Transportasi Publik Bukan Sekadar Mobilitas, tapi Pendorong Ekonomi dan Daya Beli



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pembangunan transportasi publik d memberikan manfaat ekonomi yang jauh lebih luas dibanding sekadar mempermudah mobilitas masyarakat. Selain membantu menekan biaya perjalanan, keberadaan transportasi publik juga mampu menciptakan pusat-pusat ekonomi baru yang mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Direktur Policy and Program Prasasti Center for Policy Studies, Piter Abdullah mengatakan, penyediaan transportasi publik yang baik dapat menjadi salah satu cara efektif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Kalau kita ingin menyejahterakan masyarakat kita, salah satunya bisa kita awali dengan menyediakan transportasi publik yang baik, karena itu akan sangat membantu bagi mereka," ujar Piter, dalam keterangan tertulis, Jumat (12/6).


Menurut dia, manfaat paling nyata dari transportasi publik adalah mengurangi beban pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan perjalanan sehari-hari.

Di Jakarta misalnya. Dengan upah minimum provinsi (UMP) 2026 sebesar Rp 5,7 juta, masyarakat diperkirakan mengalokasikan sekitar 25%-30% pendapatan merekauntuk biaya transportasi.

Data Statistik Komuter Jabodetabek 2023 Badan Pusat Statistik (BPS)  menunjukkan, biaya perjalanan masih menjadi pengeluaran yang cukup besar bagi para pekerja komuter.

Sebanyak 8,2% komuter mengeluarkan ongkos perjalanan kurang dari Rp 5.000 per hari. Lalu 14,7% mengeluarkan Rp 5.000-Rp 10.000 per hari, dan 28,6% lainnya mengeluarkan sedikitnya Rp 25.000 per hari atau sekitar Rp 750.000 per bulan.

Piter menilai, kehadiran transportasi publik yang nyaman dan terjangkau dapat membantu menekan pengeluaran tersebut sehingga meningkatkan daya beli masyarakat. "Mengurangi biaya perjalanannya itu sudah bagian dari menyejahterakan masyarakat kita," katanya.

Baca Juga: Potongan Aplikator Dipangkas ke 8%, Driver Ojol: Ini Harapan Baru!

Selain mengurangi biaya hidup, pembangunan transportasi publik juga dinilai mampu menciptakan efek berantai bagi perekonomian. Kehadiran stasiun kereta, mass rapid transit (MRT) maupun light rail transit (LRT) kerap memunculkan pusat-pusat kegiatan ekonomi baru yang dimanfaatkan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). "Efek berantainya, produktivitasnya jadi lebih sehat, lebih baik," ujar Piter.

Menurutnya, manfaat tersebut tidak hanya dapat dirasakan di Jakarta, tetapi juga berpotensi terjadi di berbagai daerah apabila pemerintah daerah memiliki komitmen membangun sistem transportasi publik yang memadai.

Piter menilai penyediaan transportasi publik yang nyaman, sehat dan terjangkau merupakan salah satu bentuk kebijakan yang secara langsung dapat mengurangi beban masyarakat.

Meski demikian, ia mengakui pembangunan transportasi publik membutuhkan investasi yang besar. Namun menurutnya, manfaat ekonomi jangka panjang yang dihasilkan jauh lebih besar dibanding biaya yang dikeluarkan. "Jadi tidak ada kerugian dari investasi transportasi publik, walaupun  pasti besar," katanya.

Untuk mendukung kebutuhan pendanaan, Piter mendorong pemerintah daerah memanfaatkan skema kerja sama pemerintah dan swasta atau public private partnership (PPP) maupun penerbitan obligasi daerah.

Menurutnya, dukungan investor dapat diperoleh apabila proyek didukung proposal yang matang, kebijakan yang konsisten serta kepastian hukum yang memadai.

Salah satu tantangan utama investasi infrastruktur adalah potensi perubahan kebijakan akibat pergantian kepemimpinan daerah. Karena itu, kepastian regulasi menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan investor. "Takutnya kan berubah rezim, berubah kepala daerah, berubah lagi kebijakannya. Nah, itu kan kacau jadinya," katanya.

Piter meyakini, apabila berbagai moda transportasi publik seperti kereta listrik (KRL), MRT, LRT maupun sistem integrasi transportasi dapat dikembangkan di lebih banyak daerah, dampak ekonominya akan menyebar luas dan mendorong transformasi kawasan perkotaan.

"Melihat dari efek berantainya, saya meyakini dampaknya besar sekali. Yang akan kita ubah dampaknya tidak terbatas pada hal yang terkait dengan transportasi itu sendiri. Tapi dia akan mengubah kotanya," tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News