Transaksi Digital Travel Meningkat, Risiko Fraud Semakin Berat



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Peningkatan transaksi digital dan pembayaran lintas negara atau cross-border di industri perjalanan turut diikuti tantangan keamanan transaksi. Pola fraud atau kecurangan dalam transaksi travel dinilai semakin kompleks dalam beberapa tahun terakhir.

VP of Business Development (Airlines & Travel) DOKU, Dinus Hafis mengatakan, perkembangan tersebut seiring semakin luasnya penggunaan transaksi digital dan cross-border.

Di sisi lain, teknologi keamanan juga terus berkembang untuk membantu pelaku usaha mendeteksi transaksi yang berisiko. "Seiring meningkatnya transaksi digital dan cross-border, pola fraud juga menjadi semakin kompleks," kata Dinus, Rabu (26/8) 


Menurut Dinus, terdapat sejumlah modus fraud yang umum ditemui di sektor travel. Salah satunya penggunaan kartu kredit hasil pencurian atau card-not-present fraud.

Modus lain meliputi pengambilalihan akun atau account takeover, penyalahgunaan identitas, refund fraud, hingga transaksi menggunakan akun yang telah diretas. 

Risiko tersebut menjadi salah satu tantangan dalam transaksi lintas negara. Dinus menyebut fraud pada transaksi cross-border umumnya memiliki tingkat risiko lebih tinggi dibandingkan transaksi domestik.

Selain fraud, transaksi lintas negara menghadapi risiko lain. Mulai dari fluktuasi nilai tukar, proses settlement yang membutuhkan waktu lebih panjang, biaya transfer internasional, perbedaan regulasi dan kepatuhan antarnegara, hingga potensi kegagalan pembayaran akibat perbedaan sistem pembayaran. 

Untuk menghadapi risiko fraud, teknologi mulai dimanfaatkan dalam proses pemantauan transaksi. Dinus mengatakan, artificial intelligence (AI), machine learning, risk scoring, device fingerprinting, serta autentikasi berlapis dapat digunakan untuk mendeteksi transaksi mencurigakan secara real-time.

Baca Juga: Kredit Kendaraan Bermotor Masih Tertekan, Bank Mulai Andalkan Strategi Cross-Selling

Teknologi tersebut digunakan untuk membantu menekan risiko fraud tanpa mengurangi kenyamanan pelanggan dalam melakukan pembayaran.

AI juga mulai digunakan lebih luas dalam sistem pembayaran. Selain mendeteksi fraud secara real-time, teknologi ini dimanfaatkan untuk meningkatkan akurasi analisis risiko dan mengoptimalkan approval rate transaksi.

"AI kini banyak digunakan untuk mendeteksi fraud secara real-time, meningkatkan akurasi analisis risiko, mengoptimalkan approval rate transaksi, serta membantu otomatisasi layanan pelanggan dan penyelesaian dispute," ujar Dinus. 

Dinus melihat kesiapan pelaku industri travel Indonesia dalam mengadopsi teknologi pembayaran terintegrasi juga terus meningkat. Pelaku usaha mulai berinvestasi pada integrasi API, sistem pembayaran omnichannel, serta otomatisasi operasional.

Kebutuhan perusahaan travel terhadap fitur keamanan yang lebih kuat juga meningkat seiring kebutuhan mengelola transaksi domestik maupun cross-border.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News