KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren penjualan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) ritel seri SR025 mencatatkan hasil positif memasuki pekan terakhir penawarannya. Head of PR & Corporate Communication Bibit.id, William, mengatakan, penjualan di Bibit sesuai dengan target yang ditentukan di awal. Permintaan untuk tenor 3 tahun lebih besar dengan perbandingan 4:1 dibandingkan yang tenor 5 tahun. Sebagai gambaran, kuota nasional untuk tenor 3 tahun memang lebih sedikit.
Namun, Bibit belum memaparkan jumlah penjualan terkini dan angka pastinya baru akan terlihat di akhir masa penawaran. “Biasanya menjelang akhir penawaran akan terjadi lonjakan permintaan,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (9/9/2026).
Baca Juga: Penjualan SR025 Tenor Lima Tahun Baru 48% dari Target, Tenor 3 Tahun Lebih Diminati Chief Operating Officer (COO), Bareksa Ni Putu Kurniasari mengatakan, per Selasa (9/9) pukul 11.00 WIB, total nilai pemesanan SR025 nasional telah mencapai Rp12,3 triliun, ini setara dengan 61,5% dari kuota nasional Rp20 triliun. Rinciannya untuk tenor 3 tahun (SR025T3) senilai Rp9,9 triliun dan Tenor 5 tahun atau SR025T5 senilai 2,3 triliun, terhitung sejak masa penawaran dibuka pada 21 Agustus lalu. Putu pun memaparkan beberapa faktor yang mendorong minat investor terhadap SR025. Pertama, kupon kompetitif dan tetap. SR025 menawarkan kupon 6,8% untuk tenor 3 tahun dan 6,9% untuk tenor 5 tahun. “Ini merupakan kupon Sukuk Ritel tertinggi sejak 2020. Kupon dibayarkan setiap bulan sehingga memberikan kepastian arus kas selama investor memegang hingga jatuh tempo,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (9/9/2026). Kedua, SR025 ditawarkan saat imbal hasil SBN masih tinggi. Data Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) per 8 September menunjukkan yield acuan SBN sekitar 6,84% untuk tenor 3 tahun dan 6,93% untuk tenor 5 tahun.
Baca Juga: Investor SR025 Tak Sekadar Kejar Imbal Hasil, Tenor Pendek Lebih Diminati “Dengan kupon 6,8% dan 6,9%, SR025 berada dekat dengan imbal hasil pasar pada tenor yang sebanding,” ungkapnya. Ketiga, investor mencari kepastian di tengah volatilitas pasar. Yield SBN 10 tahun masih berada di sekitar 7,08%, sementara yield US Treasury 10 tahun mendekati 4,8%. “Kombinasi ekspektasi suku bunga global, risiko inflasi, dan geopolitik membuat sebagian investor mencari instrumen dengan kupon tetap dan risiko penerbit yang lebih terukur,” katanya. Keempat, ada peluang likuiditas setelah minimum holding period. Setelah masa minimum holding period berakhir pada 11 Oktober 2026, SR025 dapat diperdagangkan di pasar sekunder. Kelima, momentum pasar domestik turut mendukung. Dalam beberapa hari terakhir, IHSG dan arus dana asing menunjukkan perbaikan, sementara yield SBN domestik lebih stabil dibanding tekanan pada obligasi global. “Akselerasi permintaan SR025 secara nasional sejalan dengan meningkatnya minat investor terhadap instrumen pendapatan tetap,” katanya. Keenam, peluang capital gain di pasar sekunder. Data PHEI menunjukkan SBN Ritel tradable seri ORI030-T3 diperdagangkan sekitar 100,57% dengan yield 6,68%, sedangkan ORI030-T6 sekitar 101,29% dengan yield 6,73%.
Baca Juga: SR025 Sudah Terjual Rp 12,73 Triliun, Masih Ada Sisa Kuota Rp 7,27 Triliun Harga di atas 100% mencerminkan bahwa kupon ORI030—masing-masing 6,9% dan 7%—lebih tinggi daripada yield yang diminta pasar saat ini. “Pola serupa dapat terjadi pada SR025 apabila yield tenor 3–5 tahun turun setelah penerbitan, meskipun hasil akhirnya bergantung pada permintaan, likuiditas, dan kondisi pasar sekunder,” ujarnya. Putu bilang, di Bareksa, SR025-T3 dengan tenor 3 tahun saat ini jauh lebih diminati dibanding SR025-T5. Pola ini sejalan dengan kecenderungan investor ritel memilih tenor lebih pendek karena memberikan fleksibilitas likuiditas dan komitmen investasi yang lebih singkat. Hingga saat ini, penjualan nasional telah mencapai sekitar 61,5% dari target, atau Rp12,3 triliun dari kuota Rp20 triliun. Dengan waktu penawaran tersisa sekitar satu pekan hingga 16 September 2026, transaksi dalam beberapa hari terakhir menunjukkan akselerasi. Jatuh tempo SR019-T3 pada 10 September 2026 juga berpotensi mendorong sebagian dana investor kembali masuk ke instrumen SBN Ritel SR025. Jika tren penjualan berlanjut hingga hari-hari terakhir, SR025 berpotensi mencapai penyerapan penuh. “Pemerintah juga dapat mempertimbangkan penambahan kuota, seperti yang pernah dilakukan pada beberapa seri SBN Ritel sebelumnya, tetapi keputusan tersebut sepenuhnya merupakan kewenangan pemerintah dan tidak dapat dipastikan sejak awal,” tuturnya. Untuk diketahui, Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan menetapkan besaran imbal hasil (kupon) SBN Ritel seri SR025 sebesar 6,80% dan 6,90% per tahun untuk tenor 3 dan 5 tahun.
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menargetkan dapat menghimpun dana sebesar Rp 20 triliun dari penerbitan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) ritel seri SR025. Kuota awal SR025-T3 dialokasikan sekitar tiga kali lipat lebih besar dibanding kuota untuk SR025-T5. SR025 ini ditawarkan pada tanggal 21 Agustus hingga 16 September 2026.
Baca Juga: SR025 Laku Rp 9 T Lebih, Cek Cara Investasi Sukuk Kupon 6,8%-6,9% Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News