KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Transaksi digital perbankan meningkat semakin pesat seiring dengan transformasi digital yang terus digalakkan hampir semua bank belakangan. Perkembangan transaksi paling signifikan terjadi pada layanan mobile banking. Tingginya transaksi mobile banking bisa mendorong pendapatan berbasis komisi alias fee based income (FBI) bank-bank. Selain itu, volume transaksi yang besar merupakan jalan bagi bank memperbesar dana murahnya. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), volume transaksi mobile banking perbankan sepanjang sembilan bulan pertama 2024 mencapai 14,09 miliar, melonjak 68,5% dari periode yang sama tahun sebelumnya yang baru tercatat 8,36 miliar. Nilai transaksinya selama periode tersebut juga melesat hingga 71,8% secara tahunan menjadi Rp 16.725 triliun.
Sepanjang tahun 2024, BI memproyeksi volume transaksi mobile banking akan tembus 20,56 miliar atau tumbuh 47,1% YoY dengan nilai transaksi mencapai Rp 24.486,8 triliun (Rp 24,4 kuadriliun) atau tumbuh 47,1% YoY. Baca Juga: Bank Panen Dana Murah, Dari Transformasi Digital BI memperkirakan lonjakan transaksi akan terus berlanjut ke depan. Pada tahun 2025, regulator sistem pembayaran ini memprediksi volume transaksi mobile banking tahun depan akan mencapai 32,58 miliar dengan nilai mencapai Rp 37.612,9 triliun, masing-masing tumbuh 53,6% YoY. Proyeksi itu sejalan dengan total transaksi pembayaran digital diprediksi akan terus melanjutkan pertumbuhan pesat. Frekuensi transaksi pembayaran digital sepanjang 2024 diprediksi mencapai 36,34 miliar kali atau meningkat 43,5% secara tahunan dengan nilai sebesar Rp 71.038 triliun atau tumbuh 19,6% YoY. Adapun volume transaksi pembayaran digital tahun 2025 diproyeksi mencapai 55,35 miliar kali atau melonjak 52,3% YoY dengan niai Rp 105.665,5 triliun (kuadriliun) atau melonjak 48,7% YoY. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, dengan semakin meluasnya akseptasi masyarakat akan pembayaran digital, BI akan terus memperkuat stabilitas sistem pembayaran. Dari sistem pembayaran ritel, BI akan mengembangkan New BI-Fast untuk mengantisipasi kebutuhan transaksi digital di masa mendatang, baik stabilitasnya maupun skalabilitasnya dengan konstruksi arsitektur sistem modular dalam aplikasi untuk proses enquiry, kliring, dan settlement pembayaran. Baca Juga: Volume Transaksi Via BI Fast Meningkat, Pendapatan Bank Ikut Terangkat “Konstruksi arsitektur ini juga dipandang lebih mampu merespons pengembangan fitur layanan sesuai kebutuhan masyarakat dan dunia usaha,” kata Perry dalam keterangannya dikutip Selasa (17/12). BI akan mengembangkan BI-Payment Clear untuk menjaga layanan transaksi pembayaran aman dari kecurangan (fraud) dengan memperkuat kapasitas industri dalam manajemen risiko.