Tren Kartu Pokémon Bangkit, Kolektor Ingatkan Risiko FOMO di Balik Potensi Cuan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren koleksi kartu Pokémon kembali memanas. Dalam dua tahun terakhir, perburuan kartu langka melonjak didorong efek nostalgia hingga masuknya kolektor bermodal besar. Nilainya pun tak main-main, dari jutaan hingga ratusan miliar rupiah untuk kartu tertentu.

Content creator sekaligus Pokémon Card Collector, Adipashya Yarzuq,  mengatakan dirinya mulai mengoleksi kartu Pokémon sejak 2021, sementara aktivitas membuat konten bertema Pokémon sudah ia mulai sejak 2019.

“Kalau koleksinya sendiri sebenarnya 2021. Kalau ngonten sendiri 2019,” ujar Adipashya atau  dikenal sebagai Falkro, saat dikonfirmasi, Kamis (30/4/2026).


Menurutnya, lonjakan minat terhadap kartu Pokémon mulai terasa kuat sejak akhir 2024, dipicu kombinasi efek nostalgia, masuknya influencer, serta meningkatnya partisipasi kolektor bermodal besar.

Baca Juga: Demam Pokémon Card, Pikachu Illustrator Jadi Aset Koleksi Bernilai Tinggi

Ia mengungkapkan, daya tarik utama kartu Pokémon bukan sekadar permainan, melainkan kombinasi nilai seni, kelangkaan, dan faktor nostalgia. Setiap kartu memiliki ilustrator berbeda, sehingga kolektor tidak hanya memburu karakter, tetapi juga karya seni di baliknya.

Fenomena ini mendorong pergeseran makna hobi. Koleksi kartu yang dulu identik dengan permainan anak-anak kini berkembang menjadi aset koleksi bernilai tinggi. Bahkan, satu kartu langka seperti Charizard edisi tertentu bisa dihargai Rp15 juta hingga Rp20 juta di pasar kolektor.

Lonjakan harga juga dipicu mekanisme pasar yang mirip barang koleksi lain. Produksi kartu yang terbatas dan siklus rilis berkala sekitar tiga bulan sekali membuat kartu lama cepat menjadi langka setelah tidak lagi dicetak (out of print).

Contoh ekstrem terlihat dari transaksi kartu “Pikachu Illustrator” yang sempat menjadi sorotan global setelah dibeli dan dijual kembali oleh Logan Paul dengan nilai mencapai ratusan miliar rupiah. Kartu tersebut tergolong sangat langka karena hanya diproduksi dalam jumlah terbatas sebagai hadiah kompetisi.

Falkro menambahkan, kendati menjanjikan potensi keuntungan, ia mengingatkan tren ini sarat risiko spekulasi. Ia menyoroti fenomena fear of missing out (FOMO) yang mendorong banyak orang masuk tanpa pemahaman memadai.

“Jangan sampai kemakan FOMO. Banyak yang ikut-ikutan karena lihat bisa cuan, padahal tidak paham. Ketika siklusnya turun, mereka panik,” katanya.

Ia menekankan, basis utama dalam mengoleksi tetap harus minat, bukan sekadar mengejar keuntungan. Tanpa fondasi tersebut, kolektor berisiko terjebak fluktuasi harga yang sangat dinamis di pasar sekunder.

Baca Juga: Pendapatan dan Laba Bersih Bumi Resources (BUMI) Kompak Meningkat di Kuartal I-2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: