Tren Suku Bunga Tinggi Akan Tambah Biaya Usaha Korporasi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memperkirakan, suku bunga kebijakan global masih akan berada dalam tren tinggi dalam waktu yang lebih lama dari perkiraan (higher for longer). 

Dalam Buku Kajian Stabilitas Keuangan yang diluncurkan Oktober 2023, tren suku bunga tersebut diyakini memberi risiko terhadap utang luar negeri (ULN) korporasi. 

Hanya saja, BI menegaskan risiko ULN korporasi tersebut akan terbatas. Ini mengingat, jenis suku bunga mayoritas ULN masih didominasi oleh suku bunga tetap (fixed rate). 


Baca Juga: Aset Safe Haven dan Minyak Masih Akan Jadi Andalan pada 2024

Ekonom Bank Danamon Irman Faiz mengingatkan, tren suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama dari perkiraan akan memberi tambahan beban bagi korporasi. 

"Dengan suku bunga yang higher for longer, maka biaya kredit akan meningkat. Pada akhirnya akan meningkatkan biaya usaha," terang Faiz kepada Kontan.co.id, Minggu (29/10). 

Untuk menghindari risiko, Faiz mengingatkan korporasi harus lebih cermat dalam mengelola utangnya. 

"Pengelolaan utang yang baik diperlukan untuk menghindari gagal bayar dan risiko nilai tukar serta risiko maturitas," jelasnya. 

Ini bisa dilakukan dengan memperhatikan karakter utang korporasi, apakah dalam jangka pendek maupun panjang. 

Baca Juga: Tren Suku Bunga Tinggi, Waspada Utang Korporasi

Kemudian, apakah utang dicatat dalam valuta asing atau dalam rupiah, juga disandingkan dengan penerimaan utama dalam rupiah atau valuta asing. 

Salah satu hal yang juga mungkin dilakukan korporasi dalam jangka pendek adalah dengan mengalihkan utang ke dalam rupiah, agar lebih murah. 

Terutama bila memang penerimaan utama korporasi adalah dalam rupiah. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Handoyo .