Tren Positif Kinerja Emiten Nikel Berpotensi Lanjut pada 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mayoritas emiten produsen nikel telah mempublikasikan laporan keuangan tahun 2026 dengan hasil cukup positif. Hal ini menjadi modal berharga bagi mereka ketika memasuki 2026 yang mana harga komoditas nikel tengah berada dalam tren positif.

Salah satu emiten nikel, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) membukukan kenaikan pendapatan 4,18% year on year (yoy) menjadi US$ 990,19 juta pada 2025. Laba bersih tahun berjalan INCO juga tumbuh 31,68% yoy menjadi US$ 76,06 juta.

Selain itu, ada PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) yang juga meraih kenaikan penjualan 7,87% yoy menjadi Rp 1,58 triliun pada 2025, sedangkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 56,89% yoy menjadi Rp 574,39 miliar.


Baca Juga: OJK Ungkap Risiko Jangka Pendek Jika Bobot Indeks Saham Indonesia Turun

PT PAM Mineral Tbk NICL mencatat pertumbuhan penjualab 2,08% yoy menjadi Rp 1,47 triliun dan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk emiten ini naik 8,30% yoy menjadi Rp 344,45 miliar pada 2025. 

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) juga mencatat kenaikan kinerja pendapatan segmen nikel sebesar 56% yoy menjadi Rp 14,85 triliun pada 2025, di mana kontribusi segmen ini berada di level 18% dari total pendapatan perusahaan. 

Hanya PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) saja yang mengalami tekanan kinerja berupa penurunan pendapatan 22,28% yoy menjadi US$ 1,43 miliar pada 2025. Namun, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk MBMA masih bisa tumbuh 29,76% yoy menjadi US$ 29,56 juta.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty mengatakan, kenaikan kinerja emiten nikel memang cukup merefleksikan dinamika harga nikel global dan aktivitas operasional sepanjang tahun tersebut. Meski harga nikel sempat tertekan pada awal 2025 akibat oversupply, terutama dari Indonesia dan China, perbaikan harga pada paruh kedua serta efisiensi biaya dan peningkatan volume produksi mendorong pertumbuhan laba emiten seperti INCO, DKFT, dan NICL. 

Di samping itu, ANTM diuntungkan dari peningkatan penjualan bijih nikel domestik seiring masifnya proyek hilirisasi. "Penurunan kinerja MBMA menunjukkan bahwa eksposur terhadap harga jual dan struktur biaya masih menjadi faktor krusial," kata dia, Senin (6/4).

Arinda melanjutkan, prospek kinerja emiten nikel cenderung positif pada 2026 seiring dengan peningkatan harga nikel ke kisaran US$ 17.000 per ton yang didorong oleh potensi perbaikan permintaan produk stainless steel dan baterai kendaraan listrik. 

Namun, kinerja emiten produsen nikel bakal tetap dipengaruhi oleh faktor seperti stabilitas harga nikel global, kebijakan ekspor-impor, biaya energi, serta keberlanjutan proyek hilirisasi. "Tren hilirisasi diperkirakan semakin kuat karena margin yang lebih stabil dan nilai tambah yang lebih tinggi dibandingkan bisnis hulu," imbuh dia.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas David Kurniawan menilai, ketika harga nikel merangkak ke kisaran US$ 17.000--US$ 19.500 per ton, maka margin laba emiten di sektor tersebut diprediksi makin melebar. Emiten juga berpeluang meminimalisasi risiko volatilitas harga bijih nikel mentah ketika mampu menjalankan proyek hilirisasi komoditas tersebut.

Baca Juga: Kinerja Solid Siloam (SILO) Ditopang Efisiensi, Ini Rekomendasi Analis

Bagi emiten yang sudah memiliki fasilitas smelter sebagai bagian dari hilirisasi nikel, maka mereka wajib memperkuat integrasi fasilitas tersebut dengan area pertambangannya guna menekan biaya produksi di bagian hulu.

Di sisi lain, emiten produsen nikel juga perlu mewaspadai ancaman depresiasi kurs rupiah ke level Rp 17.000 per dolar AS. "Pelemahan kurs dapat membengkakkan biaya impor suku cadang dan logistik alat berat," ujarnya, Senin (6/4).

Menurut David, emiten produsen nikel yang berpeluang mencetak kinerja unggul pada 2026 adalah emiten yang memiliki biaya produksi terendah (low-cost producer) dan sudah memiliki kontrak penyerapan (offtake agreement) yang jelas dengan smelter atau produsen baterai global.

Sementara itu, Arinda berpendapat, emiten nikel yang berpeluang menjadi jawara pada 2026 adalah mereka yang memiliki model bisnis terintegrasi dari hulu ke hilir serta eksposur ke produk bernilai tambah tinggi seperti nickel matte atau bahan baku baterai. Pasalnya, produk di segmen hilir cenderung memiliki margin lebih stabil dan tidak terlalu sensitif terhadap fluktuasi harga bijih mentah. 

Tak hanya itu, emiten dengan efisiensi biaya tinggi, cadangan nikel besar, serta kemitraan strategis dengan perusahaan global juga akan lebih tahan banting dan mampu mencetak pertumbuhan yang lebih konsisten.

Secara sektoral, saham emiten nikel masih menarik untuk dipertimbangkan, terutama bagi investor dengan orientasi jangka menengah-panjang yang ingin memanfaatkan tema besar transisi energi dan kendaraan listrik. Namun, pemilihan saham harus selektif dengan fokus pada fundamental, struktur biaya, dan positioning di rantai nilai hilirisasi. 

Dari situ, Arinda merekomendasikan beli saham INCO dengan target harga di level Rp 7.800 per saham.

Di lain pihak, David menganggap sektor nikel cukup atraktif untuk investasi jangka menengah seiring narasi energi hijau. Saham ANTM dipandang cukup menarik seiring pertumbuhan kinerja segmen nikel yang agresif. Saham INCO juga dapat dijadikan pilihan bagi investor berkat keunggulan efisiensi operasional.

Opsi menarik juga tertuju pada saham MBMA dan NICL. MBMA punya potensi pemulihan kinerja pasca investasi besar, sedangkan MBMA memiliki data tarik berkat kinerja bisnis hulu nikel yang sangat konsisten.

Baca Juga: Rupiah Tertekan, BI Disarankan Perkuat Intervensi di Pasar Valas

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News