Tren Perawatan Kulit dengan Memakai Jaringan Tisu dari Mayat Semakin Populer



KONTAN.CO.ID - SEOUL. Ada tren baru di dunia perawatan kecantikan. Berbagai klinik kecantikan di Seoul, Korea Selatan, kini banyak yang menawarkan perawatan kulit agar tampil awet muda dengan menggunakan penguat kulit Re20.

Re20 merupakan produk L&C Bio Co, perusahaan bioteknologi asal Korea Selatan. Re20 merupakan singkatan dari “Return to Your 20s”. Yang menarik, bahan baku Re20 bukanlah hal yang biasa.

Salah satu bahan baku obat tersebut adalah jaringan tisu mayat. Perawatan Re2O melibatkan penyuntikan vial 6 mililiter matriks ekstraseluler atau extracellular matrix (ECM), yang berasal dari kulit manusia yang diproses langsung ke wajah dan leher pasien.


Baca Juga: Setelah 15 Tahun, India Siapkan Comeback Formula 1 pada 2028

Cara kerja pengobatan ini juga berbeda dengan penguat kulit lainnya. Sebagian besar penguat kulit, seperti Rejuran, suntikan DNA salmon, atau Laetigen, perawatan kolagen babi, bekerja dengan memberikan senyawa yang merangsang produksi kolagen kulit sendiri.

Tetapi untuk pasien yang lebih tua, atau mereka yang wajahnya cekung setelah penurunan berat badan yang cepat akibat obat obesitas, kapasitas regeneratif tersebut terbatas.

Sementara, Re20 memberikan kerangka dermal instan yang mengisi garis-garis halus, mengencangkan pori-pori, dan menciptakan struktur tempat sel-sel tubuh sendiri dapat tumbuh.

Baca Juga: Jersey Final Piala Dunia 1958 Milik Pele Terjual Rp 87 Miliar dalam Sebuah Lelang

“Ketika Anda menyuntikkannya ke kulit yang menua atau rusak, Anda tidak merangsang tetapi membangun kembali, itulah sebabnya ini adalah pendekatan yang sama sekali berbeda,” papar  Kim Han-saem, Kepala Dermatolog Klinik Dermatologi DoD Seoul, seperti dikutip Bloomberg, Jumat (17/7/2026).

Menurut Kim, Re20 hanyalah jaringan kulit dengan semua sel yang dihilangkan untuk mencegah penolakan imun dan efek samping alergi.

Layanan ini ternyata sangat populer. Kim menuturkan, permintaan untuk perawatan ini telah melampaui kapasitas produksi sejak tahun lalu. Alhasil, kini beberapa pasien menunggu hingga satu bulan untuk mendapatkan janji temu.

Baca Juga: Warga Buenos Aires Dukung Pemain Argentina soal Spanduk Malvinas

Dokter kulit mengenakan biaya 600.000 won hingga 800.000 won, atau sekitar Rp 7,24 juta hingga Rp 9,65 juta, per sesi. Harga tersebut lebih tinggi dibandingkan penguat kulit konvensional, yang harga layanannya 200.000 won hingga 300.000 won per sesi.

Kulit yang digunakan dalam Re20 berasal dari jaringan yang disumbangkan di Amerika Serikat (AS) dan disertifikasi oleh Association for Advancing Tissue and Biologics (AATB) yang berbasis di Washington. Beberapa perusahaan Korea lainnya, termasuk Hans Biomed Corp. dan CG Bio Co., juga membuat penguat kulit yang berasal dari jaringan manusia bersertifikat AATB.

Perawatan serupa semakin populer di AS. Di negara ini, sebuah produk bernama Renuva menjadi viral di kalangan Hollywood, berdasarkan konsep yang sama.

Baca Juga: Trump Akan Hadiri Final Piala Dunia 2026 antara Spanyol VS Argentina

Bila Re2O berasal dari kulit donor, Renuva terbuat dari lemak manusia donor, yang kemudian diproses menjadi matriks yang dapat disuntikkan dan berfungsi sebagai kerangka bagi sel-sel lemak pasien sendiri. Selama beberapa bulan, sel-sel tersebut akan mengisi kembali area yang dirawat, mengembalikan volume tanpa operasi.

Seiring makin populernya perawatan menggunakan jaringan tisu orang yang sudah mati ini, bisnis produsen obat terkait juga makin moncer. “Kami menerima pertanyaan dari seluruh dunia, juga berkat booming K-beauty,” kata Lee Whan Chul, CEO L&C Bio Co.

L&C Bio Co sudah mengekspor Re20 ke negara lain, termasuk Singapura dan Jepang. Lee menyebut, perusahaan ini juga berencana memulai pengiriman ke Australia, Hong Kong, Malaysia, Rusia, dan Thailand tahun ini dan memasuki pasar AS tahun depan.

Baca Juga: Perusahaan AS Dikepung Lonjakan Serangan Siber, dari Nike hingga Anak Usaha Coca-Cola

Kinerja keuangan L&C Bio juga melesat. Laba operasi kuartal pertama meningkat 917% dari tahun sebelumnya menjadi 6 miliar won.

L&C Bio saat ini memproduksi sebanyak 80.000 vial Re2O per bulan. Perusahaan ini menargetkan bisa memproduksi 150.000 vial per bulan pada paruh kedua tahun ini dan 300.000 dalam beberapa tahun ke depan.

Menurut laporan Precedence Research, pasar produk anti-penuaan global diperkirakan akan hampir berlipat ganda menjadi US$ 150 miliar pada 2035. Asia akan memimpin ekspansi karena meningkatnya pendapatan, pengaruh media sosial, dan populasi yang menua dengan cepat, sehingga mendorong permintaan.

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, pada tahun 2050, 1 dari 5 orang di seluruh dunia, atau dan 1 dari 4 orang di kawasan Asia-Pasifik, akan berusia di atas 60 tahun.