Transformasi Mulai Berbuah Manis, KB Bank Optimistis Kinerja Semester I Lebih Baik



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank KB Indonesia Tbk (KB Bank) optimistis kinerja pada semester I 2026 membaik seiring hasil transformasi bisnis yang mulai menunjukkan hasil. 

Meski masih menghadapi tekanan dari kenaikan suku bunga, perseroan menilai perbaikan profitabilitas, kualitas aset, dan pendanaan akan berlanjut hingga kuartal II.

Direktur Utama KB Bank Kunardy Darma Lie mengatakan, meski kinerja semester I belum dipublikasikan, tren bisnis hingga kuartal II masih berada di jalur yang positif.


"Kalau melihat angka kuartal I, kami sudah banyak melakukan perbaikan. Dari sisi profit kami sudah membukukan laba positif untuk pertama kalinya. Kami melihat progres tersebut terus berlanjut, meski perjalanan transformasi masih panjang," ujar Kunardy kepada Kontan.co.id.

Baca Juga: BSN Bidik Aset Rp 87 Triliun pada Akhir Tahun 2026

Sebagai gambaran, pada kuartal I 2026 KB Bank membukukan laba bersih Rp 10,7 miliar. Meski turun 97,01% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan laba kuartal I 2025 sebesar Rp 351 miliar, perseroan mencatat sejumlah perbaikan fundamental.

Pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) melonjak 97,28% YoY menjadi Rp 363 miliar, didorong kenaikan net interest margin (NIM) menjadi 2,09% dari 1,09% pada periode yang sama tahun lalu.

Kunardy mengatakan, peningkatan tersebut mencerminkan pengelolaan aset dan liabilitas yang semakin optimal serta efisiensi biaya dana yang terus membaik.

Selain itu, untuk pertama kalinya sejak bergabung dengan KB Financial Group (KBFG) pada 2020, KB Bank berhasil membukukan pre-provision operating profit (PPOP) positif sebesar Rp 9 miliar pada kuartal I 2026.

Di sisi intermediasi, penyaluran kredit mencapai Rp 43,19 triliun, tumbuh 2,61% YoY. Sementara kredit lancar meningkat 4,76% YoY menjadi Rp 34,02 triliun, yang menunjukkan kualitas portofolio pembiayaan semakin membaik.

"Kami tidak ingin mengejar pertumbuhan kredit semata. Yang kami utamakan adalah kualitas debitur sehingga rasio kredit bermasalah dapat terus membaik," kata Kunardy.

Di tengah kenaikan BI Rate sebesar 100 basis poin, KB Bank memperkirakan biaya dana (cost of fund) akan meningkat sehingga berpotensi menekan margin bunga bersih pada paruh kedua tahun ini.

Karena itu, perseroan mulai menggeser fokus bisnis dengan memperbesar kontribusi fee based income melalui penguatan layanan transaction banking di segmen wholesale.

KB Bank juga akan memperluas jaringan Priority Banking Center di sejumlah kota besar setelah meresmikan pusat layanan pertama di Semarang.

Selain itu, perseroan akan memperkuat pembiayaan berbasis ekosistem agar kualitas kredit tetap terjaga. Saat ini penyaluran kredit masih difokuskan ke sektor manufaktur, consumer goods, sumber daya alam, farmasi, rumah sakit, logistik hingga cold chain storage.

Di sisi pendanaan, total Dana Pihak Ketiga (DPK) pada kuartal I 2026 tercatat sebesar Rp 41,52 triliun. Di tengah fokus memperbaiki struktur pendanaan, dana murah (current account savings account/CASA) tumbuh 5,74% YoY menjadi Rp 13,09 triliun.

Dalam wawancara dengan Kontan, Kunardy menambahkan rasio CASA perseroan kini telah meningkat menjadi sekitar 32%. Ke depan, KB Bank akan terus memperbesar dana murah melalui penguatan layanan transaction banking, cross-selling, serta peningkatan hubungan transaksi dengan nasabah.

Meski kondisi ekonomi global masih dibayangi ketegangan geopolitik, tekanan inflasi, dan kenaikan suku bunga, Kunardy tetap optimistis terhadap prospek bisnis KB Bank.

"Kami melihat Indonesia masih memiliki potensi pertumbuhan yang besar. Namun, di tengah kondisi saat ini kami harus lebih disiplin, lebih efisien, dan lebih selektif dalam menjalankan bisnis agar transformasi terus berjalan," tutupnya.

Baca Juga: Survei BI: Pertumbuhan DPK Diproyeksi Melambat hingga Akhir 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: