Transaksi Digital Jadi Mesin Pertumbuhan, Bank Perkuat Inovasi Finansial



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pertumbuhan transaksi digital terus menjadi salah satu pendorong utama kinerja industri perbankan. Seiring meningkatnya adopsi layanan digital oleh masyarakat, bank-bank berlomba memperkuat inovasi untuk meningkatkan loyalitas nasabah sekaligus membuka sumber pendapatan baru.

Transformasi digital yang semakin masif tak hanya mengubah pola transaksi nasabah, tetapi juga mendorong peningkatan pendapatan berbasis komisi (fee based income). Di sisi lain, perbankan kini mulai memperluas layanan digital ke berbagai kebutuhan finansial, mulai dari investasi hingga produk asuransi.

Salah satu bank yang merasakan dampak positif tren tersebut adalah CIMB Niaga. Head of Digital Banking & Contact Center CIMB Niaga Lusiana Saleh mengungkapkan, sebanyak 91% transaksi nasabah CIMB Niaga kini telah dilakukan secara digital melalui aplikasi OCTO.


Menurut Lusiana, transaksi digital terbesar masih berasal dari layanan transfer dana. Setelah itu disusul transaksi melalui QRIS, top-up uang elektronik dan dompet digital, pembayaran tagihan (bill payment), hingga layanan investasi.

Ia menjelaskan, peningkatan transaksi digital turut memberikan kontribusi terhadap pendapatan komisi bank. Namun, di tengah persaingan industri saat ini, CIMB Niaga lebih mengedepankan strategi membangun loyalitas nasabah dibanding mengejar keuntungan jangka pendek dari setiap transaksi.

Baca Juga: NIM Tertekan, Perbankan Makin Agresif Genjot Fee Based Income

Strategi tersebut salah satunya diwujudkan melalui kebijakan menggratiskan biaya transfer menggunakan BI-FAST.

“Kami sudah let go pendapatan di sana. Kami lebih melihat strategi jangka panjang, jadi tidak fokus satu produk disesuaikan dengan biaya,” ungkap Lusiana saat ditemui di Jakarta, Kamis (2/7/2026).

Menurutnya, ketika nasabah semakin terikat dengan layanan bank, penggunaan produk akan semakin beragam. Dengan demikian, potensi pendapatan tidak hanya berasal dari transaksi digital, tetapi juga dari pemanfaatan berbagai produk dan layanan perbankan lainnya.

Sebagai bagian dari penguatan ekosistem digital, bulan ini CIMB Niaga juga akan meluncurkan dua produk asuransi melalui aplikasi OCTO bekerja sama dengan mitra strategisnya, Sun Life. Produk tersebut meliputi asuransi jiwa dan asuransi kesehatan.

Lusiana mengatakan, pengembangan OCTO saat ini difokuskan pada layanan finansial dan investasi. Saat ini sekitar 60% transaksi investasi nasabah telah dilakukan melalui OCTO, dengan produk reksa dana menjadi yang paling banyak diminati.

Alih-alih menghadirkan ratusan fitur dalam satu aplikasi, CIMB Niaga memilih memperdalam kualitas layanan yang sudah tersedia agar mampu memenuhi kebutuhan finansial nasabah secara menyeluruh atau end-to-end.

Sementara itu, Bank Tabungan Negara (BTN) juga terus memperluas inovasi layanan digital untuk menangkap peluang pertumbuhan transaksi elektronik. Selain memperkuat layanan investasi, BTN juga mengembangkan implementasi QRIS Tap, QRIS Transfer, tabungan emas, hingga layanan paylater.

Senior Executive Vice President (SEVP) Digital Business BTN Thomas Wahyudi mengatakan, hingga Juni 2026 total transaksi digital BTN telah mencapai sekitar 191 juta transaksi.

Dari jumlah tersebut, aplikasi Balé by BTN menjadi kontributor terbesar dengan sekitar 63,1 juta transaksi atau tumbuh sekitar 88% secara tahunan (year on year/yoy).

Baca Juga: Saham Bank Big Caps Melesat, Analis: Belum Jadi Sinyal Reversal

Thomas menilai pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin kuatnya posisi Balé by BTN sebagai kanal utama transaksi digital nasabah sekaligus super app yang menyediakan berbagai layanan dalam satu aplikasi.

Ia merinci, transaksi yang paling banyak digunakan nasabah meliputi transfer BI-FAST, transfer dana reguler, pembayaran QRIS, pembelian token listrik, pembayaran tagihan seperti PDAM, hingga top-up dompet digital.

“Aktivitas tersebut turut mendukung pertumbuhan transaksi digital sekaligus memberikan kontribusi terhadap peningkatan fee based income dan penghimpunan dana murah,” ujar Thomas.

Ke depan, BTN menargetkan total transaksi digital dapat mencapai 300 juta transaksi hingga akhir 2026.

Menurut Thomas, target tersebut didukung oleh sejumlah faktor eksternal, seperti semakin luasnya penggunaan QRIS, meningkatnya aktivitas ekonomi, serta perubahan perilaku masyarakat yang semakin mengandalkan layanan digital dalam bertransaksi.

Dari sisi internal, BTN akan terus mendorong pertumbuhan pengguna aktif Balé by BTN melalui penambahan fitur dan layanan, sekaligus memperluas ekosistem merchant dan kemitraan strategis guna meningkatkan frekuensi transaksi digital nasabah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News