KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Aktivitas transaksi di pasar uang antarbank (PUAB) Rupiah menunjukkan peningkatan seiring dengan kebutuhan pengelolaan likuiditas jangka pendek perbankan yang semakin tinggi. Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), volume transaksi rata-rata harian (RRH) PUAB Rupiah meningkat dari Rp16,5 triliun pada Mei 2026 menjadi Rp 17,7 triliun pada Juni 2026. Kenaikan aktivitas transaksi tersebut terjadi di tengah meningkatnya suku bunga IndONIA. Suku bunga IndONIA naik dari 5,59% pada Mei menjadi 6,00% pada Juni 2026.
Baca Juga: Klaim Jadi Penentu Kepercayaan Nasabah, Ini Kata Manulife Indonesia LPS menilai, peningkatan volume transaksi PUAB Rupiah mencerminkan semakin tingginya aktivitas pengelolaan likuiditas jangka pendek perbankan. Kondisi tersebut sejalan dengan kebutuhan pendanaan serta dinamika penghimpunan dana perbankan. Sementara itu, aktivitas PUAB valas overnight kembali mengalami penurunan dengan pergerakan suku bunga yang relatif stabil. Kebutuhan pendanaan valas jangka pendek yang relatif terkendali tersebut ditopang oleh kondisi likuiditas valas domestik yang masih longgar. Perkembangan pasar uang antarbank tersebut menunjukkan mekanisme PUAB tetap berjalan dengan baik. Kondisi ini sekaligus mendukung transmisi kebijakan moneter, pemenuhan kebutuhan pendanaan jangka pendek, serta pengelolaan likuiditas perbankan. Ke depan, aktivitas PUAB Rupiah diperkirakan tetap stabil dengan kecenderungan meningkat. Kebutuhan likuiditas jangka pendek diperkirakan terdorong oleh pengelolaan DPK yang lebih dinamis, permintaan kredit yang tinggi, serta normalisasi aktivitas perbankan.
Baca Juga: Harga Saham Bank SMBC (BTPN) Melonjak, Manajemen Buka Suara Sementara itu, aktivitas PUAB valas
overnight diperkirakan tetap stabil, ditopang kecukupan likuiditas valas domestik dan penguatan bauran kebijakan Bank Indonesia, termasuk implementasi kebijakan DHE SDA yang diharapkan memperkuat pasokan devisa di dalam negeri. Meski demikian, dinamika nilai tukar rupiah dan volatilitas arus modal asing tetap menjadi faktor yang perlu dicermati karena dapat mempengaruhi kebutuhan pendanaan jangka pendek perbankan. Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan mengatakan, kenaikan transaksi PUAB belum menunjukkan adanya persoalan likuiditas secara sistemik. "Peningkatan transaksi PUAB belum menunjukkan masalah likuiditas sistemik, tetapi lebih mencerminkan meningkatnya kebutuhan redistribusi dana antarbank di tengah pertumbuhan kredit yang cukup tinggi dan likuiditas yang tidak merata," ujar Trioksa kepada Kontan.co.id, Selasa (8/9/2026). Menurut dia, secara agregat kondisi likuiditas perbankan masih relatif aman. Namun, tekanan likuiditas dapat berbeda di masing-masing bank, terutama bagi bank yang pertumbuhan kreditnya lebih cepat dibandingkan pertumbuhan DPK atau masih bergantung pada sumber dana berbiaya mahal. Trioksa memperkirakan transaksi PUAB berpotensi tetap tinggi dan fluktuatif ke depan. Hal tersebut dipengaruhi oleh kompetisi penghimpunan dana, ekspansi kredit, serta ketidakpastian di pasar. Oleh karena itu, bank perlu memperkuat dana murah atau CASA dan sumber pendanaan yang stabil. Bank juga perlu menjaga buffer aset likuid, mengelola
maturity mismatch dan biaya dana, serta mendiversifikasi sumber likuiditas melalui repo maupun instrumen pasar uang lainnya.
Baca Juga: Komisaris Bank Mandiri Yuliot Borong 45.200 Saham BMRI di Atas Harga Rp 4.300 "PUAB sebaiknya tetap digunakan terutama untuk pengelolaan kebutuhan likuiditas jangka pendek, bukan menjadi sumber utama pembiayaan ekspansi kredit jangka panjang," jelas Trioksa. Sejalan dengan kondisi tersebut, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menilai, pergerakan suku bunga di PUAB dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk dinamika ekonomi domestik dan global. Executive Vice President (EVP) Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, dalam mengelola likuiditas, bank dapat memanfaatkan berbagai instrumen di pasar, tidak hanya PUAB tetapi juga repo. "Secara umum, kondisi likuiditas BCA tetap terjaga dengan baik. Hal ini didukung oleh pendanaan yang solid," kata Hera. Ia menjelaskan, kondisi tersebut tercermin dari pertumbuhan giro dan tabungan (CASA) BCA yang mencapai 10,2% secara tahunan menjadi Rp 1.082 triliun per Juni 2026. Porsi CASA juga telah mencapai sekitar 85%. Sementara itu, total dana pihak ketiga (DPK) BCA tumbuh 7,9% secara tahunan menjadi Rp1.284 triliun pada periode yang sama. Hera menambahkan, BCA terus mengelola likuiditas secara
prudent dengan mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dalam penerapan manajemen risiko.
"BCA berkomitmen untuk menjaga keseimbangan antara kecukupan likuiditas dengan ekspansi kredit yang sehat," ujarnya. Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan juga mengatakan, perseroan tetap berfokus memperkuat DPK untuk memenuhi kebutuhan likuiditas sekaligus meningkatkan efisiensi dan memperkuat
customer franchise. "Saat ini likuiditas dalam keadaan sehat. LDR kami jaga di level 85%-90%," kata Lani. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News