Transaksi Pasar Uang Antar Bank Kembali Bergairah Awal 2026



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Setelah cenderung lesu jelang akhir 2025, transaksi di pasar uang antar bank (PUAB) mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Seiring dengan peningkatan suku bunga, muncul pertanyaan, bagaimana minat perbankan bertransaksi di PUAB sepanjang 2026?

Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan adanya peningkatan transaksi rata-rata harian di PUAB pada akhir Desember 2025, yakni mencapai Rp 2,42 triliun.

Pada periode tersebut, suku bunga INDONIA justru berada dalam tren penurunan, bahkan mendekati batas bawah koridor kebijakan moneter.


LPS menilai, peningkatan transaksi ini dipengaruhi oleh likuiditas perbankan yang relatif longgar, serta kebijakan fiskal yang ekspansif dan moneter yang akomodatif.

Baca Juga: LPS Siapkan Relaksasi Premi untuk Bank Terdampak Bencana di Sumatra

Pada Januari 2026, suku bunga INDONIA juga cenderung turun sejak pekan pertama hingga pekan ketiga. Sebagai gambaran, INDONIA tercatat berada di level 4% pada 2 Januari 2026 dan menurun ke 3,68% pada tanggal yang sama.

Namun, pada pekan terakhir Januari, tren mulai berbalik naik, dan per 2 Februari 2026, suku bunga berada di posisi 3,85%.

Meski demikian, Corporate Secretary Bank Syariah Indonesia (BSI) Wisnu menyatakan bahwa pergerakan suku bunga tidak selalu menjadi faktor utama yang memengaruhi transaksi antar bank.

“BSI sebagai pelaku pasar keuangan turut berkontribusi aktif terhadap implementasi alternatif pengembangan instrumen pasar keuangan. Pendalaman pasar dilakukan sesuai dengan arahan Bank Indonesia (BI),” kata Wisnu.

Secara umum, Wisnu menambahkan, transaksi BSI di pasar uang antar bank berbasis syariah (PUAS) terus meningkat, meski ia tidak merinci nominalnya.

Transaksi ini dilakukan melalui berbagai instrumen, termasuk Sertifikat Investasi Mudharabah Antar Bank (SIMA), Sertifikat Pengelolaan Dana Berdasarkan Prinsip Syariah Antar Bank (SIPA), Sukuk BI, dan Sukuk Valas BI.

Baca Juga: LPS Dorong Lebih Banyak Penduduk Usia Produktif Punya Rekening

“Itu sejalan dengan kondisi likuiditas internal dan pasar, serta kebutuhan nasabah,” kata Wisnu kepada Kontan, Selasa (3/2/2026).

Sementara itu, pandangan berbeda disampaikan Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan. Lani mengaku tidak melihat kenaikan signifikan pada tren transaksi bank di PUAB, sejalan dengan kecukupan likuiditas bank di tengah lesunya permintaan kredit.

“Animo kredit masih belum tinggi,” ujar Lani.

Selain itu, Lani menambahkan, CIMB Niaga tetap selektif dalam menyalurkan kredit karena daya beli masyarakat belum membaik pada akhir 2025.

Pertumbuhan kredit bank tercatat hanya sekitar 4,5% secara tahunan dan diperkirakan akan tetap berada di kisaran tersebut hingga akhir 2026. Dengan kondisi ini, likuiditas CIMB Niaga tetap relatif longgar.

Selanjutnya: Asing Net Sell Jumbo Rp 834 Miliar Saat IHSG Rebound, Intip Saham yang Banyak Dilego

Menarik Dibaca: Indonesia Pimpin Tingkat Kebahagiaan di Tempat Kerja di Asia Pasifik, Ini Penyebabnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: