Transaksi Valas Perbankan Meningkat di Tengah Tren Pelemahan Rupiah



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aktivitas transaksi valuta asing (valas) perbankan masih menunjukkan tren positif di tengah pelemahan dan volatilitas nilai tukar rupiah. Kebutuhan korporasi untuk impor, pembayaran utang, dividen, serta lindung nilai (hedging) menjadi salah satu pendorong utama transaksi valas.

Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Trioksa Siahaan mengatakan, transaksi valas perbankan cenderung meningkat ketika rupiah mengalami pelemahan.

Menurutnya, kondisi tersebut terutama didorong kebutuhan korporasi yang memiliki kewajiban dalam mata uang asing. Selain kebutuhan transaksi riil, aktivitas hedging melalui sejumlah instrumen juga ikut meningkat.


"Transaksi valas perbankan cenderung meningkat saat rupiah melemah, terutama didorong akan kebutuhan korporasi untuk impor, pembayaran utang dan dividen, serta peningkatan hedging melalui forward, swap, atau DNDF," ujar Trioksa kepada Kontan.co.id, Selasa (1/9/2026).

Meski demikian, Trioksa melihat sebagian transaksi valas yang tidak bersifat mendesak berpotensi ditunda oleh nasabah. Hal ini sejalan dengan meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan.

Pelemahan rupiah juga berpotensi meningkatkan biaya pendanaan valas dan spread transaksi perbankan. Namun, kondisi tersebut sejauh ini belum menunjukkan tekanan likuiditas valas yang bersifat sistemik.

Baca Juga: Transaksi Valas Meningkat, Fee Based Income Perbankan Ikut Terdongkrak

"Sejauh ini belum menunjukkan tekanan likuiditas valas yang sistemik karena cadangan devisa masih memadai dan BI aktif menjaga stabilitas pasar," katanya.

Trioksa memperkirakan transaksi valas perbankan akan tetap tinggi hingga akhir 2026 apabila volatilitas rupiah masih berlanjut.

Karena itu, perbankan perlu memperkuat sumber pendanaan valas sekaligus menjaga kesesuaian tenor antara aset dan kewajiban. Bank juga perlu meningkatkan penggunaan instrumen hedging serta memperketat limit dan stress test risiko nilai tukar.

"Hingga akhir tahun, transaksi valas diperkirakan tetap tinggi dengan rupiah yang masih volatil," ujar Trioksa.

Sementara itu, Direktur Utama KB Bank Kunardy Darma Lie mengatakan, transaksi valas di KB Bank hingga saat ini masih berjalan relatif stabil. Aktivitas transaksi tersebut mayoritas berasal dari kebutuhan riil nasabah, terutama segmen korporasi.

Menurut Kunardy, pelemahan rupiah dan volatilitas pasar memang turut memengaruhi sentimen. Namun, transaksi valas di KB Bank lebih banyak digunakan untuk kebutuhan pembayaran impor, konversi hasil ekspor, aktivitas perdagangan, serta hedging korporasi.

"Hingga saat ini, tren transaksi valas di KB Bank berjalan relatif stabil dan tetap didominasi oleh kebutuhan riil nasabah," kata Kunardy.

Baca Juga: Mulai Rabu (1/7), BCA Sesuaikan Ketentuan Transaksi Valas Ikuti Aturan BI

Ia menegaskan transaksi valas perseroan bukan didorong aktivitas spekulatif. Dari sisi volume, transaksi valas KB Bank berada di kisaran US$140 juta-US$160 juta per bulan, terutama berasal dari segmen korporasi.

Dari sisi likuiditas, Kunardy memastikan kondisi valas KB Bank masih terjaga dan memadai untuk memenuhi kebutuhan transaksi nasabah. Perseroan antara lain memanfaatkan transaksi antarbank untuk menjaga kecukupan likuiditas.

Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) valas KB Bank masih menunjukkan pertumbuhan positif. Namun, pertumbuhannya mulai melambat sejalan dengan perkembangan industri.

DPK valas KB Bank terutama ditopang segmen korporasi, termasuk eksportir dan importir serta ekosistem perusahaan Korea. Perseroan juga terus menjaga buffer likuiditas untuk mengantisipasi kebutuhan pendanaan valas dan dinamika pasar.

Untuk memperkuat bisnis valas, KB Bank mengembangkan ekosistem foreign exchange (FX) melalui penguatan USD CASA, trade finance, transaksi FX, solusi hedging hingga pengembangan ekosistem korporasi Korea.

Strategi tersebut diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan DPK valas, tetapi juga memperkuat kualitas dan struktur pendanaan serta menjaga biaya dana atau cost of fund (CoF) pada level optimal.

Baca Juga: Transaksi Valas Melesat, BI Perketat Transaksi Dolar Tanpa Underlying

Memasuki akhir 2026, KB Bank menargetkan pertumbuhan transaksi valas tetap positif dan berkelanjutan. Perseroan akan fokus pada transaksi korporasi yang memiliki underlying atau kebutuhan riil yang jelas.

"Strategi kami adalah mendorong pertumbuhan transaksi yang sehat dan berbasis kebutuhan riil nasabah, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan disiplin manajemen risiko," tutur Kunardy.

Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menyatakan, fokus menjaga pemenuhan kebutuhan transaksi valas nasabah sekaligus memastikan likuiditas tetap memadai.

Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn mengatakan, transaksi valas di BCA tidak hanya dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar, tetapi juga kebutuhan nasabah.

"BCA berkomitmen untuk senantiasa memenuhi kebutuhan transaksi valas sesuai kebutuhan nasabah dalam berbagai jenis mata uang," katanya.

Menurut Hera, BCA terus mencermati perkembangan nilai tukar dan aktivitas transaksi valas secara prudent agar layanan perseroan tetap responsif dan aman.

Selain itu, BCA menjaga keseimbangan antara kecukupan likuiditas valas dengan ekspansi kredit yang sehat. Langkah tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi pasar dan risiko yang dihadapi perseroan.

Hingga Juni 2026, DPK valas BCA mencapai Rp116,98 triliun. Sementara DPK rupiah mencapai Rp1.167,07 triliun.

Dengan demikian, total DPK BCA mencapai Rp1.284 triliun. Porsi dana murah atau current account savings account (CASA) mendominasi sekitar 84,3% dari total DPK BCA.

Untuk meningkatkan kemudahan transaksi valas, BCA juga menyediakan fitur Poket Valas melalui aplikasi myBCA.

Melalui fitur tersebut, nasabah dapat melakukan pengisian saldo, penarikan tunai, pengiriman hingga penerimaan berbagai mata uang asing. Saat ini terdapat 18 mata uang asing yang dapat ditransaksikan melalui Poket Valas myBCA.

Baca Juga: Transaksi Valas Berpotensi Naik, Bank Siaga di Tengah Fluktuasi Rupiah

Di sisi lain, PT Bank CIMB Niaga Tbk mencatat, pertumbuhan dana dan jumlah rekening valas lebih dari 20%. Pertumbuhan tersebut terutama berasal dari segmen nasabah individu atau ritel.

Direktur Consumer & Emerging Business Banking CIMB Niaga, Noviady Wahyudi mengatakan, peningkatan kebutuhan valas masyarakat sudah berlangsung dalam sekitar dua tahun terakhir dan bukan hanya terjadi ketika rupiah mengalami tekanan dalam enam bulan terakhir.

"Kalau dilihat masyarakat semakin kebutuhan itu semakin beragam. Salah satu yang kita observasi kebutuhan valas ini. Kita lihat kenaikan ini bukan hanya enam bulan terakhir, ini sebetulnya sudah hampir dua tahun," ujar Noviady.

Menurut Noviady, jika dihitung menggunakan constant exchange rate, dana dan jumlah rekening valas CIMB Niaga tetap menunjukkan peningkatan. Artinya, pertumbuhan tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh perubahan nilai tukar rupiah.

"Kalau dilihat, kalau saya hitung dengan constant exchange rate, tetap dananya dan jumlah account-nya memang meningkat," jelasnya.

Pertumbuhan rekening valas CIMB Niaga juga semakin banyak berasal dari nasabah individu, termasuk nasabah muda. Kebutuhan tersebut antara lain berasal dari perjalanan ke luar negeri, pendidikan anak di luar negeri maupun kebutuhan transaksi keluarga.

Pilihan mata uang yang diminati pun semakin beragam, mulai dari dolar Singapura, ringgit Malaysia, baht Thailand hingga won Korea.

"Jadi di situ memang kita melihat dari pertumbuhannya baik dari dana maupun account itu lebih dari 20%, jadi jauh lebih tinggi dibandingkan yang kita observasi selama ini," katanya.

Untuk memperluas akses transaksi valas, CIMB Niaga mengandalkan layanan digital OCTO Mobile. Melalui aplikasi tersebut, nasabah dapat membeli valas, memantau kurs serta menggunakan saldo mata uang asing untuk kebutuhan transaksi di luar negeri.

Nasabah juga dapat menggunakan saldo valas untuk transaksi lintas negara, termasuk melalui fitur tap dengan kartu.

Ke depan, CIMB Niaga berencana semakin mengintegrasikan layanan valas dengan pembukaan rekening rupiah. Pada kuartal IV-2026, nasabah yang membuka tabungan rupiah akan mendapatkan pilihan untuk membuka kantong atau rekening dalam berbagai mata uang yang terhubung dengan kartu debit.

Baca Juga: Transaksi Valas CIMB Niaga Tumbuh di Atas 20%, Didorong Nasabah Retail

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News