KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Transformasi transportasi berbasis listrik dinilai menjadi kunci strategis untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak (BBM) sekaligus mengantisipasi potensi krisis energi di Indonesia. Upaya ini dinilai mendesak mengingat konsumsi energi nasional masih didominasi kendaraan pribadi yang boros dan tidak efisien. Pengamat transportasi Djoko Setijowarno menegaskan, pemerintah perlu segera mengambil langkah krusial, terutama mempercepat migrasi ke transportasi umum berbasis listrik.
Baca Juga: Efisiensi Energi Dapur Dinilai Jadi Kunci Tekan Pengeluaran Rumah Tangga “Perlu adanya langkah-langkah krusial, pertama percepatan migrasi ke transportasi umum berbasis listrik,” ujarnya dalam keterangannya, Rabu (15/4). Menurut Djoko, transformasi sektor transportasi harus dilakukan secara strategis dan berkelanjutan. Peralihan ke transportasi publik berbasis listrik dinilai sebagai cara paling efektif untuk menekan konsumsi BBM sekaligus meningkatkan efisiensi energi, khususnya di kota-kota besar. Ia mendorong penggantian armada angkutan umum ke bus listrik dilakukan secara bertahap namun masif. Langkah ini tidak hanya mempercepat elektrifikasi, tetapi juga mendukung target penurunan emisi nasional.
Baca Juga: Sektor EBT Jadi Primadona, Kolaborasi Jadi Kunci Swasembada Energi Nasional Selain itu, integrasi antarmoda transportasi menjadi faktor penting. Konektivitas antara KRL, MRT, LRT, hingga layanan pengumpan perlu diperkuat agar masyarakat terdorong beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum. Di sisi kebijakan, Djoko menyoroti perlunya reformasi subsidi energi yang dinilai belum tepat sasaran. Ia mendorong digitalisasi penyaluran subsidi berbasis data agar BBM bersubsidi lebih difokuskan untuk angkutan umum dan sektor logistik, bukan kendaraan pribadi. Sebagian anggaran subsidi BBM juga dinilai perlu dialihkan untuk membangun infrastruktur pendukung kendaraan listrik, seperti Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU), jalur sepeda, serta fasilitas pejalan kaki. Tak hanya itu, insentif kendaraan listrik perlu diperluas, terutama untuk sepeda motor yang memiliki populasi besar dan konsumsi energi tinggi.
Baca Juga: Ekonom: Percepat Ekosistem Bus Listrik Nasional Bisa Jadi Solusi Hadapi Krisis Energi Namun, kebijakan tersebut tetap harus disesuaikan dengan kondisi wilayah, termasuk daerah tertinggal, terdepan, terluar, dan perbatasan (3TP). Djoko juga menilai pengembangan mikro-mobilitas seperti sepeda listrik dan skuter penting untuk mendukung perjalanan jarak pendek yang lebih ramah lingkungan. Di sektor logistik, ia menekankan peran strategis transportasi berbasis rel yang lebih efisien dibandingkan angkutan jalan.
Karena itu, percepatan pembangunan jalur rel ganda serta reaktivasi jalur lama di Jawa dan Sumatra perlu didorong agar distribusi barang beralih ke moda yang lebih hemat energi.
Baca Juga: Krisis Energi Global Tekan APBN, Anggota DPR Dorong Gerakan Hemat Energi Selain elektrifikasi, pengembangan bahan bakar nabati seperti biodiesel B40 dan B50 juga perlu dilanjutkan secara seimbang guna menjaga ketahanan energi nasional. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News