Transaksi Harian di BEI Anjlok 23%, Investor Asing Masih Catat Net Sell Rp 98 Triliun



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aktivitas perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami perlambatan pada pekan pertama November 2026. Rata-rata nilai transaksi harian tercatat turun 23% menjadi Rp 11,04 triliun dibandingkan pekan sebelumnya yang mencapai Rp 14,34 triliun. Di tengah pelemahan aktivitas pasar tersebut, investor asing masih membukukan aksi jual bersih atau net sell hingga Rp 98,08 triliun sepanjang 2026.

Berdasarkan data perdagangan BEI periode 2–6 November 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,13% ke level 5.050,429, dari posisi 5.057,05 pada pekan sebelumnya.

Penurunan aktivitas perdagangan juga tercermin dari sejumlah indikator lainnya. Rata-rata volume transaksi harian turun 3,5% menjadi 31,29 miliar saham, dibandingkan pekan sebelumnya sebanyak 32,43 miliar saham.


Baca Juga: Pemerintah Mulai Tawarkan ST017, Tenor Mana yang Lebih Menarik?

Sementara itu, rata-rata frekuensi transaksi harian merosot 16,44% menjadi 1,29 juta kali transaksi dari sebelumnya 1,54 juta kali transaksi.

Kapitalisasi pasar BEI turut mengalami penurunan sebesar 1,34% menjadi Rp 8.744 triliun, dari Rp 8.862 triliun pada pekan sebelumnya.

Meski demikian, tekanan jual investor asing mulai diimbangi aksi beli pada perdagangan akhir pekan. Pada Jumat (6/11), investor asing mencatatkan nilai beli bersih sebesar Rp 328,20 miliar. Namun, angka tersebut belum mampu mengubah posisi transaksi asing secara kumulatif yang masih mencatatkan jual bersih Rp 98,08 triliun sepanjang tahun berjalan 2026.

Di tengah dinamika perdagangan tersebut, BEI terus menjalankan sejumlah inisiatif untuk memperkuat fondasi pasar modal, mulai dari peningkatan kualitas perusahaan yang akan melantai di bursa, transparansi kepemilikan saham, hingga perluasan literasi dan inklusi investasi.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah memperkuat kesiapan perusahaan, khususnya usaha kecil dan menengah (UKM), untuk mengakses pendanaan melalui pasar modal. Pada Senin (2/11), BEI bersama Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), PT Surveyor Indonesia, serta sejumlah perguruan tinggi menandatangani nota kesepahaman sekaligus meluncurkan Go Public Academy for SMEs di Main Hall BEI.

Program tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang RISE to IPO yang menyediakan edukasi, peningkatan kapasitas, hingga pendampingan bagi perusahaan yang ingin melakukan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO).

Baca Juga: Rupiah Menguat 0,32% Dalam Sepekan, Simak Proyeksinya untuk Pekan Depan

Sejak 2025, rangkaian program RISE to IPO telah menjangkau 281 perusahaan di lima kota, yakni Jakarta, Semarang, Surabaya, Makassar, dan Bandung. Melalui program ini, BEI berupaya meningkatkan kualitas tata kelola, kesiapan keuangan, transparansi, serta daya saing perusahaan agar semakin banyak pelaku usaha nasional yang siap memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan jangka panjang.

Penguatan transparansi juga menjadi perhatian BEI melalui penyempurnaan ketentuan pelaporan kepemilikan saham. Pada 2 November 2026, BEI menerbitkan Surat Keputusan Direksi Nomor Kep-00160/BEI/11-2026 tentang Perubahan Ketentuan Laporan Bulanan Kegiatan Registrasi Kepemilikan Saham (SK LBRE).

Melalui ketentuan terbaru tersebut, informasi kepemilikan saham di atas 1% akan dilengkapi dengan status pemegang saham sebagai Pengendali maupun Afiliasi Pengendali. Informasi tersebut selanjutnya dipublikasikan secara bulanan melalui situs web BEI.

Kebijakan ini diharapkan memberikan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai struktur dan konsentrasi kepemilikan saham perusahaan tercatat. Dengan demikian, investor memiliki referensi tambahan dalam mengambil keputusan investasi, sekaligus mendukung transparansi dan pengawasan pasar modal.

​

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News