Transaksi Uang Elektronik Naik, Tapi Sejumlah PR Masih Ada di Depan Mata



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pandemi Covid-19 menjadi momentum yang mendorong perubahan perilaku masyarakat Indonesia ke arah digital, termasuk dalam penggunaan uang elektronik. Meskipun demikian, saat ini Indonesia masih jauh dalam mengadopsi cashless secara menyeluruh.

Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan adanya kesenjangan yang signifikan antara penduduk perkotaan dengan penduduk pedesaan membuat Indonesia masih pada tahapan menuju cashless. Di sisi lain, bila ini pernah terjadi tentu yang harus diwaspadai masalah berkaitan dengan fraud (tindak penipuan) yang semakin tinggi.

"Saya juga lagi mengumpulkan bank-bank Himbara. Sistemnya masih bisa kena fraud dan sudah ada tanda-tandanya dalam sistem digital baik oknum dari luar maupun dari dalam. Penipuan akan lebih canggih dan makin besar angkanya," jelasnya pada Rabu (3/8).


Tercatat, transaksi uang elektronik di Indonesia mencapai 2021 Rp 239 triliun dengan volume transaksi 5,452 juta. Saat ini jumlah dana float per Mei 2022 sebesar Rp 9,43 triliun. Dengan rinciannya, Rp 5,8 triliun bersumber dari non-bank dan sisanya berasal dari bank sejumlah Rp 3,6 triliun.

Baca Juga: Bos Perusahaan Jadi Tersangka, Nasabah Harap Polisi Usut Tuntas Kasus Wanaartha Life

Meskipun angkanya terus meningkat, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyebutkan masyarakat yang melakukan transaksi dengan tunai masih banyak.

"Kalau dilihat dari data pada 2019 masyarakat yang pake uang tunai sebesar 60%, kemudian tahun 2020 58%, dan di 2021 59%. Jadi mayoritas transaksi di Indonesia masih tunai dan kemungkinan di 2045 47% masyarakat kita masih tetap tunai dan untuk benar-benar cashless masih jauh," ujarnya pada acara seminar AMSI.

Alih-alih bernada positif, Kepala Pusat Pelaporan dan Analis Transaksi (PPATK) Ivan Yustiavanana justru mengungkapkan kekhawatirannya terhadap penggunaan cashless ke depan. Menurutnya, pengadopsian cashless akan memancing tindak pindana pencucian uang (TPPU) jauh lebih masih lagi.

"Digitalisasi uang justru akan semakin mengakselerasi TPPU, melihat perkembangannya yang sudah pesat bukan lagi menyangkut individu. Kini pertumbuhan sudah cloud ke cloud yang berarti ini semakin besar lagi penipuan uang yang bisa dilakukan baik offshore maupun onshore," ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa imbas dari digitalisasi sebetulnya bisa jadi mendorong perekonomian Indonesia, tetapi juga perlu diwaspadai ini akan pula meningkatkan kriminal.

Terlepas dari ancaman tindak pencucian uang, nampaknya AstraPay salah satu pemain uang elektronik ini justru mengalami peningkatan dalam pengadopsian cashless lantaran ekosistemnya pun yang luas.

Baca Juga: CIMB Niaga Usul Restrukturisasi Kredit Diperpanjang, untuk Pariwisata dan Bali-Lombok

"Cashless di kita ada secara finansial dan bisnis (bengkel). Kalau di bengkel memang kita mulai arahkan ke cashless, sudah ada transaksi-transaksinya hampir 100 ribu transaksi cashless AstraPay. Sementara di industri finansialnya sendiri lebih dari satu juta transaksi pake cashless termasuk AstraPay," ujarnya Ricky Gunawan, CEO AstraPay kepada KONTAN.

Ia pun menyebutkan pertumbuhan cashless di AstraPay cukup signifikan dengan tiap bulannya selalu mengalami peningkatan bisa di atas 100%-300%. Dalam upayanya meningkatkan cashless, AstraPay kini sudah bekerja sama dengan transportasi umum dalam melakukan pembayaran non-tunai. Seperti MRT, transjakarta, Transjateng.

Dan untuk persoalan keamanan, pihaknya mengaku akan berupaya menjaga keamanan sistem dari data konsumen dan mechant.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi