KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Seorang trader misterius dilaporkan meraup keuntungan sekitar US$ 410.000 (sekitar Rp 6,8 miliar) setelah Presiden Venezuela Nicolas Maduro lengser dari jabatannya. Keuntungan tersebut diperoleh melalui platform pasar prediksi Polymarket, menyusul kabar penangkapan Maduro dalam operasi militer Amerika Serikat pada akhir pekan lalu. Berdasarkan data Polymarket, akun anonim tersebut sebelumnya membangun posisi pada kontrak yang terkait dengan kemungkinan Maduro dilengserkan, dengan peluang yang tergolong kecil sebelum terjadinya operasi militer. Nilai taruhan itu diperkirakan hanya sekitar US$ 34.000 sebelum kabar penangkapan Maduro mencuat. Namun, setelah berita operasi militer AS terhadap pemimpin Venezuela itu tersebar, nilai kontrak melonjak tajam dan menghasilkan keuntungan ratusan ribu dolar AS.
Dampak Global: Saham Menguat, Harga Minyak Naik
Penangkapan Nicolas Maduro turut memicu reaksi positif di pasar keuangan global. Indeks saham utama di Amerika Serikat tercatat menguat pada awal perdagangan hari Senin, sementara harga minyak dunia naik dan saham-saham sektor energi mencatatkan kenaikan signifikan.
Baca Juga: Saham Coinbase Melonjak 8% Usai Goldman Sachs Naikkan Rekomendasi Jadi Buy Selain itu, obligasi pemerintah Venezuela yang sebelumnya tertekan akibat status gagal bayar (default) mengalami lonjakan tajam. Obligasi negara serta obligasi perusahaan minyak milik negara, Petroleos de Venezuela SA (PDVSA), dilaporkan melonjak hingga 10 sen per dolar, atau hampir 30%, didorong ekspektasi investor terhadap potensi restrukturisasi utang negara yang besar dan kompleks.
Taruhan Kontroversial dan Sorotan Legislator AS
Transaksi misterius ini diperkirakan akan menarik perhatian serius dari para pembuat kebijakan di Amerika Serikat. Sejumlah anggota parlemen AS selama ini mendorong pengetatan aturan terkait insider trading, termasuk upaya bipartisan untuk melarang anggota legislatif memperdagangkan saham. Menanggapi kabar keuntungan dari taruhan kejatuhan Maduro, anggota Kongres dari Partai Demokrat Ritchie Torres menyatakan akan mengajukan rancangan undang-undang (RUU) pada pekan ini. RUU tersebut bertujuan melarang pejabat terpilih, anggota parlemen, dan pegawai federal memasang taruhan di platform pasar prediksi, terutama jika mereka berpotensi memiliki akses terhadap informasi material yang belum dipublikasikan.
Jejak Transaksi di Polymarket
Akun anonim tersebut diketahui baru dibuat bulan lalu. Pada 27 Desember, trader itu membeli kontrak senilai US$ 96 yang akan memberikan imbal hasil jika Amerika Serikat menginvasi Venezuela sebelum 31 Januari. Dalam beberapa hari berikutnya, trader tersebut kembali menambah posisi dengan taruhan serupa. Pasar prediksi seperti Polymarket menawarkan kontrak “ya atau tidak” yang dapat diperdagangkan, memungkinkan pengguna bertaruh atas berbagai peristiwa dunia nyata, mulai dari olahraga, hiburan, politik, hingga ekonomi.
Baca Juga: Dragonfly: Google hingga Apple Berpeluang Rilis Crypto Wallet Tahun 2026 Kontrak yang awalnya dihargai hanya beberapa sen dapat dibayarkan hingga US$ 1, sehingga potensi keuntungannya sangat besar jika prediksi terbukti benar—terutama bagi pihak yang memiliki akses ke informasi non-publik.
Regulasi dan Kontroversi Polymarket
Pada September lalu, Polymarket memperoleh persetujuan dari Commodity Futures Trading Commission (CFTC) AS untuk kembali beroperasi di Amerika Serikat, menyusul akuisisi senilai US$ 112 juta atas QCEX, sebuah bursa derivatif dan lembaga kliring berlisensi CFTC.
Namun, hingga kini CFTC belum memberikan tanggapan terkait apakah mereka tengah menyelidiki transaksi yang berkaitan dengan penangkapan Maduro. Polymarket sendiri juga belum merespons permintaan komentar. Sebelumnya, Polymarket sudah beberapa kali mendapat sorotan terkait potensi praktik insider trading. Meski warga negara AS secara resmi belum dapat mengakses platform taruhan utama tersebut, sejumlah trader diketahui menggunakan VPN untuk menghindari pembatasan akses.