Tren Penjualan Bisnis Pariwisata Diprediksi Turun pada Kuartal II, Ini Penyebabnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Memasuki periode kuartal II tahun 2026 bisnis pariwisata diprediksi mengalami penurunan. Ada sejumlah faktor yang menyebabkan tren penjualan bisnis pariwisata menurun.

Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI), Haryadi Kamdani mengatakan tren penjualan bisnis pariwisata pada kuartal II-2026 akan mengalami tantangan penuh. Salah satunya imbas konflik geopolitik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran. 

"Nah ini kuartal kedua ini apa terus terang penuh dengan tantangan. Karena di kuartal kedua ini kan kita kena imbas perang Iran ini loh," ujar Haryadi Kamdani saat dikonfirmasi Kontan, Jumat (27/3/2026).


Baca Juga: Kinerja Hero Global (HGII) Sepanjang 2025 Tertekan, Efek Kemarau Berkepanjangan

Haryadi menjelaskan salah satu dampaknya adalah terganggunya sistem penerbangan. Pasalnya, saat ini biaya avtur untuk penerbangan sudah melonjak jauh.

Lonjakan avtur disebabkan karena adanya kelangkaan minyak global. Sehingga, dengan melonjaknya harga avtur maka wisatawan mancanegara dipastikan tidak ingin lebih banyak bepergian lebih dulu.

"Nah bisa dibayangkan enggak bahwa avtur itu adalah apa namanya merupakan komponen 40% dari struktur biayanya penerbangan," kata Haryadi.

Dia turut membandingkan dengan negara tetangga Indonesia yang saat ini sudah menaikkan harga avtur, salah satunya adalah Singapura.

"Nah kalau harga tiket naik otomatis pergerakan wisatawan nusantara atau domestic travelers itu pasti akan terganggu gitu kan. Belum lagi kami bicara yang wisatawan mancanegara yang perjalanannya lebih jauh jam terbangnya kan," ucapnya.

Maka itu, Haryadi memastikan bahwa situasi global saat ini menjadi hal yang paling diwaspadai. Pasalnya, kondisi global saat ini sangat berdampak signifikan untuk bisnis pariwisata.

GIPI memastikan jika konflik geopolitik masih berlangsung, maka tren penjualan bisnis pariwisata pada momen kuartal II-2026 mengalami penurunan.

"Dengan mahalnya transportasi udara lalu daya beli juga nanti mungkin tergerus, nilai tukar kita juga kalau kondisinya terus melemah pasti akan menimbulkan banyak biaya-biaya tinggi ya nantinya ya," tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News