KONTAN.CO.ID – JAKARTA.
Salah satu upaya mendorong pertumbuhan kredit yang ditempuh Bank Indonesia (BI) adalah dengan menurunkan suku bunga acuan BI rate sejak setahun belakangan. Namun, upaya tersebut perlu dibarengi dengan transmisi yang progresif. BI mencatat suku bunga kredit perbankan baru turun 40 bps pada Januari 2026, menjadi 8,8% dari posisi 9,2% pada awal 2025 lalu. Jika dibandingkan dengan penurunan BI rate hingga 125 bps dalam periode yang sama, transmisi suku bunga kredit jelas terbilang lambat. Dalam rangka mendorong penurunan suku bunga kredit yang lebih masif, BI sebelumnya telah menerapkan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) melalui jalur bunga alias
interest channel. Yang mana, besaran insentif ditentukan berdasarkan kemampuan bank menyesuaikan suku bunga kredit baru dengan BI rate.
Baca Juga: BI Tahan Suku Bunga 4,75%, Begini Arah Strategi Investasi Asuransi Umum Menurut Deputi Gubernur BI Destry Damayanti, KLM interest channel ini telah berhasil mendorong transmisi suku bunga kredit. Meski suku bunga kredit existing baru turun 40 bps, Destry bilang suku bunga kredit baru sudah turun lebih masif hingga 75 bps. “Ini menunjukkan transmisi kebijakan suku bunga sudah mulai berjalan,” ujarnya dalam siaran pers Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan, Kamis (19/2/2026). Itu sejalan dengan realisasi insentif KLM
interest channel yang mencapai Rp 69,6 triliun dalam kurang dari dua bulan. Pun, Destry bilang pada dasarnya ruang pemanfaatan insentif ini masih terbuka lebar. Pasalnya, BI memberi ruang insentif sebesar 5,5% dari jumlah Giro Wajib Minimum (GWM) perbankan. Nah, saat ini total realisasi insentif KLM, termasuk dengan
lending channel yang pemberiannya didasari penyaluran kredit ke sektor-sektor prioritas, baru mencapai 4,83% dari jumlah dana pihak ketiga (DPK). Artinya, masih ada ruang tambahan insentif kisaran 0,7% yang dapat dimanfaatkan bank. Maka dari itu, BI terus mendorong perbankan untuk mempercepat transmisi suku bunga agar pada gilirannya permintaan dan penyaluran kredit bisa tumbuh lebih signifikan.
Baca Juga: Asuransi Didorong Terlibat di Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Ini Respons AAUI Bunga Kredit Konsumsi Lebih Sulit Turun
Presiden Direktur KB Bank Kunardy Lie menyebut, secara umum kredit korporasi dan kredit modal kerja menjadi segmen yang lebih cepat menyesuaikan suku bunga. Itu lantaran sifat kreditnya lebih berbasis negosiasi dengan volume yang besar. “Persaingan antar bank lebih ketat di segmen
wholesales,” ujar Kunardy kepada Kontan, Kamis (19/2/2026). Sementara itu, suku bunga kredit konsumsi jadi yang paling lambat penurunannya, sesuai sifat kredit yang menurut Kunardy cenderung sticky. Ia bilang pada dasarnya ada sejumlah hal yang menghambat transmisi suku bunga kredit.
Pertama, biaya dana (cost of fund/COF) yang belum sepenuhnya turun karena suku bunga deposito jangka panjang masih relatif tinggi. Selain itu, menurut Kunardy bank masih cenderung menjaga margin untuk mengantisipasi risiko kredit dan kebutuhan pembentukan pencadangan. Pun, faktor efisiensi operasional dan strategi menjaga profitabilitas turut mempengaruhi kecepatan penyesuaian suku bunga kredit.
Baca Juga: AAUI Nilai Portofolio Investasi Asuransi Umum Tak Banyak Berubah meski BI Tahan Bunga Ia melihat ruang penurunan suku bunga kredit sebenarnya mulai terbuka seiring likuiditas industri yang lebih longgar dan tren penurunan suku bunga DPK. Namun, bank tetap berhati-hati, terutama pada segmen dengan risiko lebih tinggi. “Kondisi kualitas aset dan tren NPL menjadi pertimbangan penting sebelum bank melakukan
repricing secara agresif,” tutur Kunardy. Selain pertimbangan COF, Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan bilang pertimbangan penurunan bunga kredit juga mencakup
relationship total dengan nasabah. Di CIMB Niaga sendiri, ia mengaku hampir semua jenis kredit sudah disesuaikan suku bunganya, kecuali kredit konsumsi.
“Tidak seragam. Tergantung
relationship total dengan nasabah,” kata Lani.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News