KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Bisnis agen laku pandai atau
branchless banking masih menunjukkan prospek positif di tengah pesatnya perkembangan layanan keuangan digital. Sejumlah bank terus memperluas jaringan agen untuk memperkuat inklusi keuangan sekaligus mendorong pertumbuhan transaksi. PT Bank BPD DIY menjadi salah satu bank yang mencatatkan pertumbuhan bisnis agen laku pandai sepanjang tahun ini. Hingga 31 Juli 2026, nilai transaksi melalui agen laku pandai mencapai Rp 35,6 miliar dengan frekuensi sebanyak 233.000 transaksi. Direktur Pemasaran dan Usaha Syariah Bank BPD DIY R. Agus Trimurjanto mengatakan, perkembangan bisnis agen laku pandai masih menunjukkan tren yang positif, baik dari sisi jumlah agen maupun aktivitas transaksi.
Baca Juga: Bank Kecil Sambut Konsep Universal Banking, Siap Perkuat Daya Saing "Perkembangan bisnis agen laku pandai menunjukkan tren pertumbuhan yang positif, baik dari sisi ekspansi jaringan agen maupun aktivitas transaksi nasabah. Agen laku pandai tetap diminati masyarakat sebagai perpanjangan tangan perbankan di tengah pesatnya perkembangan industri fintech," ujar Agus kepada Kontan.co.id, Kamis (6/8). Hingga akhir Juli 2026, jumlah agen laku pandai Bank BPD DIY mencapai 2.228 agen atau meningkat 18% secara tahunan (
year on year/YoY). Menurut Agus, pertumbuhan tersebut didorong oleh sejumlah strategi, mulai dari sinergi dengan Ekosistem Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD), kolaborasi dengan pelaku usaha lokal dan Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal), penetrasi ke sektor pendidikan melalui pembentukan agen sekolah, hingga optimalisasi aplikasi BPDDIY Agen. Selain itu, perseroan juga mengandalkan strategi
hyperlocal agar tetap kompetitif menghadapi maraknya layanan f
inancial technology (fintech). Dari sisi kontribusi terhadap bisnis, agen laku pandai menyumbang
fee based income (FBI) sebesar Rp 582,7 juta atau sekitar 1% dari total FBI Bank BPD DIY hingga Juli 2026. Sementara itu, kontribusi terhadap dana murah atau
current account saving account (CASA) mencapai 0,35% dari total dana pihak ketiga (DPK). Adapun kontribusi terhadap referral kredit masih terbatas pada agen dengan kategori tertentu. Di sisi lain, pembentukan rekening
Basic Saving Account (BSA) telah mencapai 57% dari total agen laku pandai. Untuk menjaga momentum pertumbuhan, Bank BPD DIY menargetkan jumlah agen meningkat menjadi sekitar 2.300 agen hingga akhir tahun atau tumbuh sekitar 6% dari posisi saat ini. Agus mengatakan, perseroan telah menyiapkan lima strategi utama untuk mencapai target tersebut, yakni pemetaan wilayah potensial, pendampingan intensif pada fase awal operasional agen, pemanfaatan komunitas dan tokoh lokal, penguatan sinergi ETPD bersama pemerintah daerah, serta peningkatan literasi keuangan melalui program SAMBANG KALURAHAN Satu Dusun Satu Agen. Di sisi lain, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) juga terus memperbesar bisnis branchless banking melalui jaringan BSI Agen. Hingga Juni 2026, jumlah agen BSI telah melampaui 130.000 agen yang tersebar di seluruh Indonesia, mulai dari Sabang hingga Merauke. Ekspansi tersebut diikuti pertumbuhan transaksi yang signifikan. Sepanjang semester I-2026, volume transaksi melalui BSI Agen mencapai Rp 52,80 triliun, meningkat 38,41% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Direktur Sales & Distribution BSI Anton Sukarna mengatakan, pengembangan jaringan BSI Agen merupakan bagian dari strategi perseroan untuk memperluas akses layanan keuangan syariah, khususnya di wilayah yang belum terjangkau kantor cabang maupun ATM. "Hingga saat ini, BSI Agen telah hadir di lebih dari 130.000 titik layanan yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Kami terus memperluas jaringan agar masyarakat, termasuk yang tinggal di desa dan wilayah terluar, dapat mengakses layanan perbankan syariah dengan mudah tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke kantor cabang maupun ATM," ujar Anton. Menurutnya, jumlah BSI Agen juga terus bertambah dengan pertumbuhan rata-rata sekitar 8,13% per tahun, mencerminkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap layanan keuangan yang mudah dijangkau. Selain memperluas akses layanan, jaringan BSI Agen juga menjadi sumber pendapatan tambahan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Mayoritas agen merupakan pemilik toko kelontong, konter pulsa, maupun pelaku usaha ritel yang memperoleh komisi dari setiap transaksi yang dilayani. "BSI Agen bukan hanya menghadirkan layanan perbankan di tengah masyarakat, tetapi juga menciptakan peluang usaha baru bagi pelaku UMKM. Semakin besar aktivitas transaksi yang dilayani, semakin besar pula manfaat ekonomi yang diterima agen," kata Anton.
Melalui jaringan tersebut, masyarakat dapat menikmati berbagai layanan mulai dari setor dan tarik tunai, transfer antarbank, pembayaran tagihan, pembelian produk digital, hingga top up dompet elektronik. Agen juga melayani pembukaan rekening, referensi BSI Emas, Tabungan Haji, serta berbagai layanan pendukung ekosistem penyelenggaraan ibadah haji. Dengan ekspansi yang terus dilakukan sejumlah bank, bisnis agen perbankan dinilai masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar. Selain memperluas jangkauan layanan keuangan, model bisnis ini juga menjadi instrumen penting dalam mendorong inklusi keuangan sekaligus memberdayakan pelaku UMKM di berbagai daerah.
Baca Juga: Laba Multifinance Tembus Rp12,75 Triliun, Tumbuh 15,72% hingga Juni 2026 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News