KONTAN.CO.ID – JAKARTA.
Transaksi melalui BI-Fast terus tumbuh pesat seiring semakin tingginya kebutuhan masyarakat terhadap layanan pembayaran digital yang cepat dan real time. Bank Indonesia (BI) mencatat, volume transaksi BI-Fast mencapai 2,9 miliar transaksi pada semester I-2026, tumbuh 32,42% secara tahunan (
year-on-year/yoy). Nilai transaksi yang diproses melalui sistem pembayaran tersebut juga meningkat 31,95% yoy menjadi Rp 7.296 triliun dalam periode ini.
Baca Juga: BRI Tebar Promo Spesial di Momen HUT RI Ke-81, Ada Cashback hingga 50% Pertumbuhan transaksi tersebut turut tercermin di sejumlah perbankan besar. PT Bank Central Asia Tbk (BCA), misalnya, telah memproses sekitar 1,26 miliar transaksi BI-Fast sepanjang semester I-2026. Transaksi tersebut memiliki nilai mencapai Rp 3.536 triliun. EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn kinerja tersebut turut menyumbang cuan bagi bank. "Transaksi BI-Fast yang diproses melalui sistem BCA turut berkontribusi secara positif terhadap pendapatan
fee dan komisi perseroan pada semester I 2026," ujarnya kepada Kontan, Jumat (14/8/2026). Hanya saja, ia tak merincikan nilainya. Sebagai gambaran, pendapatan fee dan komisi BCA dalam periode ini tumbuh 11,2% yoy menjadi Rp 11 triliun. BCA melihat penguatan infrastruktur BI-Fast menjadi salah satu faktor yang mendukung pertumbuhan transaksi. Salah satunya melalui pengembangan fitur
bulk credit atau transfer kolektif serta
direct debit atau penagihan otomatis.
Baca Juga: Bank Mandiri (BMRI) Catat Laba Bersih Tumbuh 24% Jadi Rp 33,01 Triliun pada Juli 2026 Hera mengaku pihaknya berharap volume transaksi BI-Fast bakal terus meningkat seiring dengan implementasi sistem tersebut di sejumlah kanal BCA serta meningkatnya kebutuhan digitalisasi sistem pembayaran. BCA juga terus memperkuat ekosistem finansial serta melakukan penyempurnaan dan modernisasi infrastruktur teknologi informasi. Langkah tersebut, kata Hera, dilakukan untuk mendukung keandalan dan keamanan berbagai layanan transaksi digital perbankan. Pertumbuhan transaksi BI-Fast juga tercermin di PT Bank Mandiri Tbk. Bank pelat merah ini mencatatkan pertumbuhan volume transaksi BI-FAST kisaran 27% yoy per Juli 2026. Sementara nilai transaksinya meningkat sekitar 29% yoy. SVP Digital Retail Bank Mandiri Yanto Masyap bilang pertumbuhan tersebut mencerminkan meningkatnya adopsi layanan pembayaran digital oleh nasabah di tengah kebutuhan transaksi yang semakin cepat, aman dan efisien. "Bank Mandiri optimistis transaksi BI-Fast masih akan mencatat pertumbuhan yang positif tahun ini, baik dari sisi volume maupun nilai transaksi," ujar Yanto. Pertumbuhan transaksi BI-Fast juga memberikan kontribusi positif terhadap
fee-based income Bank Mandiri.
Baca Juga: Gandeng BCA, Pegadaian Genjot Tabungan Emas di Kalangan Gen Z Berdasarkan ketentuan BI, biaya transaksi BI-FAST yang dapat dikenakan kepada nasabah maksimal Rp2.500 per transaksi. Nah, Yanto menjelaskan, Bank Mandiri memperoleh porsi pendapatan dari biaya tersebut setelah dikurangi biaya
switching dan settlement. Dus, tingginya frekuensi transaksi memberikan kontribusi positif terhadap FBI bank. Ke depan, Bank Mandiri bakal memperkuat kapabilitas transaksi digital melalui pengembangan fitur pembayaran dan transfer, peningkatan
user experience, serta optimalisasi fitur-fitur BI-Fast lanjutan. Yanto bilang pihaknya juga bakal memperluas integrasi layanan pembayaran digital untuk kebutuhan ritel maupun
wholesale guna mendorong pertumbuhan transaksi dan memperkuat
engagement nasabah dalam ekosistem digital Bank Mandiri. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News