Transformasi Digital Sukses Bawa Kreatifafa dan Batik Farras Tembus Pasar Global
Rabu, 15 Juli 2026 11:00 WIB
Oleh: Tim KONTAN | Editor: Ridwal Prima Gozal
KONTAN.CO.ID - Idealisme Fatchul Hidayah mendirikan Kreatifafa berkembang menjadi penerbit independen dengan distribusi berskala global. Selain inovasi produk, UMKM asal Yogyakarta ini sukses menembus pasar internasional berkat adaptasi digital dalam operasional bisnisnya. Bisnis yang dirintis Fatchul (33) awalnya hanya berangkat dari niat sederhana, yakni menciptakan buku anak-anak yang memberikan pengalaman bermain dan belajar yang berkesan. Enam tahun lalu di teras rumahnya di Bandung, Fatchul dan suaminya, Achmad Fathurrohman, rutin mengumpulkan anak-anak sekitar untuk menggambar, membaca, dan bermain. Tergerak dari sana, mereka membuat materi belajar kecil-kecilan. Titik balik terjadi saat Fatchul mendapat beasiswa magister ke Afrika Selatan. Berbekal tabungan pribadi, mereka memproduksi buku pop-up sebagai kenang-kenangan untuk komunitas sekitar.
“Awalnya memang tidak business-oriented, tapi kami ingin lebih banyak anak bisa membaca buku yang bagus, baik secara substansi maupun kualitas produksi,” ujar Fatchul. Transformasi Jadi Kunci untuk Menembus Pasar Internasional Respons positif dari para orang tua dan komunitas justru membuka peluang baru. Semangat tersebut memantapkan langkah mereka untuk mendirikan Kreatifafa. Resmi berbadan hukum sejak 2023, Kreatifafa kini bermutasi menjadi penerbit berbasis Intellectual Property (IP) yang memproduksi merchandise, board game, hingga karakter animasi. Produk mereka kini telah diekspor ke berbagai negara seperti Jerman, Uni Emirat Arab, dan Malaysia, selain juga dipasarkan secara daring melalui e-commerce. Sebagai industri kreatif dengan modal awal yang terbatas, Fatchul sempat mengakses fasilitas pembiayaan untuk meningkatkan volume cetak agar biaya produksi lebih efisien. Seiring bisnis yang membesar, pengelolaan keuangan pun dimodernisasi. Fatchul memanfaatkan layanan digital seperti QRIS dan dompet digital ShopeePay untuk transaksi operasional harian, mulai dari membayar utilitas kantor hingga belanja kebutuhan usaha. "Ini adalah proses learning by doing. Membangun usaha bukan hanya soal memperbesar penjualan, tetapi memastikan setiap pertumbuhan memiliki fondasi yang kuat untuk jangka panjang," tambah Fatchul.
Cerita adaptasi serupa juga dialami oleh Daery Farras (26), pemilik Batik Farras. Sejak tahun 2006, usaha keluarga di Yogyakarta ini konsisten memproduksi kain batik tulis, batik cap, hingga pakaian jadi seperti outer dan jaket. Jika dulu Batik Farras bergantung pada penjualan konvensional dan promosi dari mulut ke mulut, kini Farras harus jeli melihat perubahan perilaku konsumen yang mulai beralih ke ranah digital. “Dulu kita fokus ke penjualan konvensional, langsung tatap muka. Karena digitalisasi, sekarang kita mulai merambah ke platform digital termasuk e-commerce,” tutur Farras. Langkah ini diambil karena tingginya permintaan pelanggan yang ingin melihat katalog sekaligus bertransaksi lebih praktis. Meski begitu, karena pergerakan stok batik sangat cepat, Farras memilih mengombinasikan empat toko fisiknya di Yogyakarta dengan etalase digital secara selektif. Fleksibilitas Transaksi Jadi Kunci
Strategi ini terbukti ampuh. Dengan merekrut sekitar 30 tenaga kerja, Batik Farras kini sukses mengantongi omzet bulanan hingga Rp 150 juta. Digitalisasi juga membantu Farras melakukan diversifikasi produk, mereka kini merilis outer dan jaket untuk menggaet segmen pasar yang lebih muda.
Selain produk, kemudahan bertransaksi juga menjadi faktor krusial yang mengikat loyalitas pelanggan. Farras melihat banyak konsumennya yang memilih menggunakan dompet digital seperti ShopeePay karena tergiur promo potongan harga atau voucher. “Bagi kami, menjaga relevansi produk tidak harus mengubah identitas usaha. Terkadang, yang berubah hanyalah cara sebuah produk menemukan orang yang tepat,” pungkas Farras. Kreatifafa dan Batik Farras membuktikan bagaimana UMKM lokal bisa menembus pasar global sambil tetap mempertahankan jati diri bisnis mereka. Pasar yang lebih luas diraih tak hanya dengan semangat terus berinovasi dan jeli melihat peluang, namun juga didorong oleh transformasi digital dalam bisnis. Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News