sama, kedua perusahaan harus mencari cara untuk memenuhi kebutuhan pasokan di pasar AS yang sangat penting.

Namun, langkah tersebut tidak mudah dilakukan.

Kendaraan yang ditujukan untuk pasar AS sering kali dirancang sesuai dengan kebutuhan dan regulasi setempat. Sementara itu, fasilitas produksi di negara lain kemungkinan sudah beroperasi mendekati kapasitas maksimal.

"Ini akan menjadi perubahan besar dibandingkan masa lalu," kata Seiji Sugiura, analis senior di Tokai Tokyo Intelligence Laboratory.

Dua pemasok komponen otomotif Jepang juga menyatakan belum mengetahui bagaimana perkembangan selanjutnya. Mereka menilai perencanaan masih sulit dilakukan karena belum ada kepastian apakah tarif tersebut benar-benar akan diberlakukan.

"Kami berusaha untuk tidak bereaksi secara berlebihan," ujar salah satu eksekutif pemasok tersebut.

Jika tarif 50% benar-benar diterapkan, dampaknya tidak hanya akan dirasakan oleh Toyota dan Honda. Perubahan tersebut berpotensi mengganggu rantai pasok otomotif Amerika Utara yang selama puluhan tahun dibangun berdasarkan integrasi produksi antara AS, Kanada, dan Meksiko.