Tren minyak tetap bullish



JAKARTA. Harga minyak masih bergerak dalam tren bullish. Hal ini dapat membawa penguatan harga setelah refrendum Brexit usai.

Mengutip Bloomberg, Kamis (23/6) pukul 19.30 WIB, harga minyak WTI kontrak pengiriman Agustus 2016 di New York Mercantile Exchange menguat 1,4% ke level US$ 49,85 per barel dibanding sehari sebelumnya.

Analis PT SoeGee Futures, Nizar Hilmy memaparkan, minyak akan kembali menyorot sentimen dari pasokan dan permintaan setelah gejolak pasar akibat isu Brexit mereda. Tekanan terhadap harga mungkin akan muncul mengingat beberapa negara mulai menaikkan angka produksi.


Seperti produksi minyak Kanada yang kembali pulih setelah kebakaran hutan hebat pada Mei lalu. Demikian juga dengan produksi Nigeria yang kembali bertambah setelah serangan kelompok militan sempat menekan produksi minyak. Anggota produsen OPEC yakni Iran dan Irak pun siap menggenjot angka produksinya.

Meski demikian, Nizar menilai prospek jangka menengah dan jangka panjang untuk minyak masih bullish. Pelaku pasar saat ini sudah tidak mencemaskan kondisi oversupply minyak. "Kekhawatiran kelebihan pasokan sudah berlalu dan ternyata tidak seburuk perkiraan," imbuhnya.

Di sisi lain, kekhawatiran perlambatan permintaan juga berkurang. Terbukti, China sebagai salah satu konsumen minyak terbesar di dunia masih terus meningkatkan konsumsi. Impor minyak China dalam lima bulan pertama tahun ini naik 16% dibanding periode sama tahun lalu. Dengan permintaan yang cukup baik, Nizar memprediksi harga minyak dapat mencapai US$ 60 per barel pada akhir tahun 2016.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie