KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan saham PT Bach Multi Global Tbk (BACH) terus bergerak positif sejak resmi melantai di bursa. Analis menilia memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang yang masih terbuka lebar seiring meningkatnya kebutuhan infrastruktur digital nasional. Pada penutupan perdagangan Jumat (31/7/2026), BACH meningkat 15,05% ke level Rp 880. Sementara sejak resmi IPO telah meningkat 99,1%, namun tidak sekencang kenaikan saham-saham yang baru IPO lainnya. Analis Ciptadana Sekuritas Asia, Alif Ihsanario, menilai pergerakan saham BACH pasca-IPO merupakan dinamika pasar yang wajar. Menurutnya, fokus utama perusahaan adalah membangun bisnis secara berkelanjutan, bukan mengejar sentimen jangka pendek. “Yang lebih penting adalah bagaimana perusahaan mampu menciptakan nilai secara berkelanjutan,” kata Alif, Jumat (31/7/2026).
Dari sisi fundamental, BACH mencatat kinerja positif dengan pendapatan 2025 tumbuh hampir 40% menjadi Rp1,73 triliun dan laba bersih meningkat hampir dua kali lipat menjadi sekitar Rp155 miliar. Kinerja tersebut mencerminkan pertumbuhan yang didukung oleh operasional bisnis.
Baca Juga: BACH Ganti Pengendali, Global Telekomunikasi Prima Kini Kuasai 51% Saham Alif juga menilai masih ada persepsi yang belum tepat terhadap BACH yang kerap dianggap hanya sebagai penyedia generator set (genset). Padahal, Perseroan telah berkembang menjadi penyedia solusi infrastruktur terintegrasi. Selain penjualan dan penyewaan genset, BACH menyediakan layanan konstruksi, instalasi, pemeliharaan, serta managed service infrastruktur telekomunikasi, mulai dari pembangunan BTS, pekerjaan civil mechanical electrical (CME), fiber optic deployment, pemeliharaan preventif dan korektif, hingga mobile backup power. Dia bilang, diversifikasi ini membuat pendapatan Perseroan lebih kuat dengan dukungan proyek baru dan pendapatan berulang (recurring income). Alif menilai prospek BACH akan semakin didukung oleh pertumbuhan investasi telekomunikasi, perluasan jaringan 5G, fiberisasi, serta perkembangan industri data center di Indonesia.
Baca Juga: BACH dan EMMI Resmi Melantai di BEI, Begini Prospek Kinerjanya Peningkatan konsumsi data akan mendorong kebutuhan infrastruktur pendukung, termasuk backup power, pemeliharaan, dan layanan operasional, yang menjadi bagian penting dalam rantai nilai infrastruktur digital BACH. Menurutnya, bergabungnya BACH dalam ekosistem Grup Djarum melalui Global Telekomunikasi Prima sebagai pengendali berpotensi memperkuat posisi kompetitif Perseroan. Sinergi dengan perusahaan digital dalam ekosistem tersebut, seperti Protelindo, TOWR, SUPR, dan iForte, dapat membuka peluang proyek baru sekaligus memperkuat pendapatan berulang (recurring revenue) melalui kontrak layanan jangka panjang.
Selain telekomunikasi, BACH memiliki peluang ekspansi pada sektor yang membutuhkan keandalan pasokan listrik, seperti data center, manufaktur, kawasan industri, pertambangan, dan infrastruktur. Dengan pengalaman di bidang solusi daya dan infrastruktur, Perseroan dinilai dapat memperluas pasar tanpa keluar dari kompetensi inti. Namun, Alif mengingatkan tantangan yang perlu dikelola, antara lain fluktuasi nilai tukar, ketergantungan terhadap pemasok luar negeri, persaingan industri, dan kebutuhan modal kerja. “Prospek jangka panjang BACH tetap positif selama Perseroan menjaga efisiensi, memperkuat hubungan dengan pelanggan dan pemasok, serta melakukan diversifikasi pendapatan,” ujarnya. Alif menilai BACH perlu memprioritaskan penguatan fundamental bisnis, bukan mengejar masuk indeks seperti LQ45 atau MSCI. Transformasi dari penyedia genset menjadi solusi energi dan infrastruktur telekomunikasi dinilai memperkuat pendapatan berulang serta membuka peluang pertumbuhan di sektor digital nasional. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News