KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lebih dari dua dekade sejak berdiri, PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP) atau Paradise Indonesia tidak lagi sekadar membangun properti. Perusahaan ini bertransformasi menjadi penggerak ekosistem kota—menghadirkan ruang yang tidak hanya berfungsi secara fisik, tetapi juga menciptakan pengalaman, menghidupkan kawasan, dan mendorong aktivitas ekonomi baru. Sejak awal, Paradise Indonesia membawa pendekatan berbeda dalam pengembangan properti. Tidak hanya fokus pada bangunan, tetapi juga pada bagaimana ruang tersebut membentuk interaksi sosial dan kualitas hidup masyarakat.
Baca Juga: Kenaikan Harga Plastik Tekan Pedagang Pasar Tradisional Transformasi ini kini diperkuat melalui strategi bisnis berbasis
recurring income, yang menjadi fondasi utama pertumbuhan perusahaan. Dengan mengandalkan pendapatan berulang dari hotel dan properti komersial, Paradise Indonesia mampu menjaga stabilitas kinerja di tengah fluktuasi industri. Sepanjang 2025, Paradise Indonesia mencatat pendapatan sebesar Rp1,74 triliun atau tumbuh 32,9% secara tahunan. Pertumbuhan ini ditopang oleh kontribusi proyek baru seperti Antasari Place, perluasan 23 Paskal Shopping Center, serta penguatan segmen perhotelan. Di saat yang sama, perusahaan berhasil melipatgandakan posisi kas menjadi Rp771,39 miliar dengan struktur permodalan yang tetap sehat, tercermin dari rasio
net debt to equity (DER) sebesar 0,21x. “Kami bersyukur dapat mencatat pertumbuhan pendapatan konsisten selama lima tahun berturut-turut sambil melipatgandakan cadangan kas, Indonesia Paradise kini siap tumbuh secara konservatif di tengah situasi penuh tantangan. Didukung net DER rendah 0,21x dan basis
recurring income solid, kami sangat siap mengakselerasi proyek-proyek ikonik baru demi nilai berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan,” tegas Anthony P. Susilo, Presiden Direktur & CEO Paradise Indonesia dikutip, Senin (6/4). Lebih jauh, transformasi Paradise Indonesia terlihat dari pendekatan
mixed-use development yang mengintegrasikan hunian, perhotelan, dan area komersial dalam satu kawasan. Model ini tidak hanya meningkatkan efisiensi aset, tetapi juga menciptakan ekosistem yang saling terhubung—di mana setiap fungsi saling menghidupkan. Proyek Antasari Place di Jakarta menjadi salah satu contoh nyata. Kawasan ini menggabungkan hunian vertikal, area ritel, hingga serviced apartment Citadines dalam satu ekosistem. Di Bandung, perluasan 23 Paskal Shopping Center memperkuat kawasan sebagai destinasi gaya hidup, sementara pengembangan 23 Semarang Shopping Center dan proyek di Balikpapan menjadi bagian dari ekspansi berkelanjutan perusahaan.
Baca Juga: AMDATARA: Bakal Terjadi PHK Massal jika Harga Plastik Tak Segera Membaik Pendekatan ini secara langsung berdampak pada dinamika kawasan. Properti yang dibangun tidak lagi berdiri sebagai aset pasif, melainkan berkembang menjadi pusat aktivitas baru. Kawasan yang sebelumnya terbatas kini menjadi lebih hidup, dengan meningkatnya kunjungan, tumbuhnya pelaku usaha, serta terciptanya ruang interaksi sosial yang lebih luas. Paradise Indonesia juga jeli membaca perubahan perilaku pasar, khususnya dari generasi milenial dan generasi Z. Tren hunian kini bergerak ke arah fleksibilitas, di mana kepemilikan tidak lagi menjadi prioritas utama, melainkan kemudahan akses dan lokasi strategis. Hal ini sejalan dengan riset Colliers pada 2025 yang menunjukkan lonjakan permintaan sewa hunian, didorong preferensi generasi muda yang mengutamakan fleksibilitas serta kedekatan dengan pusat aktivitas. Menangkap tren tersebut, Paradise Indonesia mengembangkan ekosistem hunian yang tidak hanya menjual unit, tetapi juga mendukung monetisasi melalui skema sewa. “Kami mengantisipasi kebutuhan dan permintaan dari generasi konsumen properti selanjutnya yaitu kalangan muda. Kemampuan untuk membaca dan mengambil langkah-langkah strategis ini adalah salah satu kunci keberhasilan kami selama ini di industri properti,” kata Anthony. Untuk memperkuat strategi tersebut, perusahaan menjalin kerja sama dengan operator apartemen guna membantu pemilik unit mengelola dan menyewakan properti mereka. Pendekatan ini menciptakan nilai tambah, baik bagi investor maupun perusahaan, sekaligus memperkuat kontribusi
recurring income. Dengan portofolio 14 hotel dan enam pusat perbelanjaan di berbagai kota besar seperti Jakarta, Bali, Makassar, dan Bandung, Paradise Indonesia membangun sinergi antar-segmen yang memperkuat ekosistem properti gaya hidup. Integrasi ini tidak hanya meningkatkan visibilitas arus kas, tetapi juga memperkuat daya tarik kawasan sebagai pusat aktivitas ekonomi. Di tengah tren industri yang banyak bergerak ke pengembangan kawasan pinggiran, Paradise Indonesia tetap konsisten menggarap proyek di pusat kota. Strategi ini memungkinkan perusahaan menciptakan destinasi ikonik dengan nilai tambah tinggi, sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat urban yang terus berkembang. “Kami tidak hanya berperan sebagai pemilik properti, tetapi juga sebagai pengembang yang menciptakan nilai pengalaman (
experience value) dari properti ikonik kami,” ujar Anthony.
Baca Juga: Industri Plastik Tertekan Geopolitik Timur Tengah, Ini Strategi Mitigasinya Ke depan, Paradise Indonesia menargetkan pertumbuhan yang berkelanjutan dengan tetap menjaga keseimbangan antara ekspansi dan kekuatan fundamental. Proyek-proyek baru seperti 23 Semarang Shopping Center dan pengembangan kawasan gaya hidup di Balikpapan diharapkan menjadi sumber pertumbuhan berikutnya. Transformasi yang dijalankan Paradise Indonesia menunjukkan bahwa properti tidak lagi sekadar soal bangunan. Lebih dari itu, properti menjadi medium untuk menciptakan pengalaman, membangun komunitas, dan menggerakkan ekonomi kota. Di titik inilah, pertumbuhan bisnis bertemu dengan dampak—membentuk ekosistem yang hidup dan berkelanjutan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News