Transaksi QRIS Melonjak 67%, BI Sebut Penggunaan Uang Tunai Berkurang



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perkembangan transaksi pembayaran digital mulai mengubah kebiasaan masyarakat dalam bertransaksi. Bank Indonesia (BI) mencatat, penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) terus meningkat, sementara pertumbuhan uang kartal yang beredar mulai mengalami perlambatan.

Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, jumlah pengguna QRIS saat ini telah mencapai sekitar 67 juta orang. Jumlah tersebut setara dengan sekitar seperempat dari total penduduk Indonesia.

“QRIS kalau kita lihat sekarang penggunanya sudah 67 juta. Artinya sudah seperempat dari penduduk Indonesia yang menggunakan QRIS,” ujar Destry dalam agenda IFSE x FEKDI, Kamis (24/9/2026).


Menurut dia, semakin luasnya penggunaan sistem pembayaran digital turut membuat transaksi menggunakan uang tunai semakin terbatas. Perubahan preferensi tersebut bahkan mulai terlihat dalam aktivitas belanja masyarakat sehari-hari, termasuk di pasar.

Baca Juga: BI Ungkap Pergerakan Suku Bunga Kredit dan Deposito Agustus 2026

“Kita bisa lihat di beberapa event kalau kita sekarang belanja di pasar itu mereka lebih suka pakai QRIS ketimbang menggunakan cash,” jelasnya.

Meski penggunaan pembayaran digital terus meningkat, Destry menegaskan BI tidak melarang masyarakat menggunakan uang tunai. Sistem pembayaran di Indonesia tetap menyediakan pilihan transaksi melalui kanal digital maupun uang kartal.

Dengan demikian, merchant tetap perlu menyediakan opsi pembayaran tunai bagi masyarakat yang masih memilih menggunakan cash.

“Namun, kita tetap tidak melarang orang kalau menggunakan cash. Payment di kita ini kan ada digital atau melalui cash,” kata Destry.

Dia menambahkan, merchant juga tetap harus dapat menerima pembayaran secara tunai. Namun, secara umum, preferensi masyarakat saat ini mulai bergeser ke pembayaran digital, terutama melalui QRIS.

Pertumbuhan Uang Kartal Melambat

Pergeseran preferensi masyarakat ke pembayaran digital turut memengaruhi pertumbuhan uang kartal, baik uang kertas maupun uang logam. Destry mengatakan, uang kartal yang beredar masih tumbuh, tetapi pertumbuhannya mulai melambat.

Baca Juga: Rasio Klaim Asuransi Kredit Industri 99,6% pada Semester I-2026, Ini Kata Asei

“Bagaimana dampaknya terhadap pertumbuhan uang yang kartal, uang kertas dan logam, kalau kita lihat memang masih tumbuh tapi mulai terus melambat,” ujar Destry.

Meski transaksi tunai cenderung berkurang, BI tetap memastikan ketersediaan uang kartal di seluruh wilayah Indonesia. Hal ini lantaran kebutuhan terhadap uang tunai masih tetap ada, khususnya di daerah yang infrastruktur pembayaran digitalnya belum merata.

Destry mengatakan, kondisi geografis Indonesia yang luas dan terdiri atas banyak pulau membuat kebutuhan uang tunai di sejumlah wilayah masih cukup penting. Terutama bagi masyarakat di daerah terdepan dan terluar yang menghadapi keterbatasan jaringan komunikasi.

“Indonesia ini kan sangat luas dan wilayahnya kan sangat pulau-pulau. Kita ada daerah-daerah yang terdepan, terluar. Tentunya ini kan mereka juga masih butuh uang cash, mungkin sinyal masih belum semuanya kan juga masih ada beberapa yang di blank spot,” jelasnya.

Oleh karena itu, meskipun tren transaksi masyarakat semakin mengarah ke pembayaran digital, BI bersama pemerintah tetap menjaga ketersediaan uang kertas dan uang logam untuk memenuhi kebutuhan transaksi masyarakat di seluruh Indonesia.

Transaksi Digital Terus Tumbuh

Pertumbuhan transaksi digital tercermin dari sejumlah indikator sistem pembayaran. Volume transaksi melalui internet dan mobile banking masing-masing tumbuh 15,12% secara tahunan atau year on year (yoy) dan 47,08% yoy.

Baca Juga: Kredit Bank Makin Kencang, Tembus Rp9.019 Triliun pada Agustus 2026

Sementara itu, transaksi QRIS terus mencatat pertumbuhan tinggi sebesar 67,22% yoy, yang didukung oleh peningkatan jumlah pengguna dan merchant.

Dari sisi infrastruktur pembayaran ritel, volume transaksi melalui BI-FAST mencapai 549 juta transaksi atau tumbuh 37,72% yoy. Nilai transaksi BI-FAST tercatat mencapai Rp1.346 triliun.

Di sisi lain, nilai transaksi melalui BI-RTGS mencapai Rp16.545 triliun, atau turun tipis 3,64% yoy. Volumenya mencapai 0,86 juta transaksi, turun 1,78% yoy.

Sementara dari sisi pengelolaan uang Rupiah, Uang Kartal Yang Diedarkan (UYD) masih tumbuh 12,88% yoy menjadi Rp1.332 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News