Transformasi Digital KBRI Swiss via Ekosistem Smart Embassy Tingkatkan Pelayanan WNI



KONTAN.CO.ID - BERN. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Bern, Swiss, terus melakukan inovasi besar-besaran dalam pelayanan publik guna memberikan kemudahan bagi Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di wilayah Swiss dan Liechtenstein.

Dalam sebuah wawancara dengan delegasi jurnalis Grup Media Kompas, terungkap bahwa KBRI Bern kini mengadopsi ekosistem layanan digital yang disebut sebagai Smart Embassy Service Ecosystem.

Inovasi Digital 24/7 dan Pelayanan Jemput Bola Salah satu terobosan utama adalah peluncuran BINA (Bern Intelligent Assistant), sebuah AI Chatbot yang beroperasi 24 jam sehari, 7 hari seminggu.


Purnowidodo, Koordinator Fungsi Protokol dan Konsuler di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Swiss kepada delegasi jurnalis Grup Media Kompas menjelaskan bahwa inovasi ini lahir untuk menjawab tingginya trafik komunikasi sementara jumlah staf terbatas

"Kita buat BINA (Bern Intelligent Assistant), itu AI Chatbot layanan 24 jam seminggu untuk melengkapi hotline yang memang sudah ada. Cukup beberapa klik di nomor WhatsApp, mereka dapat semua informasi yang mereka butuhkan," ujarnya, Jumat (26/6/2026).

Baca Juga: Ratusan Entitas Manufaktur Swiss Pertimbangkan Ekspansi ke ASEAN, Siapkah Indonesia?

Selain BINA, KBRI juga menghadirkan PINTAR (Pusat Informasi Terpadu Akses RI) berupa kios informasi layar sentuh di ruang pelayanan, serta sistem SIGAP (Sistem Gerak Cepat Pelayanan Kekonsuleran) untuk pelayanan jemput bola. Mengingat luasnya wilayah Swiss, layanan mobile konsuler ini sangat membantu WNI yang tinggal jauh dari Bern atau mereka yang sudah lanjut usia.

Transparansi Keuangan dan Efisiensi Internal Untuk meningkatkan akuntabilitas, KBRI menerapkan TEPAT (Transaksi Elektronik Pembayaran yang Akurat dan Transparan), sebuah sistem pembayaran cashless secara real-time. Transformasi ini tidak hanya menyasar layanan luar, tetapi juga pembenahan internal melalui sistem SIAP (Sistem Inovasi untuk Pelayanan Perkantoran) yang bersifat paperless.

Dahlia Kusuma Dewi, Koordinator Fungsi Penerangan, Sosial, dan Budaya KBRI Swiss menekankan pentingnya integrasi layanan tersebut. "Tujuannya juga adalah untuk memberikan kemudahan akses sebenarnya kepada masyarakat, baik itu kemudahan tidak hanya akses tetapi juga pelayanan. Harapannya adalah kita bisa juga membangun integritas dari staf KBRI itu sendiri," jelas Dahlia.

Capaian dan Respon Masyarakat Dampak dari transformasi ini sangat nyata. Skor Google Review KBRI Bern meningkat dari 3,8 menjadi 4,2 dalam satu tahun terakhir.

Selain itu, keterbukaan informasi publik melalui media sosial juga mengalami lonjakan drastis, di mana jumlah pengikut Instagram KBRI meningkat dari sekitar 6.800 menjadi lebih dari 14.400 followers per Juni 2026.

KBRI Bern juga meluncurkan podcast INSIS (Indonesia Swiss Stories) yang unik karena melibatkan warga Swiss pelajar BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) sebagai pemandunya, sebagai upaya untuk mempererat hubungan antarwarga negara sekaligus mempromosikan budaya Indonesia.

Tantangan E-Paspor Meski secara teknis KBRI Bern sudah mampu mencetak paspor elektronik (e-passport), hingga saat ini otoritas resmi dari Jakarta masih dalam proses. Hal ini menjadi salah satu aspirasi utama masyarakat Indonesia di Swiss karena penggunaan e-paspor sangat memudahkan mobilitas mereka di wilayah Schengen dan saat melewati autogate di bandara internasional.

Baca Juga: Di WEF Swiss, Prabowo Sebut Indonesia Tidak Pernah Gagal Bayar Utang

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News