KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Emiten sektor telekomunikasi diproyeksi mendapat katalis tambahan saat Ramadan dan Lebaran. Sebab pada momen tersebut trafik data diproyeksi meningkat. Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas mengatakan, potensi peningkatan lonjakan trafik Ramadan secara historis berada di kisaran 15% sampai 20%, dengan trafik broadband Telkomsel tercatat meningkat sekitar 12% dibanding saat kondisi hari biasanya dan naik 15% secara year on year (yoy) atau secara tahunan pada Ramadan dan Lebaran tahun 2025. “Namun karena dominasi paket promo, dampak ke monetisasi lebih terbatas, dengan estimasi rata-rata pendapatan per pengguna atau Average Revenue Per User (ARPU) bisa naik sekitar 2% sampai 5% secara
quarter on quarter (qoq),” ucap Sukarno kepada Kontan, Jumat (27/2/2026).
Sukarno menambahkan, momentum Ramadan lebih berperan sebagai ARPU catalyst dibanding penambahan pelanggan. Hal ini seiring penetrasi seluler yang sudah mature dan fokus operator pada kualitas pelanggan.
Baca Juga: IHSG Berpotensi Konsolidasi pada Maret 2026 di Tengah Eskalasi Konflik Iran Sukarno mencontohkan proyeksi kontribusi data saat Ramadan dan Lebaran, terhadap pendapatan pada kuartal I – 2026 besar kemungkinan berpotensi di atas 5% dari total keseluruhan yang berkontribusi di 49% pada emiten PT Telkom Indonesia Tbk (
TLKM). Aurelia Barus, Analis Indo Premier Sekuritas (IPOT) mengatakan bahwa IPOT telah melakukan survei kinerja sektor telekomunikasi. Dia mencatat bahwa PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (
EXCL) meningkatkan ARPU melalui paket dengan harga lebih tinggi meskipun hasil data lebih rendah. Aurelia mengatakan, untuk XL, di segmen pengeluaran Rp 50.000, harga paket rata-rata naik 10% secara bulanan (month on month/mom) per Januari 2026, setelah peluncuran XL Ultra 5G+ (seharga Rp 250.000 – Rp 300.000), meskipun dengan hasil (yields) yang lebih rendah yaitu Rp 0,6 – 0,8/MB. Namun, yields Bebas Puas 1GB – 2GB naik 100% - 200%, sehingga meningkatkan yield keseluruhan sebesar 10% secara bulanan. Untuk Smartfren, rata – rata harga paket turun 2% dan yield rata-rata turun 6% secara bulanan karena peluncuran produk baru. Meskipun hasil untuk tiga paket kuota yang sudah ada naik 9% sampai 29% secara bulanan. Lalu, untuk Axis, harga paket rata – rata naik 41% dan yield paket rata – rata naik 39% secara bulanan di seluruh segmen pengeluaran Rp 50.000 menyusul penawaran baru. “Pada segmen pengeluaran konsumen lebih dari Rp 50.000, enam penyesuaian harga paket data dilakukan pada Januari 2026 dengan kisaran antara harga yang turun Rp 1.500 hingga harga paket data yang naik Rp 5.000,” ucap Aurelia kepada Kontan, Jumat (27/2/2026). Kemudian terkait PT Indosat Tbk (
ISAT), Aurelia melihat tidak ada perubahan untuk IM3, dengan sedikit perubahan pada Tri. Untuk kartu SIM IM3 dengan pengeluaran bulanan Rp 50.000, tidak ada perubahan pada harga paket rata-rata atau yield data. Untuk Tri, rata-rata harga paket dan yield turun masing – masing sebesar 3% dan 1% secara bulanan per Januari 2026 karena diperkenalkannya dua paket baru.
Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham Pilihan untuk Sektor Telekomunikasi Jelang Lebaran 2026 Selanjutnya terkait PT Telkom Indonesia Tbk (
TLKM), Aurelia melihat yield stabil di segmen pengeluaran Rp 50.000 karena yield yang turun 13% secara bulanan dan harga paket naik 18% secara bulanan. Hal itu karena peluncuran paket dengan yield lebih rendah dan kenaikan harga selektif. Adapun untuk by.U dan TSEL Lite, yield masing – masing meningkat sebesar 78% dan 2,4% secara bulanan per Januari 2026, setelah peluncuran paket baru. Secara keseluruhan, ini sejalan dengan strategi TLKM untuk melindungi yield di segmen konsumen bawah sambil meningkatkan ARPU melalui pengeluaran yang lebih tinggi di segmen konsumen atas, meskipun dengan yield yang lebih rendah. “Pada Januari 2026, EXCL dan TSEL berupaya meningkatkan ARPU (pendapatan rata-rata per pengguna) melalui paket dengan harga lebih tinggi meskipun yield data lebih rendah. Penawaran ISAT stabil dari bulan ke bulan,” terang Aurelia. Kafi Ananta, Analis BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan, operator jaringan seluler akan memasuki fase pertumbuhan yang lebih rasional pasca-konsolidasi pada tahun 2026, dengan tingkat churn yang lebih rendah setelah rasionalisasi paket awal dan peningkatan ARPU lebih lanjut. “Kami memperkirakan upaya penyesuaian harga akan berlanjut hingga tahun 2026 karena operator mengalihkan fokus dari akuisisi pelanggan ke monetisasi perpanjangan kontrak,” ujar Kafi dalam risetnya pada 17 Desember 2025. Dengan pendapatan dari paket data yang masih 9% - 15% di bawah rata-rata 3 tahun dan biaya data di Indonesia tetap sangat terjangkau, Kafi meyakini sektor telekomunikasi memiliki ruang yang jelas untuk peningkatan pendapatan.
“Sementara itu, lelang spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz yang akan datang dan meningkatnya kebutuhan investasi 5G akan semakin memperkuat disiplin harga pada tahun 2026,” ucap Kafi. Terkait rekomendasi, Sukarno merekomendasikan
Buy saham TLKM dengan target harga Rp 4.000 per saham. Aurelia merekomendasikan beli saham EXCL dengan target harga Rp 5.120 per saham. Sementara Kafi merekomendasikan beli saham ISAT, TLKM, dan EXCL dengan target harga masing – masing Rp 3.000 per saham, Rp 4.000 per saham, dan Rp 4.100 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News